Sinyal Kuat Kebangkitan Ekonomi Syariah
Karikatur Ilustrasi - Dok Redaksi.
Satu tahun sudah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berjalan. Dalam waktu yang relatif singkat, arah kebijakan ekonomi mulai menunjukkan hasil nyata, terutama di sektor keuangan syariah. Salah satu buktinya datang dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang tampil gemilang sepanjang 2025.
Hingga triwulan III tahun ini, BSI mencatat laba bersih Rp5,57 triliun. Angkanya tumbuh dobel digit dan di atas rata-rata industri. Tidak hanya besar secara nominal, tapi juga sehat secara kualitas. Aset naik 12%, dana pihak ketiga naik 15%, dan yang menarik — porsi dana murah (CASA) mencapai hampir 60%. Ini tanda bahwa kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah makin tinggi.
Kinerja impresif BSI tidak muncul tiba-tiba. Pemerintahan Prabowo memang memberi ruang besar bagi tumbuhnya ekonomi syariah.
Salah satu kebijakan strategisnya adalah pendirian Bank Emas Indonesia pada Februari 2025. Langkah ini menjadi katalis luar biasa bagi BSI karena emas kini bukan hanya aset investasi, tapi juga sumber pembiayaan dan tabungan.
Selain itu, penurunan BI Rate dan penempatan dana SAL Rp10 triliun ke perbankan syariah membuat likuiditas lebih longgar. Uang berputar lebih cepat, pembiayaan makin ekspansif, dan dampaknya terasa ke UMKM, sektor konsumer, hingga proyek hilirisasi.
Emas Jadi Bintang Baru
Sektor emas benar-benar menjadi mesin penggerak utama BSI tahun ini.
Pembiayaan emas tumbuh 72,82%, dengan cicil emas naik 106% dan gadai emas naik 44%. Ini pertumbuhan yang fantastis.
Kebijakan pemerintah mendirikan Bank Emas ternyata memberi efek domino. Masyarakat kini melihat emas bukan hanya sebagai tabungan, tapi juga alat untuk meningkatkan kesejahteraan. Bahkan, produk Tabungan Emas BSI kini memiliki 200 ribu rekening aktif dengan saldo kelolaan lebih dari satu ton.
Tak heran, pertumbuhan ini juga mendorong pembiayaan konsumer BSI naik 15%. Ekonomi syariah kini bergerak bukan hanya di ranah spiritual, tapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Transformasi Digital yang Berbuah
BSI juga sukses memanfaatkan momentum digitalisasi. Pengguna BYOND by BSI melonjak 164% menjadi lebih dari 5 juta user.
Jaringan ATM, QRIS, dan agen syariah juga berkembang pesat, membuat layanan perbankan makin mudah dijangkau hingga ke pelosok.
Tak hanya untuk nasabah kota besar, BSI bahkan meluncurkan Salam Digital, portal pembiayaan mikro berbasis online yang membuka akses permodalan bagi pelaku UMKM. Dampaknya, pembiayaan sektor UMKM naik menjadi Rp50 triliun, sementara rasio inklusi makroprudensial tetap sehat di kisaran 34%.
Artinya, BSI tidak hanya besar di angka, tapi juga kuat dalam pemerataan ekonomi.
BSI kini bukan sekadar bank syariah, melainkan simbol perubahan. Ia menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan ekonomi “alternatif”, melainkan bagian dari arus utama ekonomi nasional.
Tantangannya ke depan adalah menjaga momentum agar pertumbuhan ini tidak hanya bersifat sesaat.
BSI perlu memperkuat pembiayaan sektor produktif, memperluas literasi keuangan syariah, dan menjaga tata kelola agar tetap transparan dan efisien. Dengan cara itu, bank syariah bisa menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Satu tahun pemerintahan Prabowo memberi pesan penting: ketika kebijakan fiskal dan moneter bersinergi, dan ekonomi syariah diberi ruang tumbuh, hasilnya bisa sekuat ini.
BSI menjadi bukti bahwa ekonomi syariah bukan lagi pelengkap, tapi penggerak utama ekonomi bangsa.(Tim Redaksi).
