Yogyakarta, Tirto Raharjo, dan Sepenggal Cerita di Antara Agenda
Foto Ilustrasi - Wisatawan menikmati suasana siang di Candi Tirto Raharjo Resto, menikmati kue tradiosional Yogjakarta. (Foto - Risanta).
Oleh: Muhammad Risanta
Yogyakarta memang tak pernah kehabisan cerita. Setiap sudutnya seperti menyimpan ingatan, setiap langkah terasa akrab, seolah kota ini selalu punya cara sendiri untuk menyapa siapa pun yang datang. Setidaknya, itu yang masih membekas di benak penulis usai perjalanan sepekan lalu, di sela padatnya agenda Gathering Media OJK se-Kalimantan.
Di tengah jadwal yang rapat dan diskusi-diskusi serius seputar literasi keuangan, Yogyakarta justru menawarkan jeda. Jeda untuk bernapas. Jeda untuk kembali mengingat bahwa perjalanan bukan semata soal tujuan, melainkan juga pengalaman yang mengisi ruang-ruang sunyi di kepala.
Dari Malioboro yang tak pernah kehilangan denyutnya, candi-candi bersejarah yang mendunia, hingga kuliner Jogja yang selalu berhasil menggoda lidah, Yogyakarta seolah menegaskan identitasnya sebagai kota yang merangkul siapa saja.Yogyakarta menyatukan kita semua.
Namun, di antara destinasi populer itu, ada satu tempat yang menghadirkan cerita berbeda lebih personal, lebih sunyi, namun justru terasa hangat, Candi Tirto Raharjo.
Berbeda dengan candi-candi peninggalan kerajaan masa lampau, Tirto Raharjo bukanlah situs purbakala. Ia adalah candi buatan, hasil karya seorang seniman Yogyakarta bernama Timbul.
Candi ini lahir dari kisah sederhana namun sarat makna sebuah persembahan cinta untuk sang istri. Dari cinta itulah, bangunan ini kemudian tumbuh menjadi ruang bersama, ruang yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga hidup dan bermanfaat.So sweet dan romantisme.

Langkah pertama memasuki area Tirto Raharjo, suasana asri langsung menyambut. Pepohonan rindang berdiri teduh, udara terasa sejuk, dan ornamen-ornamen seni Jawa hadir tanpa kesan dipaksakan. Di sinilah, candi tak lagi berdiri sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai latar kehidupan masa kini.
Kini, Tirto Raharjo difungsikan sebagai tempat meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Di tempat ini, rapat penulis dan teman-teman Jurnalis tak melulu soal angka dan grafik. Diskusi terasa lebih cair, makan malam terasa lebih khidmat, dan pertemuan terasa lebih manusiawi semuanya berlatar candi yang berdiri anggun.
Tak heran jika tempat ini kerap dipilih untuk berbagai acara pernikahan, private dinner, hingga pertemuan keluarga. Salah satu daya tariknya adalah panggung pernikahan berlatar candi, lengkap dengan alunan gamelan dan kolam di depannya yang menghadirkan gemericik air. Tanpa dekorasi berlebihan, panggung itu sudah tampak megah, cukup bunga, janur, dan sentuhan alam.Hem, cukup membawa kita dalam lembaran sejarah cerita.
Di sela aktivitas, restoran Tirto Raharjo menjadi ruang singgah yang menyenangkan. Menu Nusantara dengan kekayaan rempah, hingga hidangan Western, tersaji dalam ruang bernuansa Jawa yang kental. Pendopo kayu, kursi rotan, meja marmer bundar, serta lukisan-lukisan klasik di dinding seakan mengajak pengunjung berdialog dengan budaya.
Yang membuat pengalaman makan di sini terasa “mahal” bukan semata soal harga, yang justru terbilang terjangkau,melainkan sensasi menikmati hidangan dengan latar candi. Sesuatu yang jarang, bahkan nyaris tak ditemukan di tempat lain.

Nah bagi yang ingin berlama-lama, Tirto Raharjo juga menyediakan penginapan bernama Tirto Raharjo 01 Ethnic Wooden Villa. Masih satu area dengan candi, penginapan ini menawarkan kemudahan mobilitas tanpa harus bergantung pada kendaraan. Cukup berjalan kaki, dan semua kebutuhan terasa dekat.
Lokasinya pun strategis. Malioboro, Tugu Jogja, UGM, ISI Yogyakarta, hingga pusat transportasi publik dapat dijangkau dengan relatif mudah. Namun lebih dari itu, menginap di sini menawarkan pengalaman tinggal 24 jam di dekat candi, sebuah kemewahan kecil yang jarang disadari nilainya.Penulis sendiri berharap suatu hari bisa menginap disini.
Tirto Raharjo membuktikan satu hal sederhana, karya yang dibuat dengan hati akan selalu menemukan jalannya ke hati orang lain. Dari ukiran seni Jawa, tata ruang outdoor dan semi-indoor yang fleksibel, hingga filosofi pemiliknya yang ingin berbagi manfaat dengan sekitar, semuanya menyatu tanpa terasa dibuat-buat.
Di antara agenda Gathering Media OJK se-Kalimantan yang sarat substansi, Tirto Raharjo hadir sebagai ruang jeda. Ruang untuk merenung, mengendapkan pikiran, dan kembali menyadari bahwa perjalanan,seperti halnya hidup selalu menyimpan cerita kecil yang justru paling membekas.
Yogyakarta, sekali lagi, tak sekadar memberi tujuan. Ia memberi pengalaman. Dan Tirto Raharjo, dengan segala kesederhanaan dan kisah cintanya, menjadi salah satu halaman yang layak diingat dalam perjalanan itu.

