Refleksi Dunia Melayu Dunia Islam
Presiden Dunia Melayu Dunia Islam, Tuan Yang Terutama Tun Seri Setia Dr H Mohd Ali Bin Mohd Rustam, saat mengunjungi Banjarmasin dalam rangkaian pelantikan Pengurus Dunia Melayu Dunia Islam Kalsel, yang dipimpin H Ibnu Sina (Kala itu Wali Kota Banjarmasin.).
Jejak Sejarah, Ikatan Iman, dan Cita Peradaban
Di sepanjang jalur angin musim yang menggerakkan layar perahu dari Gujarat hingga Selat Malaka, sejarah Dunia Melayu sesungguhnya telah ditulis jauh sebelum peta modern mengenal batas negara. Di wilayah inilah, Islam datang bukan dengan pedang, melainkan dengan akhlak; bukan dengan penaklukan, melainkan dengan keteladanan.
Sejak abad ke-15, Dunia Melayu menjelma menjadi ruang peradaban yang menyatukan bahasa, adat, dan iman, sebuah dunia yang kelak dikenal sebagai Dunia Melayu Dunia Islam.
Melayu bukan sekadar identitas etnis. Melayu itu adalah peradaban. Dan Islam bukan sekadar agama. Ia adalah jalan hidup. Ketika keduanya bertemu, lahirlah satu ikatan yang tak terpisahkan.
“Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah,” bukan sekadar pepatah, melainkan fondasi sosial, politik, dan budaya yang mengatur denyut kehidupan masyarakat Melayu dari Aceh hingga Banjar, dari Melaka hingga Brunei.
Islam menyebar di Alam Melayu melalui perdagangan, pendidikan, dan perkawinan. Para saudagar dan ulama membangun masjid bersisian dengan pelabuhan. Bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa ilmu dan dakwah, ditulis dalam aksara Jawi, menjangkau istana hingga kampung-kampung di tepian sungai.

Dari sinilah berdiri kerajaan-kerajaan Islam Melayu klasik,Malaka, Aceh Darussalam, Johor-Riau, Banjar, yang bukan hanya pusat kekuasaan, tetapi pusat keilmuan dan peradaban Islam di Asia Tenggara.
Namun sejarah tidak selalu berjalan lurus. Kolonialisme memecah wilayah, memisahkan bangsa, dan mereduksi peradaban menjadi batas-batas administratif. Dunia Melayu yang dahulu satu bentang peradaban, tercerai menjadi negara-negara modern. Ikatan sejarah dan iman kerap tersisih oleh politik dan kepentingan jangka pendek. Dalam konteks inilah, kesadaran untuk kembali merajut persaudaraan Melayu-Islam menemukan momentumnya.
Konon di tahun 2000 di Melaka, kota tua saksi kejayaan Islam Melayu—lahirlah Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Bukan sebagai organisasi yang berteriak lantang, tetapi sebagai wadah yang berbisik tentang ingatan sejarah, tentang ikatan yang tak pernah benar-benar putus.
DMDI hadir untuk menyambung kembali benang-benang peradaban yang tercerai, menyatukan masyarakat Melayu-Islam lintas negara, lintas benua, dan lintas generasi.
DMDI bertolak dari keyakinan bahwa Islam adalah ruh kebudayaan Melayu, dan Melayu adalah wajah Islam yang ramah, santun, dan beradab. Dalam setiap konvensi internasionalnya, DMDI tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan, terutama tentang ekonomi umat, pendidikan generasi muda, pelestarian budaya, serta peran Melayu-Islam dalam percaturan global yang semakin kompleks.
Di Indonesia, DMDI menemukan rumahnya di wilayah-wilayah yang secara historis adalah jantung peradaban Melayu-Islam. Dari Riau hingga Kalimantan, dari pesisir Sumatera hingga bantaran sungai Barito, DMDI tumbuh sebagai gerakan kultural dan intelektual.
Organisasi ini pun mendorong kebangkitan ekonomi berbasis umat, menghidupkan kembali tradisi keilmuan, serta mengajak generasi muda mengenal jati diri mereka sebagai bagian dari peradaban besar.

Kalimantan Selatan, tanah Banjar, memiliki posisi istimewa dalam narasi ini. Sejak Kesultanan Banjar berdiri pada abad ke-16, Islam telah menjadi penyangga utama identitas masyarakatnya. Ulama dan umara berjalan beriringan, sungai menjadi jalur dakwah, dan masjid menjadi pusat kehidupan sosial. Dalam konteks kekinian, di bawah kepemimpinan Haji Ibnu Sina, semangat merawat identitas Melayu-Islam menemukan ruang aktualisasinya.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dan nilai tradisi. Budaya Banjar tidak ditempatkan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai untuk masa depan.
Sekarang DMDI di Kalimantan Selatan bergerak di ruang itu, yang mentransformasikan menghubungkan sejarah dengan pembangunan, iman dengan kesejahteraan, dan budaya dengan ekonomi kreatif.
Menatap 2026, tantangan DMDI bukanlah romantisme sejarah semata, melainkan bagaimana menjadikan nilai-nilai Melayu-Islam relevan dalam dunia digital, ekonomi global, dan masyarakat multikultural.
Pariwisata religi, ekonomi halal, pendidikan peradaban, dan penguatan peran generasi muda menjadi kata kunci. Kalimantan Selatan berpeluang menjadi simpul penting DMDI di Kalimantan, sebuah wilayah yang menyimpan memori peradaban sekaligus potensi masa depan.
Pada akhirnya, Dunia Melayu Dunia Islam adalah tentang perjalanan panjang sebuah peradaban yang tidak pernah benar-benar usang. Ia hidup dalam bahasa yang kita ucapkan, dalam adat yang kita jaga, dan dalam iman yang kita wariskan.
DMDI mengingatkan kita bahwa menjadi Melayu adalah menjaga akhlak, dan menjadi Muslim adalah memuliakan peradaban. Di antara arus zaman yang kian deras, DMDI berdiri sebagai penanda bahwa sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dituturkan kembali, agar masa depan tahu dari mana ia berasal. (Muhammad Risanta).

