Trifting, Gaya Hidup Baru Anak Muda Banjarmasin
Foto Ilustrasi - Aktivitas Trifting di Banjarmasin yang biasa ramai di hari Minggu. (Foto - M.Irfani).
Di antara deretan toko kecil, lapak daring, dan unggahan media sosial, tren trifting perlahan menemukan tempatnya di Banjarmasin. Sebagai kota yang dikenal dengan pasar terapung dan denyut Sungai Martapura in, Banjarmasin kini juga menyimpan geliat gaya hidup baru, berburu barang bekas berkualitas dengan rasa “baru”.
Trifting atau membeli pakaian atau barang secondhand, justru tak lagi identik dengan keterbatasan. Bagi banyak anak muda Banua, trifting justru menjadi cara mengekspresikan diri.
Jaket denim lawas, kemeja motif jadul, hingga sepatu yang sudah melewati beberapa musim, kini tampil percaya diri di kafe, kampus, hingga acara komunitas.
Fenomena ini tumbuh seiring perubahan cara pandang. Barang bekas tidak lagi dilihat sebagai sisa, melainkan sebagai pilihan. Ada cerita di baliknya, ada keunikan yang tak bisa ditemukan di rak toko modern.Inilah yang membuat Trifting sangat beda.
Sebenarnya, praktik membeli barang bekas bukan hal asing di Banjarmasin. Sejak lama, masyarakat terbiasa berbagi dan memakai ulang barang. Namun, trifting versi hari ini memiliki warna berbeda. Ia dipengaruhi media sosial, budaya visual, dan kesadaran lingkungan.
Dulu di Banjarmasin kita mengenal pasar loak legenda “Kasbah”. Namun tren penjualan sekarang berbeda, karena yang dipasarkan sebagian besar adalah branded dan berkualitas. Jika beruntung pembeli bisa mendapatkan barang bagus dengan harga terjangkau.
Instagram dan TikTok berperan besar membentuk selera. Konten mix and match pakaian trift, tips berburu barang unik, hingga cerita “harta karun” dari lapak kecil membuat aktivitas ini terasa menyenangkan. Tak jarang, satu jaket bekas justru terlihat lebih “hidup” daripada pakaian baru yang seragam.
Di Banjarmasin, trifting juga menjawab kebutuhan ekonomi. Harga yang lebih terjangkau membuat konsumen bisa tampil gaya tanpa harus menguras dompet. Bagi mahasiswa dan pekerja muda, ini adalah solusi yang realistis.

Peluang Usaha di Kota Sungai
Di sisi lain, trifting membuka peluang usaha yang menarik. Banyak pelaku UMKM mulai merintis bisnis pakaian bekas dengan pendekatan kreatif. Mereka tak sekadar menjual, tetapi mengkurasi. Setiap barang dipilih, dicuci, difoto dengan rapi, lalu dipasarkan lewat media sosial atau bazar komunitas.
Modal yang relatif ringan menjadi daya tarik. Yang dibutuhkan justru ketekunan dan kepekaan membaca selera pasar lokal. Gaya kasual tropis, pakaian nyaman untuk aktivitas harian, hingga busana unik untuk nongkrong sore di tepi sungai, menjadi incaran.
Trifting pun menjadi ruang pertemuan antara penjual dan pembeli yang memiliki kesadaran serupa: ingin tampil beda, hemat, dan lebih bertanggung jawab.
Di balik popularitasnya, trifting membawa pesan yang lebih dalam. Industri fesyen dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar. Memakai ulang barang berarti memperpanjang siklus hidupnya dan mengurangi beban lingkungan.
Bagi sebagian warga Banjarmasin, terutama generasi muda, ini menjadi bentuk kontribusi kecil yang nyata. Pilihan berpakaian bukan hanya soal gaya, tetapi juga sikap.
Tentu, tantangan tetap ada. Stigma barang bekas, kualitas yang tak selalu seragam, hingga persaingan dengan produk murah masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, seperti aliran Sungai Martapura yang tak pernah berhenti, trifting terus bergerak, menemukan jalannya sendiri.
Di kota ini, trifting bukan sekadar tren sesaat. Trifting pun tumbuh menjadi bagian dari gaya hidup urban Banua yang sederhana, kreatif, dan penuh cerita.(Muhammad Irfani).
