Menanamkan Seni Budaya Banjar bagi Anak Muda
Foto Ilustrasi - Salah atraksi seni budaya Banjar, Tari Japin. (Foto - Risanta).
Oleh: Abd Munir
Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan provinsi yang tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menyimpan khazanah budaya yang luar biasa. Dari tepian sungai Martapura hingga perkampungan di Pegunungan Meratus, denyut tradisi dan seni masyarakat Banjar masih terasa hidup. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya global, seni budaya Banjar menghadapi tantangan serius: bagaimana menanamkan nilai dan kecintaan terhadap warisan leluhur ini pada generasi muda.
Suku Banjar merupakan penduduk asli dominan di Kalsel, berdampingan dengan suku Dayak dan sejumlah komunitas pendatang seperti Jawa, Madura, dan Sunda. Dalam kehidupan sehari-hari, budaya Banjar hadir melalui berbagai bentuk: bahasa, kesenian, tradisi keagamaan, arsitektur rumah panggung, hingga tata cara bermasyarakat.
Seni budaya Banjar sangat beragam. Ada Madihin, seni bertutur dan berpantun yang sarat nasihat. Ada Baasih-asihan dan Panting, musik tradisional dengan irama khas Banjar. Di bidang tari, terdapat Tari Radap Rahayu, Tari Baksa Kembang, serta Tari Topeng Banjar yang menggambarkan kelembutan sekaligus semangat hidup masyarakat Banjar. Dalam dunia sastra lisan, cerita rakyat seperti Putri Junjung Buih menjadi simbol nilai kesetiaan dan kebijaksanaan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2023 mencatat sedikitnya 26 karya budaya Banjar telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional. Di antaranya Madihin, Wayang Gung, Sasirangan, Kain Tenun Pagatan, dan Tari Baksa Kembang. Ini bukti bahwa seni budaya Banjar diakui secara nasional dan patut dijaga keberlanjutannya.

Tantangan di Era Digital dan Globalisasi
Namun, di balik kebanggaan itu tersimpan tantangan besar. Survei Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pelajar SMA di Banjarmasin tidak mampu menyebutkan tiga kesenian tradisional Banjar secara lengkap. Hal ini mengindikasikan adanya jarak antara generasi muda dan akar budayanya.
Arus budaya global yang masuk lewat media sosial dan hiburan digital membuat anak muda lebih mengenal K-pop, musik barat, atau game daring dibanding seni Madihin atau panting. Modernisasi memang tak bisa dihindari, namun bila tidak dibarengi dengan edukasi budaya yang kuat, maka nilai-nilai kearifan lokal akan terkikis perlahan.
Upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya Banjar harus dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan budaya lokal perlu mendapat porsi yang lebih besar dalam kurikulum, bukan hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga praktik dan pengalaman langsung.
Program seperti Madihin Masuk Sekolah atau Banjarmasin Sasirangan Festival yang rutin digelar di Banjarmasin bisa menjadi contoh baik. Anak-anak tidak hanya belajar sejarah budaya, tetapi juga ikut menari, membuat kain sasirangan, atau berlatih pantun Madihin. Interaksi langsung seperti ini lebih efektif dibanding pembelajaran teoretis.
Selain itu, peran komunitas seni dan pemerintah daerah sangat penting. Komunitas seperti Sanggar Anjir Serapat, Sanggar Rintis Banua, dan Komunitas Madihin Banjarbaru telah berperan aktif menghidupkan seni tradisi lewat festival, pelatihan, dan pementasan.
Pemerintah provinsi juga dapat memperkuat dukungan dengan memberikan insentif atau hibah bagi pelaku seni lokal yang mengembangkan inovasi berbasis budaya Banjar.
Digitalisasi Budaya Banjar: Menyapa Generasi Z
Anak muda Banjar saat ini adalah generasi digital. Karena itu, strategi pelestarian budaya pun harus bertransformasi. Digitalisasi karya budaya menjadi langkah cerdas untuk menjembatani tradisi dan teknologi.
Beberapa seniman muda Banjar sudah memulai langkah kreatif ini. Kanal YouTube “Banua Kreatif” misalnya, memproduksi konten Madihin modern dan tutorial membuat kain Sasirangan dengan gaya vlog. Di media sosial, muncul tren Sasirangan Fashion Challenge yang menggabungkan unsur budaya dan gaya hidup kekinian.
Langkah seperti ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku. Justru dengan kemasan digital, seni tradisi bisa menjangkau audiens lebih luas tanpa kehilangan jati diri.

Pada akhirnya, menanamkan seni budaya Banjar bagi anak muda bukan sekadar menjaga tradisi agar tetap hidup, tetapi juga membangun rasa bangga terhadap identitas daerah. Ketika anak muda Banjar mengenal dan mencintai budayanya, mereka tidak akan mudah kehilangan arah di tengah derasnya arus modernisasi.
Sebagaimana pepatah Banjar mengatakan, “Sakali air bah, sakali tapian barubah.” Artinya, perubahan adalah keniscayaan, tetapi akar tradisi mesti tetap dijaga agar identitas Banjar tidak hanyut oleh zaman.
Menanamkan seni budaya Banjar berarti menanamkan nilai, sopan santun, gotong royong, religiusitas, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini adalah fondasi moral yang tak lekang oleh waktu, bekal penting bagi generasi muda Kalsel untuk menatap masa depan dengan tegak, tanpa melupakan asal-usulnya.

