2026 Meratus Menyapa dan Menunggu Dunia
Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan, sisi lain terindah dari Geopark Meratus. (Foto - Tim Redaksi).
Pegunungan Meratus membentang sunyi di jantung Kalimantan Selatan. Hutan hujan tropis, alur sungai purba, dan budaya lokal yang masih hidup menyatu dalam lanskap yang nyaris tak tersentuh. Dunia telah mengakuinya melalui status UNESCO Global Geopark, namun pengakuan itu baru langkah awal, bukan garis finis.
Karena butuh kerja keras bagi Kalimantan Selatan, khususnya sektor pariwisata untuk mendatangkan wisatawan sebanyak mungkin dan pengelolaan destinasi wisatanya yang berkualitas.
“Pengakuan dunia tidak otomatis mendatangkan wisatawan,Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan setelahnya.”” ujar Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Kalimantan Selatan itu, dalam wawancara khusus dengan Economic Travelling.Com.
Menjelang 2026, Antonius melihat pariwisata Indonesia berada pada fase krusial. Pemulihan pascapandemi berjalan, tetapi kompetisi global semakin agresif. Banyak negara tidak menunggu, mereka bergerak cepat, berani, dan masif.
Indonesia, menurutnya, masih sering terjebak pada euforia potensi. Padahal, pasar pariwisata global menuntut lebih dari sekadar keindahan alam. Ia menuntut narasi kuat, akses mudah, pelayanan profesional, dan pengalaman yang berkelas.
“Kita sering berkata ‘Indonesia indah’. Dunia sudah tahu itu. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap menerima mereka dengan standar global?” katanya.

Kalimantan Selatan Kaya Potensi, Miskin Kunjungan
Antonius berbicara lugas ketika menyinggung Kalimantan Selatan. Daerah ini, kata dia, memiliki semua elemen destinasi kelas dunia. Namun angka kunjungan wisatawan mancanegara belum mencerminkan kekayaan tersebut.
“Kalsel punya sungai, budaya Banjar, pasar terapung, hingga Meratus yang unik secara geologi dan ekologi. Tapi promosi kita belum terkonsep, konektivitas terbatas, dan produk wisata belum dikemas sebagai pengalaman utuh,” ujarnya saat wawancara khusus dengan Tim Economic Travelling.Com.
Status Meratus UNESCO Global Geopark seharusnya menjadi pemicu perubahan. Bukan sekadar label prestisius, tetapi kerangka kerja global yang menuntut pengelolaan berkelanjutan, edukatif, dan berorientasi internasional.
“Kalau Geopark hanya jadi spanduk, kita kehilangan kesempatan emas,” tegas Antonius.
Ia menilai Meratus memiliki daya tarik yang sejalan dengan tren wisata global. Wisata berbasis alam, edukasi, petualangan, dan keberlanjutan menjadi magnet baru pascapandemi. Namun tanpa akses yang memadai, SDM terlatih, dan promosi agresif, peluang itu akan berlalu.
Belajar dari China Pariwisata sebagai Investasi
Dalam pandangan Antonius, Indonesia perlu belajar dari negara yang memandang pariwisata sebagai investasi strategis. Tiongkok menjadi contoh nyata.
Negara itu pernah mencatat puncak kunjungan wisatawan mancanegara pada 2017 dengan sekitar 42,9 juta kunjungan. Pandemi menjatuhkan angka tersebut hampir ke titik nol. Namun pemulihan pascapandemi dilakukan dengan cepat dan terukur.
“Kebijakan bebas visa, pembukaan rute penerbangan, dan promosi besar-besaran mereka lakukan tanpa ragu,” katanya lagi.
Hasilnya terlihat. Pada 2024, Tiongkok kembali mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisman, dan tren positif berlanjut hingga 2025. Bagi Antonius, pesan dari China jelas. Pariwisata tidak bisa dikelola setengah hati.

Pariwisata Berkualitas, Bukan Sekadar Ramai
Indonesia, menurut Antonius, sebenarnya telah berada di jalur strategis yang tepat. Fokus pada pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, pengembangan destinasi super prioritas, desa wisata, serta prinsip blue, green, dan circular economy adalah fondasi kuat.
Namun ia mengingatkan, strategi nasional harus diterjemahkan serius di daerah.
“High quality tourism bukan slogan. Itu berarti pengalaman wisata harus bernilai, berdampak, dan meninggalkan kesan mendalam,” ujarnya.
Di Meratus, pendekatan ini sangat relevan. Ekowisata, wisata minat khusus, dan keterlibatan masyarakat lokal dapat menjadi kekuatan utama jika dikelola dengan benar.
Meratus dan Pertaruhan 2026
Menatap 2026, Antonius optimistis sekaligus waspada. Ia percaya Kalimantan Selatan masih memiliki waktu untuk berbenah. Namun waktu itu tidak panjang.
“Meratus bisa menjadi ikon baru pariwisata Indonesia di mata dunia. Tapi dunia tidak akan menunggu,” ucap pria yang juga seorang Tour Guide spesialis Bahasa Jerman.
Baginya, pariwisata adalah kerja kolektif. Pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media harus bergerak dalam satu narasi besar.
“Kalau kita serius, dunia akan datang. Kalau tidak, Meratus akan tetap indah, tetapi sepi,” tutup Antonius.(Olpah Sari).
