Ampar Ampar Pisang, Kisah Kesabaran dan Kasih Ibu Banjar
Abdul Munir bersama delegasi keseniam Kalsel di Yogyakarta. (Foto- Abdul Munir).
Di tengah riuh tepuk tangan penonton di panggung nasional, lantunan lagu rakyat Ampar Ampar Pisang menggema lembut, membawa ingatan banyak orang kembali pada masa kecil di tepian sungai. Dari lirik sederhana itu, terselip kisah tentang kasih seorang ibu, kesabaran, dan nilai hidup yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Banjar.
Bukan sekadar lagu anak-anak, Ampar Ampar Pisang sejatinya menyimpan cerita lama. Dikisahkan, seorang ibu dengan banyak anak tengah memanggang pisang , rimpi atau sale, sebutan khas Banjar. Baru satu buah matang, anak-anaknya sudah berebutan. Api yang digunakan berasal dari kayu patah, kecil nyalanya, sehingga pisang matang perlahan. Dalam suasana itu, kesabaran sang ibu diuji, tetapi kasihnya tak berkurang sedikit pun.
“Liriknya juga berisi pesan agar anak-anak jangan bermain di air pasang atau banjir, karena bisa digigit makhluk air seperti bidawang (kura-kura). Itu bentuk perhatian orang tua Banjar terhadap keselamatan anak-anaknya,” tutur sang budayawan sekaligus dosen asal Kalimantan Selatan Abdul Munir,yang memimpin rombongan seni Banjar dalam pentas tersebut.
Penampilan mereka di Yogyakarta bukan hanya persembahan seni, tapi juga bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) yang bertujuan menanamkan kembali nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Mewakili Kalimantan Selatan, rombongan ini tampil dalam rangka perayaan Hari Jadi Kota Yogyakarta ke-269. Melalui musik, tari, dan teater rakyat, mereka menghadirkan wajah Banjar yang sabar, lembut, dan penuh makna, sebuah potret budaya yang menempatkan keluarga dan pendidikan moral sebagai inti kehidupan.
“Dalam setiap bait Ampar Ampar Pisang, ada filosofi mendalam tentang bagaimana orang Banjar membesarkan anak-anaknya dengan kasih dan pengendalian diri. Lagu ini bukan sekadar hiburan, tapi cermin nilai-nilai kehidupan,” ujar Abdul Munir yang sehari-hari Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.
Melalui panggung seni, pesan dari lirik lama itu kembali hidup dan mengingatkan bahwa kebudayaan bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga jalan untuk menuntun masa depan.
Melalui penampilan tersebut, rombongan seni Banjar tidak hanya menampilkan tarian dan musik tradisional, tetapi juga memperkenalkan nilai edukatif dan filosofi dalam karya budaya mereka.
Kehadiran mereka di panggung nasional diharapkan semakin memperkuat identitas budaya Banjar sekaligus menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap warisan leluhur yang sarat makna dan kearifan lokal.(M.Irfani).
