Bank Kalsel Syariah Menyapa Tabalong Momentum Ekonomi Baru

0
SYARIAH TABALONG 3

Foto Ilustrasi - Wakil Bupati Tabalong, Habib Muhammad Taufani Alkaf disaksikan Direktur Utama Bank Kalsel Fachrudin membuka buku tabungan Syariah produk Bank Kalsel. (Foto - Humas Bank kalsel).

Pagi yang teduh di Tanjung, ibu kota Kabupaten Tabalong, menyimpan tanda-tanda perubahan. Di jalan Pangeran Antasari No.11, warna hijau khas Bank Kalsel kini berdiri megah dengan tulisan bertuah Kantor Cabang Pembantu Syariah (KCPS) Tanjung.Tampak sederhana, namun sesungguhnya monumental. Sebab di balik peresmian yang dilakukan Wakil Bupati Tabalong, Habib Muhammad Taufani Alkaf, tersimpan babak baru perjalanan ekonomi daerah, yakni babak ketika syariah bukan hanya ajaran, tetapi juga gerak ekonomi yang nyata.

Tabalong adalah kabupaten dengan denyut ekonomi yang unik. Terletak di utara Kalimantan Selatan, daerah ini menjadi simpul strategis antara Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalsel. Aktivitas perdagangan, logistik, hingga energi fosil menjadi urat nadi kehidupan masyarakatnya.

Namun, di tengah geliat itu, ada satu ruang kosong yang perlahan mulai terisi,  layanan keuangan syariah yang inklusif dan terpercaya.

Jika menelisiik ke belakang selama ini, sebagian besar pelaku usaha kecil dan menengah di Tabalong masih mengandalkan pembiayaan informal atau lembaga konvensional dengan akses yang terbatas.

Mereka membutuhkan sistem yang lebih ramah terhadap nilai-nilai lokal dan spiritual yang tidak hanya menghitung margin, tetapi juga keberkahan. Kehadiran Bank Kalsel  Syariah, memberikan pertanda baik.

Dengan dibukanya KCPS Tanjung, Bank Kalsel tidak sekadar menambah kantor, melainkan membuka jendela baru bagi masyarakat untuk mengenal dan mengakses sistem ekonomi yang berlandaskan prinsip keadilan, kemitraan, dan etika usaha.

 

Wakil Bupati Tabalong, Habib Muhammad Taufani Alkaf menjadi nasabah pertama Bank Kalsel Syariah di Tabalong. (Foto – Humas Bank Kalsel).

Dampak Langsung, Menguatkan Fondasi Ekonomi Lokal

Hadirnya KCPS Tanjung membawa tiga dampak utama bagi ekonomi Tabalong.

Pertama, akses pembiayaan syariah yang lebih mudah.
UMKM di sektor perdagangan, pertanian, hingga jasa kini memiliki alternatif pembiayaan berbasis akad murabahah, mudharabah, atau ijarah, tanpa beban bunga, tanpa tekanan sistem kredit konvensional. Ini memberikan ruang napas bagi wirausaha lokal untuk tumbuh sehat dan mandiri.

Kedua, meningkatnya literasi keuangan syariah.
Dengan kehadiran kantor fisik, masyarakat dapat lebih memahami bagaimana sistem syariah bekerja. Edukasi publik menjadi pintu masuk penting untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap uang, investasi, dan etika bisnis.

Ketiga, efek psikologis berupa meningkatnya kepercayaan terhadap lembaga keuangan daerah.Di tengah dominasi bank nasional dan fintech asing, langkah Bank Kalsel menghadirkan layanan berbasis nilai lokal menjadi simbol bahwa ekonomi daerah bisa tumbuh dari dalam, bukan sekadar menjadi pasar dari luar.

Pasar keuangan Tabalong menyimpan potensi besar. Dengan populasi lebih dari 250 ribu jiwa dan ribuan pelaku usaha mikro, peluang untuk mengembangkan produk keuangan syariah berbasis digital terbuka lebar.

Bank Kalsel dengan Mobile Banking Aksel by Bank Kalsel dapat menjangkau generasi muda, aparatur sipil negara, hingga karyawan industri energi dan jasa migas di Tabalong. Inklusi digital menjadi kunci.
Sementara itu, kepercayaan sosial,nilai yang sangat kuat di masyarakat Banua,menjadi landasan untuk memperkuat loyalitas nasabah.

Peluang juga datang dari sektor sosial-keagamaan, seperti pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif. KCPS Tanjung dapat menjadi mitra strategis bagi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) atau lembaga filantropi lokal dalam mengelola dana sosial secara transparan dan produktif. Ini bukan hanya bisnis, tapi misi sosial yang selaras dengan visi pembangunan daerah.

Dari perspektif ekonomi makro daerah, kehadiran KCPS Tanjung memperkuat upaya pemerintah untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di Kalimantan Selatan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, tingkat inklusi keuangan syariah nasional masih di bawah 15 persen, dan terbuka ruang besar bagi lembaga seperti Bank Kalsel untuk mengisinya melalui pendekatan lokal.

Dalam konteks pembangunan, Bank Kalsel bisa berperan ganda.Dapat sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi daerah, dengan menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif dan berkelanjutan.Kemudian menjadi penggerak ekonomi moral, yang mendorong praktik bisnis berkeadilan dan transparan.

Jika dikelola konsisten, KCPS Tanjung berpotensi menjadi model cabang syariah percontohan untuk daerah lain di Banua, yang menunjukkan bahwa transformasi ekonomi bisa dimulai dari daerah, dengan sentuhan kearifan lokal dan visi spiritual yang kuat.(Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!