Menjemput Madu di Jantung Kalimantan
Husni Naparin , memperlihatkan madu hutan yang siap dipanen dikelilingi ribuan lebah di pedalaman Kalimantan Tengah.(Foto - Koleksi Pribadi).
Di saat banyak orang memilih duduk nyaman di balik meja kerja, Husni Naparin justru memilih berjalan menembus hutan, menelusuri sungai yang penuh buaya, dan bermalam di rimba Kalimantan.Bukan untuk berpetualang semata, melainkan untuk menjemput madu,yakni madu hutan asli Kalimantan yang harum, pekat, dan penuh cerita perjuangan di balik setiap tetesnya.
Pria bergelar doktor ini bukan peneliti kehutanan atau pemburu harta karun. Ia adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, sekaligus pemilik Warung Kaum, rumah makan khas Banjar yang terkenal dengan ketupat Kandangan dan cita rasa lokalnya yang kuat.
Namun di luar kampus dan dapur bisnis kuliner, Husni adalah seorang penjelajah hutan yang ulet, penuh rasa ingin tahu, dan punya misi yang tidak biasa: melestarikan madu hutan sekaligus menjaga ekosistem tempat lebah hidup.
Dari Kampus ke Rimba
“Kalau orang lain mungkin mencari data di perpustakaan, saya mencarinya di hutan,” ujarnya sambil tertawa ringan dalam satu kesempatan berbincang.
Namun di balik candanya, ada kesungguhan yang dalam.Baginya, hutan Kalimantan bukan hanya bentangan hijau yang harus dijaga, tapi juga laboratorium alam dan sumber kehidupan.

Ia sudah menjelajahi banyak wilayah di Kalimantan Tengah dari pedalaman Kapuas hingga daerah yang nyaris tak terjamah peradaban.
Bersama warga lokal dan pemburu madu tradisional, Husni menapaki jalur sungai, mendaki bukit, dan menembus rimba lebat demi menemukan sarang lebah madu hutan.
Perjalanan itu tidak selalu mudah. Sungai yang harus diseberangi sering kali dihuni buaya, jalur setapak berubah jadi lumpur dalam ketika hujan turun, dan sinyal telepon hilang sejak beberapa kilometer dari desa terakhir. Namun di situlah, kata Husni, letak kenikmatannya.
“Menjelajahi hutan itu seperti berdialog dengan alam. Ada rasa takut, tapi juga kagum. Alam selalu memberi pelajaran,” ujarnya.
Hutan, Lebah, dan Tanggung Jawab
Bagi Husni Naparin, madu hutan bukan sekadar komoditas dagang. Ia adalah cerita panjang tentang keseimbangan ekosistem.
Lebah tidak akan bisa bertahan tanpa hutan yang sehat, dan manusia tidak akan mendapatkan madu tanpa menjaga alam tempat lebah hidup.
Karena itu, ia menerapkan prinsip “ambil seperlunya, jaga selebihnya.”Ketika panen madu, ia selalu memastikan bahwa sarang lebah tidak dirusak, hanya diambil sebagian, dan sisanya dibiarkan agar koloni bisa tumbuh kembali.
Ia juga membangun kesadaran warga lokal agar tidak menebang pohon tempat lebah bersarang, melainkan menjadikannya sumber pendapatan berkelanjutan.
Inilah bentuk kecil dari ekonomi hijau yang sesungguhnya, memanfaatkan alam tanpa merusaknya.
“Saya ingin anak saya, Azzam, nanti masih bisa melihat lebah hutan terbang bebas di Kalimantan. Bukan hanya membaca kisahnya di buku,”
katanya lirih suatu kali, sambil menatap botol madu hasil panennya yang berwarna keemasan.

Dari Hutan ke Botol, Dari Botol ke Harapan
Madu hasil jelajahnya kini dikenal dengan nama Madu Kaum Hutan Asli Kalimantan. Ia tidak memproduksinya secara massal, karena setiap tetesnya memiliki proses panjang yang alami.
Mulai dari penelusuran sarang, pemanenan dengan cara tradisional, hingga pengemasan sederhana tanpa bahan tambahan.
Yang menarik, Husni tidak berhenti di situ. Ia menjadikan madu ini sebagai bahan edukasi bagi mahasiswa. Di kelas, ia sering membagikan pengalaman menjelajah hutan, berbicara tentang etika ekologis, dan pentingnya sains yang berpihak pada keberlanjutan.
“Ilmu tidak boleh berhenti di teori. Alam adalah guru yang paling jujur,” ujarnya suatu kali di depan mahasiswanya.
Bagi mahasiswa, kisah Husni bukan hanya tentang madu, tapi juga tentang makna hidup, bahwa kesuksesan tidak selalu berarti kekayaan, melainkan kemampuan memberi manfaat bagi sesama dan menjaga bumi tetap hidup.
Kini, Husni Naparin dikenal bukan hanya sebagai dosen atau pengusaha kuliner, tapi juga penjelajah hutan dan penjaga lebah Kalimantan.
Kisah perjalanannya sering ia bagikan lewat media sosial dan tulisan ringan yang inspiratif.
Foto-fotonya dengan latar hutan lebat, sungai tenang, dan sarang lebah bergelantungan di dahan tinggi menjadi saksi dedikasi seorang anak bangsa yang mencintai negerinya lewat tindakan nyata.Bagi Husni, hutan bukan hanya sumber madu, tapi juga sumber makna.
Dan setiap kali ia kembali dari rimba dengan wajah lelah namun mata berbinar, selalu ada pesan sederhana yang ia bawa pulang.
“Kalau kita menjaga hutan, sesungguhnya hutan juga menjaga kita.” (Muhammad Irfani).

