Smart FM Banjarmasin, Ketika Suara Itu Memilih Senyap
Foto Ilustrasi - Aktivitas siaran Radio Smart FM Banjarmasin.
Tepat 31 Desember 2025, Smart FM,radio berita swasta pertama di Banjarmasin resmi turun dari udara. Kabar ini mengejutkan banyak pihak. Sejak berdiri pada 1997, Smart FM bukan sekadar media elektronik, melainkan penanda zaman, ruang belajar jurnalisme, simpul diskusi publik, dan rujukan informasi terpercaya di Kalimantan Selatan.
Gelombang digitalisasi dan perubahan pola konsumsi media memang tak terelakkan. Radio, surat kabar, hingga media besar satu per satu tumbang. Namun bagi pendengar setia yang akrab disapa Smart People dan Smart Listener berakhirnya siaran Smart FM adalah kehilangan emosional. Suara yang selama puluhan tahun menemani pagi, siang, dan malam, kini benar-benar senyap.
Dari radio inilah lahir banyak talenta dan tokoh pers,sebut saja Muhammad Risanta (Jurnalis Senior CNN Indonesia dan Ahli Pers Dewan Pers), Anang Fadilah (Ketua SMSI Kalsel sekaligus Pemimpin Redaksi Barito Post), Riswan Irfani (Guru SMAN 2 Banjarmasin), Rofi Zardaida (Eka Armain/Eka Shanty), Rahmi Indah Wati, Juma, Eva, hingga Halimah yang kini berkiprah sebagai wirausaha. Smart FM adalah sekolah, bukan sekadar tempat kerja.
Program-program seperti Smart Etnik yang mengangkat kearifan lokal, Smart Morning Post, dan Jurnal 9 menjadi jejak kuat komitmen pada jurnalisme berkualitas dan isu-isu daerah. Semua kini tinggal kenangan, seiring langkah memasuki 2026 tanpa gelombang suara Smart FM.
Didirikan oleh Fachri Moehammad, perjalanan Smart FM bermula dari akuisisi PT Radio Elektronika Gajah Mada pada pertengahan 1997, yang kemudian mengantarkan Smart Radio Network mengudara di Banjarmasin.
Dari lantai V Hotel Istana Barito (kini Hotel Arya Barito), berpindah ke kawasan Ahmad Yani Km 4,5, hingga menetap di lantai 5 Gedung Banjarmasin Post setelah bergabung dengan Grup Kompas, setiap fase mencerminkan daya juang bertahan di tengah perubahan zaman.
Sejumlah penggiat radio dan insan pers Julak Sukma, Jhonson Marzuki, hingga Syahriyanto Elshinta menyatakan duka dan keprihatinan. Penutupan Smart FM juga menjadi bagian dari fenomena yang lebih luas: jaringan KGRN (Sonora, Smart, dan Motion) yang rata-rata menghentikan siaran menjelang akhir tahun.
Smart FM kini memang diam. Namun jejaknya tetap hidup dalam ingatan pendengar, etos kerja para alumninya, dan sejarah media Kalimantan Selatan. Suara boleh berhenti, tetapi warisan intelektual dan moralnya akan terus bergema.(Muhammad Risanta).

