Pekan AKSEL 2025, Ujian Digitalisasi Bank Kalsel
Foto Ilustrasi - Salah atu pengunjung berada di depan stan UMKM dalam Pekan Aksel 2025. (Foto - Risanta).
Oleh : Muhammad Risanta SE MM
Transformasi digital bukan lagi sekadar istilah buzzword dalam perbankan daerah. Ia telah menjadi tekanan strategis yang menentukan kelangsungan relevansi bank pembangunan daerah (BPD) di tengah gempuran bank besar dan fintech.
Dalam konteks ini, Pekan AKSEL 2025 yang digagas Bank Kalsel merupakan lebih dari sekadar kampanye pemasaran produk digital, namun adalah tes nyata implementasi kebijakan digitalisasi yang diprioritaskan otoritas keuangan.
Untuk BPD, digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi soal perubahan fundamental fungsi sebagai motor inklusi dan intermediasi keuangan di daerah.
Menerjemahkan Kebijakan Nasional ke Realitas Lokal
Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah lama menempatkan transformasi digital sebagai arah kebijakan strategis untuk sektor perbankan, termasuk BPD. BI mendorong perluasan QRIS sebagai pintu masuk utama transaksi non-tunai yang efisien dan inklusif.
OJK menekankan literasi digital serta perlindungan konsumen sebagai fondasi utama agar digitalisasi tidak sekadar diadopsi, tetapi dipahami dan dimanfaatkan secara luas.
Pekan AKSEL mengambil mandat ini dan memindahkannya ke level yang lebih aplikatif dari kebijakan makro menjadi user journey masyarakat, mengajak mereka menggunakan aplikasi AKSEL dan QRIS dalam keseharian transaksi. Bank Kalsel tidak lagi menunggu adopsi diri dari pasar; ia memasuki arena publik untuk mengakselerasi perubahan perilaku.

Strategi Bank Kalsel menempatkan aplikasi AKSEL di jantung Pekan AKSEL. Ambisi tersebut bukan tanpa risiko, teknologi tanpa adopsi berarti investasi tak bermakna. OJK telah berkali-kali mengingatkan bahwa digital banking yang berkelanjutan harus didukung dengan literasi, keamanan, dan rasa percaya masyarakat terhadap ekosistem digital perbankan.
Pekan AKSEL menempatkan masyarakat dalam lingkungan belajar yang mengurangi ketakutan awal terhadap digital banking sekaligus memberi pengalaman konkrit manfaat transaksi digital—suatu pendekatan edukatif yang jauh lebih efektif ketimbang kampanye pemasaran konvensional.
Program ini juga selaras dengan agenda formalitas ekonomi daerah. QRIS, sebagai standar kode QR nasional, tidak hanya mempermudah transaksi UMKM, tetapi juga membuka jejak digital yang penting untuk penilaian kelayakan kredit, perencanaan bisnis, dan integrasi keuangan formal. Di banyak wilayah lain, BPD telah memanfaatkan QRIS untuk memperkuat posisi mereka dalam ekosistem digital.

Kita bisa melihat bagaimana Bank Jateng bersama BI meluncurkan KKI QRIS untuk mempercepat digitalisasi pembayaran pajak dan retribusi daerah, yang pada gilirannya meningkatkan efisiensi layanan publik dan pendapatan asli daerah.
Demikian pula Bank BPD Bali memperluas layanan QRIS antarnegara untuk memfasilitasi wisatawan internasional, yang sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Bali melalui kemudahan transaksi digital.
BPD DIY dan Bank BJB melalui aplikasi digital dan ekspansi merchant QRIS, mencatat transaksi digital yang sangat signifikan year-to-date, memperlihatkan bahwa transformasi digital di BPD lain tidak sekadar slogan.
Pembandingan ini menunjukkan bahwa pekan digital seperti AKSEL bukan anomali, tetapi bagian dari tren adaptif BPD di seluruh Indonesia. Bank Kalsel beroperasi dalam korelasi yang semakin jelas, yang inovatif bukan hanya bertahan, tetapi menjadi relevan di komunitasnya.
Dari Bank Konvensional ke Agen Perubahan Digital
Dalam lanskap kompetisi yang semakin tajam, bank besar unggul modal, sedangkan fintech unggul kecepatan inovasi. BPD tidak dapat meniru kedua strategi itu secara langsung. Mereka harus memaksimalkan keunggulan struktural mereka, yakni kedekatan kultural dengan komunitas lokal dan kapabilitas dalam menyalurkan dampak kebijakan.
OJK sejak lama memandang BPD bukan sekadar pelaksana operasional, tetapi sebagai katalis pertumbuhan ekonomi regional,yang harus mampu mengintegrasikan kekuatan digital tanpa kehilangan identitas lokal.
Dalam kerangka ini, Pekan AKSEL adalah upaya terukur untuk mentransformasikan bank tradisional menjadi hub layanan keuangan digital yang dekat, cepat, dan kontekstual.
Momentum, Bukan Sekadar Momen
Pekan AKSEL 2025 membuka babak baru dalam perjalanan Bank Kalsel-menempatkan bank daerah sebagai ujung tombak perubahan perilaku ekonomi masyarakat ke arah cashless society.
Namun momentum ini harus dijaga dengan kebijakan pasca-event yang tegas, literasi digital berkelanjutan, jaminan keamanan sistem, dan dukungan ekosistem agar adopsi digital terus berkembang.
Relevansi Bank Kalsel ke depan akan ditentukan bukan oleh seberapa gemilang sebuah event, tetapi seberapa mendalam perubahan perilaku masyarakat terhadap digital banking dan transaksi non-tunai.
Dalam persaingan sistem keuangan yang semakin digital, Bank Kalsel harus memastikan dirinya tidak hanya ikut–ikutan, tapi menjadi pionir digitalisasi yang dipandu oleh kebijakan dan kebutuhan lokal yang real.
Jika konsistensi ini terjaga, Pekan AKSEL 2025 tidak hanya menjadi highlight event, tetapi akan dikenang sebagai titik balik dalam sejarah transformasi perbankan daerah Indonesia.

