Ekonomi, SDM, dan Energi Tahun Kuda Api
Foto Ilustrasi - Prediksi Perekonomian Indonesia menjadi topik menarik menyongsong tahun 2026. (Foto- Redaksi).
Stabilitas yang Tidak Boleh Terjebak Status Quo
Oleh: Muhammad Risanta, SE, MM
Menutup tahun 2025, perekonomian Indonesia menghadirkan satu capaian penting yang perlu kita simak dan kaji.Apa itu ? Adalah stabilitas berhasil dijaga di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda.
Pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran lima persen, inflasi terkendali, nilai tukar relatif stabil, dan pasar keuangan menunjukkan sentimen positif. Dalam literatur makroekonomi, kondisi ini mencerminkan keberhasilan macroeconomic management terutama dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, pertumbuhan, dan kepercayaan pasar.
Namun, sebagaimana dikemukakan Joseph Stiglitz, stabilitas makro hanyalah necessary condition, bukan sufficient condition, bagi pembangunan jangka panjang. Di sinilah refleksi akhir tahun menjadi penting. Pertanyaan yang harus dijawab bukan lagi apakah ekonomi stabil, melainkan apakah stabilitas tersebut cukup kuat untuk mendorong transformasi struktural dan peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Secara agregat, capaian 2025 memang impresif. Produk domestik bruto (PDB) nominal melampaui 1.300 miliar dolar AS, sementara berdasarkan paritas daya beli Indonesia berada di jajaran delapan besar ekonomi dunia. Pendapatan per kapita meningkat dan mendekati ambang negara berpendapatan menengah atas. Inflasi tetap dalam sasaran bank sentral, cadangan devisa berada di level aman, dan neraca perdagangan mencatat surplus berkelanjutan.

Dalam perspektif teori pertumbuhan neoklasik, stabilitas ini menunjukkan berfungsinya instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara relatif efektif. Namun teori pembangunan modern mengingatkan bahwa pertumbuhan berbasis faktor produksi semata memiliki batas. Tanpa peningkatan produktivitas dan kualitas institusi, ekonomi berisiko terjebak dalam middle income trap.
Dari sisi kualitas pertumbuhan, indikator sosial menunjukkan perbaikan. Tingkat pengangguran menurun, partisipasi angkatan kerja meningkat, kemiskinan dan kemiskinan ekstrem terus ditekan, serta ketimpangan pendapatan mulai membaik.
Hal ini sejalan dengan pendekatan inclusive growth yang menekankan bahwa pertumbuhan harus memberi manfaat luas, bukan hanya terkonsentrasi pada segelintir sektor dan wilayah.
Namun di balik indikator tersebut, persoalan struktural masih nyata. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN utama. Transformasi industri bernilai tambah belum merata, sementara ketimpangan antarwilayah tetap menjadi masalah klasik.
Dalam terminologi ekonomi pembangunan, pertumbuhan yang terjadi masih terlalu bertumpu pada konsumsi dan komoditas, belum sepenuhnya bergeser ke basis inovasi dan teknologi.
Peran negara sepanjang 2025 terlihat melalui kebijakan yang relatif adaptif. Stimulus daya beli, dukungan terhadap UMKM dan sektor padat karya, deregulasi perizinan, serta percepatan investasi menjadi bantalan penting di tengah tekanan global. Dari sudut pandang kebijakan publik, langkah ini mencerminkan pendekatan counter-cyclical yang tepat.
Namun kritik tetap relevan. Pertumbuhan lima persen, meski stabil, secara matematis belum cukup untuk mengejar ketertinggalan struktural yang menumpuk selama puluhan tahun.
Dalam kerangka teori endogenous growth, kunci lompatan bukan pada besaran belanja atau investasi semata, melainkan pada kualitas sumber daya manusia (SDM), inovasi, dan akumulasi pengetahuan.

Memasuki 2026, simbolisme Tahun Kuda Api menjadi relevan sebagai metafora pembangunan. Kuda Api kerap dimaknai sebagai energi, keberanian, dan daya dorong. Dalam konteks ekonomi, ini berarti keberanian untuk keluar dari zona nyaman stabilitas dan mengambil keputusan struktural yang sering kali tidak populer tetapi diperlukan.
Tantangan utama 2026 bukan lagi sekadar menjaga angka pertumbuhan, melainkan memastikan transformasi ekonomi benar-benar terjadi. Ekonomi harus bergerak menuju struktur yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Di sinilah kesiapan SDM menjadi faktor penentu.
Teori human capital yang dikemukakan Gary Becker menegaskan bahwa investasi pada manusia adalah pendidikan, keterampilan, dan kesehatan, merupakan sumber utama pertumbuhan jangka panjang.
Indonesia memiliki bonus demografi, tetapi tanpa kualitas, bonus ini berisiko berubah menjadi beban. Kesenjangan keterampilan, rendahnya literasi digital, dan lemahnya keterkaitan antara pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi persoalan serius.
Dalam simbolisme budaya, emas sering dipahami sebagai penarik rezeki dan kemajuan. Dalam perspektif ekonomi, emas seharusnya dimaknai sebagai kualitas, kualitas SDM, kualitas institusi, dan kualitas kebijakan. Emas tidak bernilai karena jumlahnya semata, tetapi karena proses, ketahanan, dan kepercayaan yang menyertainya. Demikian pula pembangunan ekonomi.
Dari sudut pandang akademisi, agenda kebijakan 2026 harus lebih tegas menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas utama. Reformasi pendidikan dan vokasi perlu diarahkan pada relevansi, bukan sekadar perluasan akses. Pelatihan berbasis kebutuhan industri, peningkatan literasi teknologi, dan penguatan soft skills harus menjadi arus utama kebijakan.
Dari perspektif jurnalis ekonomi, tantangan berikutnya adalah memastikan kebijakan tersebut tidak berhenti pada dokumen perencanaan. Dunia usaha harus dilibatkan secara nyata dalam pengembangan SDM.
Pemerintah pusat dan daerah perlu disinergikan agar pembangunan manusia tidak kembali terpusat. Kebijakan ketenagakerjaan harus adaptif terhadap disrupsi teknologi tanpa mengorbankan perlindungan pekerja.
Optimisme memasuki 2026 tetap rasional. Indonesia memiliki modal stabilitas, basis demografi yang kuat, dan peluang besar dalam ekonomi digital dan hijau. Energi Tahun Kuda Api seharusnya menjadi simbol keberanian untuk melakukan koreksi arah dan percepatan reformasi, bukan sekadar slogan pergantian kalender.
Akhirnya, refleksi 2025 memberi satu pesan penting adalah stabilitas adalah prasyarat, tetapi keberanian adalah kunci. Tanpa keberanian, stabilitas hanya akan menjadi status quo yang meninabobokan.
Dengan keberanian, stabilitas dapat menjadi pijakan lompatan. Indonesia memasuki 2026 dengan bekal yang cukup. Masa depan akan ditentukan oleh pilihan hari ini dan seberapa serius bangsa ini menempatkan SDM sebagai inti strategi pembangunan ekonominya.

