Cerita Indah Perjalanan Panjang Menuju Sekumpul

0
TIM WARTAWAN UTAMA

Foto Ilustrasi - Salah satu Posko Singgah yang menjadi tempat beristirahat dan makan serta minum. (Foto - Tim Redaksi).

Di Momen 5 Rajab, jalan-jalan di Kalimantan tak lagi sekadar aspal dan debu. Tetapi menjelma menjadi ruang berbagi, tempat keikhlasan berjalan beriringan dengan langkah para jemaah yang menuju Sekumpul.

Di sepanjang ruas jalan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Timur, tangan-tangan terbuka menyapa tanpa tanya. Ada nasi bungkus dan air mineral yang dibagikan gratis. Ada kopi panas untuk menghangatkan tubuh yang lelah.

Ada bensin gratis di tengah malam, ojek gratis di persimpangan sepi, servis motor gratis di bawah tenda sederhana. Bahkan, ada uang transport yang diselipkan diam-diam ke telapak tangan jemaah tanpa kamera, tanpa nama, tanpa ingin dikenal.

 

Tim Economic Travelling.Com saat mampir ke Posko Singgah 8, Landasan Ulin , Banjarbaru. (Foto – Olpah Sari).

Tak ada baliho besar, tak ada panggung. Yang ada hanya niat.

Di tepi jalan, seorang jemaah duduk bersandar, membuka nasi bungkus yang baru diterimanya. Ia tak banyak bicara. Matanya berkaca-kaca. Perjalanan jauh telah menguras tenaga, tetapi kepedulian orang-orang yang tak dikenalnya mengisi ulang semangatnya. Di Momen 5 Rajab, lelah terasa ringan karena cinta dibagi tanpa hitung.

Yang lebih menggetarkan, banyak jemaah memilih cara-cara yang tak lazim untuk sampai ke Sekumpul. Ada yang berjalan kaki dari kampung halaman yang jauh, menyusuri siang dan malam dengan doa sebagai bekal. Ada rombongan yang berkendara dari Sumatera, menyeberang pulau dan laut demi satu tujuan menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul.

Mereka tak datang untuk dilihat. Mereka datang karena rindu. Rindu kepada sosok ulama kharismatik, Abah Guru Sekumpul, yang ajarannya tak hanya hidup di mimbar, tetapi tumbuh di perilaku umatnya. Rindu yang membuat jutaan orang rela meninggalkan kenyamanan rumah, menempuh perjalanan panjang, dan menerima segala keterbatasan dengan senyum.

 

Gubernur Kalsel H Muhidin mengapresiasi kesiapan Posko V Momen 5 Rajab milik Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel. (Foto.MC Kalsel).

Di sinilah Momen 5 Rajab memperlihatkan wajah lain agama yang hidup dalam tindakan. Ketika berbagi menjadi bahasa yang dipahami semua orang. Ketika keikhlasan menjelma menjadi energi yang menggerakkan banyak pihak tanpa komando, tanpa panitia tunggal.

Haul Guru Sekumpul selalu dipenuhi jutaan jemaah, datang dari berbagai kota, provinsi, bahkan negara. Namun yang paling berkesan bukanlah jumlahnya. Yang membekas adalah cara umat ini saling menjaga. Saling menguatkan. Saling memastikan tak ada yang berjalan sendirian.

Di jalan-jalan itu, semua belajar bahwa ibadah tak berhenti di tempat tujuan. Ia hidup di setiap langkah, di setiap uluran tangan, di setiap senyum yang tak meminta balasan.

Dan ketika akhirnya Sekumpul terlihat di kejauhan, banyak jemaah tahu satu hal, mereka sampai bukan hanya karena kuat, tetapi karena banyak hati yang ikut mengantarkan.

Itulah Momen 5 Rajab. Bukan sekadar perjalanan menuju Sekumpul, melainkan perjalanan manusia menuju sesama dengan cinta, keikhlasan, dan keberkahan.(Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!