Balogo dan Tanggung Jawab Merawat Ingatan Kolektif Banua
Foto Ilustrasi - Seorang Wisatawan mancanegara mencoba permainan rakyat Kalsel, Balogo di sebuah perkampungan Banjar. (Foto - Tim Redaksi).
Festival Balogo Provinsi Kalimantan Selatan 2025 yang digelar di Anjungan Kalsel, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan penanda bahwa permainan rakyat layak ditempatkan sebagai bagian dari strategi kebudayaan, bukan sekadar romantisme masa lalu.
Di tengah dominasi gim digital dan perubahan pola hidup masyarakat, kehadiran Balogo di panggung nasional menjadi ikhtiar merawat ingatan kolektif Banua (daerah).
Dalam khazanah folklor Banjar, Balogo dikenal sebagai permainan rakyat yang telah hidup sejak lama, jauh sebelum olahraga modern diperkenalkan.
Sejumlah catatan budaya lokal termasuk dalam tulisan-tulisan etnografi Banjar dan dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan,menyebut Balogo sebagai permainan masyarakat agraris dan sungai.
Logo yang digunakan awalnya dibuat dari tempurung kelapa, kayu keras seperti ulin, atau bambu, sementara panapak berfungsi sebagai alat pelontar. Permainan ini lazim dimainkan di halaman rumah, lapangan tanah, hingga bantaran sungai, terutama selepas musim panen atau pada acara hajatan kampung.
Lebih dari sekadar hiburan, Balogo memiliki fungsi sosial yang kuat. Dalam tradisi lisan Banjar, permainan ini menjadi ruang belajar nilai-nilai hidup, ketepatan mengambil keputusan, pengendalian emosi, sportivitas, dan kebersamaan.
Sejumlah budayawan Banjar, seperti yang tercatat dalam kumpulan esai kebudayaan Kalimantan Selatan era 1980–1990-an, menempatkan Balogo sejajar dengan permainan rakyat lain seperti bagasing dan balapung, sebagai wahana pembentukan karakter masyarakat Banua sejak usia dini.
Namun, modernisasi membawa konsekuensi. Permainan rakyat perlahan tersisih oleh keterbatasan ruang bermain, perubahan gaya hidup, dan penetrasi teknologi digital. Balogo pun mengalami nasib serupa,bertahan di kantong-kantong komunitas tertentu, tetapi makin jarang dijumpai di ruang publik.

Di titik inilah kehadiran negara menjadi penting. Festival Balogo di Jakarta menunjukkan keberpihakan simbolik sekaligus politis bahwa warisan budaya lokal tidak boleh dibiarkan tenggelam oleh zaman.
Redaksi memandang, Balogo sejatinya memiliki potensi lebih besar. Ia dapat dikembangkan sebagai olahraga rekreasi yang murah dan inklusif, muatan lokal di sekolah, hingga bagian dari ekonomi kreatif berbasis budaya.
Sejumlah daerah di Indonesia telah membuktikan bahwa permainan rakyat bisa diangkat menjadi atraksi wisata dan identitas daerah jika dikelola secara konsisten. Kalimantan Selatan memiliki modal sejarah, narasi folklor, dan basis komunitas yang cukup untuk melakukan hal serupa.
Karena itu, Festival Balogo semestinya menjadi awal dari kebijakan yang berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu mendorong dokumentasi sejarah Balogo secara sistematis—melalui arsip budaya, penelitian akademik, dan pencatatan folklor,serta pembinaan komunitas dan turnamen rutin. Tanpa langkah lanjutan, Balogo berisiko kembali menjadi artefak budaya yang hanya muncul dalam momentum tertentu.
Pada akhirnya, merawat Balogo berarti merawat identitas. Ia bukan sekadar permainan, melainkan jejak peradaban masyarakat Banjar yang hidup dari nilai kebersamaan dan ketekunan.
Ketika Balogo tampil di Jakarta, yang sesungguhnya diuji bukan hanya kemampuan sebuah permainan rakyat bertahan, melainkan kesungguhan Banua menjaga warisan dan memperkenalkannya dengan percaya diri kepada generasi masa depan.(Tim Redaksi).
