Cerita Indah dari Barabai dan Bank Kalsel
Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin menegaskan perusahaan mereka (Bank Kalsel) ingin terus mendampingi masyarakat mengembangkan potensi ekonomi lokal. seperti halnya di Barabai. (Foto -Humas Bank Kalsel).
Ketika kepedulian berubah menjadi kekuatan ekonomi Banua
Senja jatuh perlahan di atas Lapangan Dwiwarna. Di bawah cahaya keemasan, barisan tenda kerucut berdiri tegak, sementara gerobak-gerobak baru tampak mengilap di sisi lapangan. Di balik pemandangan sederhana itu, tersimpan kisah yang tak kalah indah, kisah tentang semangat, kemandirian, dan kepedulian yang tumbuh bersama masyarakat Banua.
Bantuan 24 unit gerobak dan 66 unit tenda kerucut dari Bank Kalsel bagi para pedagang di kawasan Lapangan Dwiwarna, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), bukan sekadar proyek CSR biasa. Ia adalah bentuk kehadiran nyata dan wujud empati sebuah lembaga keuangan daerah terhadap denyut ekonomi rakyat yang tak pernah padam.
Gerakan dari Hati, untuk Ekonomi Rakyat
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Bank Kalsel menyalurkan bantuan sarana dan prasarana perdagangan guna mendukung aktivitas UMKM lokal. Penyerahan simbolis dilakukan oleh Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin, kepada Bupati Hulu Sungai Tengah, H. Samsul Rizal, di Pendopo Bupati HST, pada 6 Oktober 2025.
Acara yang dihadiri jajaran direksi, pejabat daerah, dan para pelaku usaha kecil ini bukan hanya seremoni serah-terima. Ia adalah bentuk silaturahmi ekonomi , titik temu antara lembaga keuangan, pemerintah daerah, dan masyarakat yang bersama-sama membangun kemandirian.
“Bantuan ini bukan hanya tenda dan gerobak, tetapi simbol sinergi dan kepedulian terhadap pelaku usaha kecil di Barabai,” ujar Bupati H. Samsul Rizal, mengapresiasi langkah Bank Kalsel.

Di tengah arus modernisasi dan transformasi digital perbankan, Bank Kalsel justru memilih jalan yang paling manusiawi, hadir di lapangan, mendengar, dan memberi solusi. Bagi Direktur Utama Fachrudin, inilah makna sejati menjadi bank daerah bukan hanya mengelola dana, tapi juga menumbuhkan harapan.
“Sebagai bank kebanggaan masyarakat Banua, kami ingin terus mendampingi masyarakat mengembangkan potensi ekonomi lokal. Bantuan ini adalah langkah kecil untuk menumbuhkan semangat produktif, tertata, dan mandiri,” ungkap Fachrudin.
Langkah itu tampak sederhana, namun dampaknya mendalam. Di tangan para pedagang kecil, gerobak dan tenda baru menjadi simbol perubahan. Kini mereka tak sekadar berdagang, tapi juga berdaya, berdiri dengan rasa percaya diri yang baru.
Lapangan Dwiwarna kini tak hanya berfungsi sebagai ruang publik, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi rakyat. Setiap tenda yang berdiri di sana menjadi penanda bahwa ekonomi kerakyatan bisa tumbuh kuat ketika diberi ruang dan perhatian.
Spirit seperti ini pantas menjadi inspirasi. Sebab, di tengah kompetisi dunia bisnis yang serba cepat, Bank Kalsel menunjukkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan selalu berakar dari kepedulian sosial.
“Kemandirian bukanlah hasil bantuan besar, tetapi buah dari kepedulian yang konsisten,” tulis redaksi EconomicTravelling.com dalam catatan editorialnya.
Cerita dari Barabai adalah pengingat, membangun ekonomi daerah tidak selalu membutuhkan proyek megah. Kadang, cukup dengan satu gerobak, satu tenda, dan satu kepedulian tulus, perubahan besar bisa dimulai.
Langkah Bank Kalsel ini seolah menegaskan kembali makna Bank Kebanggaan Banua, sejatinya bahwa kesejahteraan bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan bersama antara pemerintah, perbankan, dan masyarakat.
Dan dari Barabai, cerita indah itu pun lahir tentang bagaimana kepedulian mampu menghadirkan kemandirian, dan bagaimana ekonomi rakyat bisa tumbuh dengan martabat, dari tangan-tangan kecil yang tak pernah lelah bekerja untuk Banua.
Bank Kalsel menunjukkan bahwa CSR bukan sekadar tanggung jawab perusahaan, melainkan bagian dari etika sosial membangun Banua. Semoga inisiatif ini menjadi inspirasi bagi lembaga keuangan lainnya untuk menyalakan semangat serupa di seluruh pelosok Indonesia.(Redaksi).
