Sungai Lulut Terendam Alarm Banjir Regional Banjarmasin

0
BANJIR SUNGAI LULUT 1

Kampung mereka terendam banjir, membuat anak-anak kawasan Sungai Lulut memanfaatkan untuk bermain air. (Foto - Tim Diskominfotik Banjarmasin).

Air selalu datang lebih dulu ke Sungai Lulut. Saat hujan mengguyur dan sungai pasang, kawasan di timur Banjarmasin ini kembali menjadi yang pertama terendam.Hal ini seolah memberi peringatan dini bahwa krisis banjir sedang bergerak dari hulu ke kota.

Sabtu (03/01/2026), genangan air di RT 08 RW 01 Sungai Lulut Dalam telah mencapai hampir setengah lutut orang dewasa. Aktivitas warga melambat, rumah-rumah mulai terisolasi, dan jalur lingkungan berubah menjadi lorong air. Banjir kali ini bukan kejutan, melainkan pengulangan dari pola lama yang terus berulang.

Hal inilah yang membuat Wali Kota Banjarmasin H M Yamin HR bereaksi. Yamin pun turun langsung ke lokasi. Di hadapan warga, ia menegaskan bahwa Sungai Lulut bukan sekadar titik banjir lokal, melainkan simpul masalah regional.

“Sungai Lulut ini menerima air kiriman dari hulu, terutama Martapura dan Kabupaten Banjar. Kalau di sini sudah penuh, Banjarmasin tinggal menunggu giliran,” ujar Yamin.

 

Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR menyapa warga Sungaii Lulut. (Foto – Tim Diskominfotik Banjarmasin).

Secara geografis, Sungai Lulut berada di garis depan aliran air kawasan Banjar Bakula. Air dari daerah hulu hampir pasti melewati wilayah ini sebelum menyebar ke kawasan lain seperti Pemurus Baru hingga Jalan Pramuka.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin, Husni Thamrin, menyebut Sungai Lulut sebagai titik krusial yang setiap tahun menjadi indikator awal banjir kota.

“Kalau Sungai Lulut mulai terendam, itu tanda ancaman banjir akan meluas. Ini bukan masalah satu kelurahan, tapi sistem sungai bersama,” katanya.

Banjir dan Tata Ruang yang Terlambat

Di lapangan, sedikitnya 15 kepala keluarga atau 39 jiwa telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Sebuah mushola dengan elevasi lebih tinggi difungsikan sebagai tempat pengungsian sementara.

Bantuan logistik disalurkan, sementara dapur umum disiapkan untuk menghadapi genangan yang belum bisa dipastikan kapan surut.

Namun di balik respons darurat, persoalan lebih besar mengemuka: tata kelola.(Ridzky Husna).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!