Mengapa Pinjaman Daring di Kalsel Melonjak Tajam ?
Karikatur Ilustrasi - Aktivitas masyarakat memanfaatkan kemudahan meminjam dana melalui pinjaman daring.
OJK Ungkap Indikator dan Tantangan Baru
Aktivitas pinjaman daring sepanjang 2025 di Kalimantan Selatan menunjukkan peningkatan tajam. Otoritas Jasa Keuangan Kalsel mencatat outstanding pembiayaan fintech mencapai Rp958 miliar atau tumbuh lebih dari 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini menandai perubahan signifikan dalam pola pembiayaan masyarakat sepanjang tahun.
Kepala Kantor OJK Kalsel, Agus Maiyo, menyebut peningkatan pesat ini terjadi karena perubahan kebutuhan finansial masyarakat yang semakin mengarah pada layanan cepat berbasis digital.
Agus mengatakan layanan pinjaman daring menjadi pilihan ketika masyarakat memerlukan akses pendanaan yang lebih sederhana.
“Pertumbuhan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh perilaku ekonomi yang berubah cepat. outstanding pembiayaan meningkat signifikan dan mencapai Rp958 miliar. meski meningkat tinggi, kondisi risiko masih terkendali dengan tingkat wanprestasi 90 hari berada di angka dua persen,” terangnya dalam Media Update di penghujung tahun 2025, Rabu (10/12/2025).
Agus Maiyo menyebutkan fenomena ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk modal usaha kecil, kebutuhan rumah tangga, hingga kebutuhan mendesak yang menuntut proses pencairan cepat.

“Banyak pelaku UMKM dan pekerja sektor informal beralih ke platform digital karena tidak membutuhkan agunan dan proses verifikasinya jauh lebih singkat dibanding lembaga keuangan konvensional,”jelasnya lagi.
Digitalisasi yang merata di Kalsel menjadi faktor lain yang mendorong lonjakan permintaan. Penggunaan aplikasi keuangan semakin akrab dalam aktivitas ekonomi harian masyarakat.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa layanan keuangan berbasis teknologi telah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru di berbagai kabupaten dan kota.
Lonjakan pinjaman daring juga dipengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat yang meningkat terhadap platform berizin. Sepanjang tahun, OJK Kalsel menggelar 88 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 18 ribu peserta di 13 kabupaten dan kota.
Edukasi ini mendorong masyarakat lebih berhati-hati memilih layanan, lebih memahami risiko, serta mampu membedakan fintech legal dan ilegal. Selain itu, sebanyak 14.487 permintaan informasi SLIK diproses OJK sepanjang 2025, mencerminkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk menilai kelayakan kredit sebelum mengajukan pinjaman.
Meski pertumbuhan pinjaman daring terlihat positif, OJK menilai dinamika tersebut membawa tantangan baru. Pertumbuhan permintaan yang besar dapat membuka ruang bagi pemain ilegal yang memanfaatkan celah literasi. Kondisi ini menuntut pengawasan lebih ketat dan kolaborasi lebih kuat antara regulator, lembaga keuangan, dan pemerintah daerah.
OJK Kalsel menegaskan komitmennya menjaga keamanan konsumen dan stabilitas sektor jasa keuangan. Agus menekankan pentingnya literasi yang berkelanjutan untuk memastikan masyarakat tetap terlindungi.
“OJK akan terus mengintensifkan edukasi dan memperkuat pengawasan agar pertumbuhan pinjaman daring berlangsung sehat dan tidak menimbulkan risiko baru di kemudian hari,” tambahnya.
Pertumbuhan pesat pembiayaan digital di Kalsel mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat memenuhi kebutuhan ekonominya. Dengan pengawasan yang terarah, literasi yang kuat, dan inovasi layanan keuangan yang inklusif, lonjakan ini dapat menjadi peluang mempercepat inklusi keuangan sekaligus menjaga stabilitas keuangan daerah.(Olpah Sari).
