Konvensyen DMDI, Menyatukan Semangat Melayu-Islam Menuju Peradaban Global
Rombongan DMDI Kalsel melakukan lawatan ke Melaka dan diterima langsung Presiden DMDI, Tun Seri Setia H Moch Ali Bin Moch Rustam.
Oleh : Muhammad Risanta SE MM
Dari tahun ke tahun, Konvensyen Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) selalu menjadi ruang pertemuan yang hangat — bukan hanya antara pemimpin dan cendekia, tetapi juga antara sejarah dan masa depan. Tahun 2025 ini, langkah DMDI berlanjut ke Jakarta, pada 24–26 Oktober. Konvensyen ke-23 ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud dari tekad panjang untuk merajut kembali jalinan kekuatan Melayu-Islam di tengah arus perubahan dunia yang serba cepat.
Sejak berdirinya, DMDI bukan hanya wadah silaturahmi, tapi juga simbol kesadaran bahwa dunia Melayu dan dunia Islam memiliki akar nilai yang sama ,nilai kebersamaan, keilmuan, dan kemajuan. Di tengah globalisasi yang sering mengikis identitas budaya, DMDI hadir sebagai jangkar, meneguhkan kembali siapa kita dan ke mana kita hendak melangkah.
Tahun ini, konvensi menyoroti empat sektor prioritas yang saling menguatkan, pendidikan dan pertukaran budaya, kesehatan dan penguatan kapasitas, pariwisata dan promosi budaya, serta investasi dan sinergi ekonomi. Empat sektor ini ibarat empat tiang utama yang menopang rumah besar Melayu-Islam.
Pertama, pendidikan dan pertukaran budaya.
Bidang ini selalu menjadi denyut nadi DMDI. Pendidikan adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Melalui program pertukaran pelajar, pemberian beasiswa, hingga kurikulum bersama, DMDI ingin membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memahami akar budayanya.
Di balik setiap kegiatan budaya lintas negara, ada semangat untuk menjaga identitas bersama — bahwa Melayu bukan sekadar etnis, dan Islam bukan sekadar agama, melainkan dua entitas yang bersatu dalam nilai kemanusiaan.

Kedua, kesehatan dan penguatan kapasitas.
Pandemi yang melanda dunia menjadi pengingat pentingnya solidaritas lintas bangsa. Negara-negara anggota DMDI kini bersatu melakukan riset bersama, pelatihan tenaga medis, dan memperkuat sistem pelayanan publik. Dari klinik kecil di kampung pesisir hingga rumah sakit besar di kota metropolitan, kolaborasi ini bertujuan agar setiap insan Melayu-Islam mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan berkeadilan.
Ketiga, pariwisata dan promosi budaya.
Sektor ini menjadi wajah ramah DMDI di mata dunia. Setiap festival budaya, setiap tari dan lagu, menjadi cerita yang menghidupkan kembali warisan bersama. DMDI berkomitmen mengembangkan destinasi unggulan yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga memperkenalkan nilai spiritual dan kearifan lokal masyarakat Melayu-Islam. Melalui pariwisata, diplomasi antarbangsa berjalan dengan senyum, sapaan, dan persaudaraan.
Keempat, investasi dan sinergi ekonomi.
Tak bisa dipungkiri, kekuatan ekonomi adalah fondasi penting untuk memperkuat posisi dunia Melayu-Islam di tingkat global. DMDI mendorong lahirnya kerja sama bisnis lintas negara, joint venture, hingga perdagangan lintas batas. Kolaborasi ini bukan sekadar transaksi ekonomi, tapi upaya bersama untuk membangun kemandirian dan kesejahteraan.
Konvensyen DMDI ke-23 tak hanya menghadirkan pidato dan pertemuan formal. Di dalamnya akan berlangsung forum akademik, pameran budaya, workshop kewirausahaan, serta forum bisnis lintas negara. Para akademisi, budayawan, dan pelaku usaha akan bertukar gagasan dari pelestarian bahasa dan sastra Melayu hingga diplomasi budaya dan ekonomi kreatif.

Isu-isu strategis yang akan dibahas meliputi:
Pelestarian Warisan Budaya Melayu, menjaga bahasa, kesusastraan, dan tradisi lokal agar tetap hidup di era digital.
Penguatan Kerja Sama Akademik, memperluas jejaring antaruniversitas di kawasan berpenduduk Melayu.
Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Budaya, membantu UMKM dan pelaku industri kreatif mengangkat nilai Melayu dalam produknya.
Diplomasi Bahasa Melayu, menjadikan bahasa sebagai jembatan komunikasi antarbangsa dan alat promosi peradaban.
Dengan pendekatan yang menyentuh berbagai sektor, DMDI menjadi laboratorium gagasan sekaligus ruang lahirnya kebijakan budaya yang aplikatif.
Harapan DMDI dari tahun ke tahun tetap sama, namun semakin matang dalam wujudnya, membangun jejaring Melayu-Islam yang tangguh, berdaya saing, dan berkarakter. Di tengah derasnya arus modernitas, DMDI menjadi jangkar yang meneguhkan jati diri bangsa-bangsa Melayu-Islam agar tidak hanyut, tetapi justru berlayar lebih jauh dengan arah yang jelas.
Konvensyen ke-23 di Jakarta menjadi momentum penting: menegaskan kembali bahwa dunia Melayu dan dunia Islam bukan masa lalu yang romantis, melainkan masa depan yang harus terus diperjuangkan bersama. Di bawah satu payung semangat, Bersatu Kita Maju, DMDI mengajak seluruh anggotanya untuk terus menyalakan api peradaban dari Jakarta, untuk dunia.
- Penulis adalah Humas Dunia Melayu Dunia Islam Kalsel dan Akademisi
