Menulis dengan Hati, Melihat dengan Harapan
Diskusi Jurnalisme Konstriukstif dalam Media Gathering Bank Kalsel di Bali, yang menghadirkan Jurnalis Senior Tempo, Mustafa Silalahi dan Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Mitra Damayanti. (Foto -Risanta).
Mengenal Dari Dekat Jurnalisme Konstruktif dan Kualitas Tulisan
Oleh: Muhammad Risanta SE MM
Suatu masa saya pribadi sempat berpikir, tugas jurnalis adalah menyampaikan fakta secepat mungkin. Siapa yang lebih dulu menulis, dialah yang menang. Tak heran pada masanya saya termasuk yang paling getol memburu berita dalam rangkaian waktu, hanya mengejar yang semula tak begitu saya pahami. Karena untuk menjadi tercepat dan mengalahkan media kompetitor.
Tapi waktu dan pengalaman lapangan mengajarkan hal berbeda bahwa kecepatan tanpa kedalaman hanyalah gema kosong. Orang mungkin membaca, tapi tidak selalu memahami.
Di tengah derasnya arus berita hari ini, barangkali ada benarnya pendapat seorang kawan, Jurnalis senior, yang menyebutkan publik dicekoki informasi yang cepat namun seringkali melelahkan, kekerasan, konflik, bencana, dan kegaduhan politik. Hingga akhirnya munculah jurnalisme konstruktif, menemukan relevansinya.
Secara sederhana, jurnalisme konstruktif adalah pendekatan yang tidak berhenti pada pelaporan masalah, tetapi juga menelusuri solusi, harapan, dan pembelajaran di baliknya. Ia berakar dari konsep solution-oriented journalism yang mulai populer di Eropa sekitar satu dekade terakhir. Prinsipnya, berita tidak hanya membuat orang tahu, tetapi juga membantu mereka memahami dan bertindak.
Saya teringat liputan di sebuah kampung pinggiran Banjarmasin. Di sana, warga mengubah limbah dapur menjadi biogas untuk keperluan memasak. Saat pertama kali datang, saya hanya ingin menulis soal kemiskinan dan keterbatasan energi. Namun yang saya temukan justru daya juang dan kreativitas warga yang luar biasa. Berangkat dari sinilah saya belajar, berita bukan hanya tentang apa yang salah, tapi juga tentang siapa yang berusaha memperbaiki.
Memang benar apa kata senior saya, Mustafa Silalahi “Musis” Pendekatan konstruktif tidak berarti menutup mata terhadap kenyataan pahit. Justru sebaliknya ia menuntut riset yang lebih dalam, data yang lebih kuat, dan empati yang lebih tinggi. Seorang jurnalis konstruktif bertanya lebih jauh: “Mengapa ini terjadi?” dan “Apa yang bisa kita pelajari darinya?”

Di sisi lain, berbicara tentang menulis berkualitas berarti berbicara tentang integritas dan kesadaran sosial. Tulisan yang berkualitas tidak hanya enak dibaca, tapi juga benar, jernih, dan berguna. Ia memadukan ketepatan fakta, kejelasan bahasa, dan kedalaman konteks.
Menulis berkualitas menuntut disiplin berpikir ilmiah, memeriksa data, menguji sumber, menghindari bias, namun disampaikan dengan gaya yang humanis dan mudah dipahami. Karena sejatinya, tulisan yang baik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun pemahaman.
Saya dkk sempat berdiskusi ringan Bang Musis dalam Workshop di Bali dalam Media Gathering Bank Kalsel barusa ,yang pandangan beliau menggugah spirit tak biasa untuk mengubah minset menulis yang berkualitas dan menempatkan empati dan hasil karya jurnalistik dalam bentuk tulisan bisa diapresiasi secara ekonomi dan menunjukkan profesionalisme produk jurnalistik.

Jurnalisme konstruktif dan menulis berkualitas ibarat dua sisi mata uang. Yang satu memberi arah moral dan visi perubahan, yang lain memberi bentuk dan kekuatan pesan. Keduanya menegaskan bahwa tugas jurnalis bukan sekadar menjadi saksi peristiwa, tetapi juga penumbuh kesadaran publik.
Kini, di tengah hiruk-pikuk media sosial dan derasnya berita instan, jurnalisme konstruktif menjadi oase. Ia mengingatkan kita bahwa harapan tetap layak diberitakan, bahwa kebaikan juga pantas mendapat ruang utama.
Menulis dengan hati, berpikir dengan data, dan melihat dengan empati mungkin itulah rumus sederhana untuk tetap relevan di dunia media yang cepat berubah ini. Karena pada akhirnya, jurnalisme yang paling berkualitas adalah yang mampu menyentuh pikiran, menggerakkan hati, dan menyalakan harapan.Setidaknya ia menumbuhkan spirit,lewat tulisan berkualitas.

