Taman Ramah Lansia, Ruang Kota yang Belum Sepenuhnya Hadir

0
PA MUNIR DI TAMAN 2

Foto Ilustrasi - Penulis (berkacamata) sedang menikmati kopi dan berdiskusi ringan dengan koleganya di Taman.(Foto - Dok Risanta).

Oleh : Abdul Munir

Di sudut-sudut kota, para lansia kerap mencari ruang sederhana untuk beristirahat dari hiruk pikuk hidup yang telah mereka jalani puluhan tahun. Bukan ruang mewah, bukan pula pusat keramaian yang riuh, melainkan taman yang teduh, bangku yang nyaman, jalur pejalan kaki yang aman, dan suasana yang tenang. Ruang-ruang seperti inilah yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dasar lansia di kota.

Banjarmasin memiliki sejumlah ruang publik yang dikenal luas.Sebut saja Siring Tendean, kawasan Nol Kilometer, Taman Kamboja, hingga Siring Balai Kota. Tempat-tempat ini hidup, ramai, dan menjadi ikon kota. Namun pertanyaannya, apakah ruang-ruang tersebut benar-benar ramah bagi lansia?

Di Siring Tendean dan Nol Kilometer, denyut kota terasa kuat. Anak muda berolahraga, keluarga berwisata, pedagang kaki lima berderet, musik dan suara kendaraan saling bersahutan.

Lansia tentu tetap hadir di sana, namun sering kali hanya sebagai penonton. Bangku yang terbatas, jalur pejalan kaki yang panjang tanpa tempat rehat, serta minimnya area teduh membuat mereka cepat lelah. Bagi lansia yang ingin sekadar duduk membaca buku atau berbincang santai dengan teman seusia, suasana ini kerap terasa terlalu bising dan melelahkan.

Taman Kamboja menawarkan nuansa yang sedikit berbeda. Pepohonan tua dan ruang hijau memberi rasa sejuk dan nostalgia. Namun, kembali muncul persoalan klasik, fasilitas yang belum sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan lansia.

 

Penulis bersama teman semasa kuliah menyempatkan waktu duduk santai di sebuah taman. (Foto – Dok Risanta).

Bangku tanpa sandaran, jalur yang tidak rata, serta kurangnya pencahayaan di sore menjelang malam membuat taman ini belum sepenuhnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi mereka yang berjalan lebih pelan dan membutuhkan stabilitas.

Siring Balai Kota Banjarmasin juga menyimpan potensi besar sebagai taman ramah lansia. Lokasinya strategis dan relatif lebih tertata. Namun, konsep ruang publiknya masih lebih condong pada aktivitas serba cepat: jogging, bersepeda, dan acara seremonial. Ruang hening untuk duduk lama, membaca buku, atau berbincang santai tanpa gangguan masih terasa minim.

Padahal, kehadiran taman ramah lansia bukan sekadar soal fasilitas fisik. Ia adalah wujud penghormatan kota kepada warganya yang telah melewati usia produktif. Lansia membutuhkan ruang untuk tetap merasa menjadi bagian dari kehidupan sosial, berbagi cerita, menjaga kesehatan mental, dan merawat ingatan kolektif kota.

Taman ramah lansia seharusnya menyediakan bangku ergonomis dengan sandaran, jalur landai yang aman, pencahayaan lembut, area teduh yang cukup, serta suasana yang tenang.

Lebih dari itu, ia memberi rasa diterima bahwa kota ini tidak hanya milik yang muda dan kuat, tetapi juga milik mereka yang berjalan pelan dengan pengalaman hidup yang panjang.

Banjarmasin telah memiliki ruang-ruang publik yang indah. Tantangannya kini adalah menjadikannya lebih manusiawi dan inklusif. Ketika lansia dapat duduk tenang membaca buku di tepi siring, bercengkerama tanpa rasa lelah, dan menikmati angin sungai dengan nyaman, saat itulah kota benar-benar hadir untuk semua usia.

*Penulis adalah Seorang Budayawan – Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!