Jalan Lintas Tengah, Altenatif Penghubung Banua

0
JALAN LINTAS TENGAH

Ada sebuah mimpi besar yang tengah digulirkan Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin. Bukan mimpi kecil, melainkan proyek bernama Jalan Lintas Tengah, jalur baru yang dirancang untuk menghubungkan Mali-mali hingga Banua Anam, melintasi Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Balangan, dan Tabalong.

Jika benar terwujud, jalan ini bukan hanya sekadar aspal yang membentang. Ia adalah simbol keterhubungan, penopang ekonomi, sekaligus pintu baru bagi pemerataan pembangunan Banua.

Saat ini, proyek tersebut masih pada tahap koordinasi antar kabupaten, terutama soal klasik, pembebasan lahan. Dalam kesempatan bersama media, Plt Kepala Dinas PUPR Kalsel, M. Yasin Toyib, memaparkan bahwa studi kelayakan akan dikerjakan mulai 2025, disusul penyusunan DED, AMDAL, dan AMDAL Lalin pada 2026. Jika semuanya sesuai rencana, pembangunan fisik akan dimulai tahun 2027.

Dalam periode pertama kepemimpinan Gubernur Muhidin, targetnya jalan sudah bisa menjangkau Binuang, Tapin. Lebarnya dirancang 30 meter dengan panjang sekitar 30 kilometer, menghubungkan Mali-mali di Maratamaran hingga Jalan Tol Binuang.

Bila kita tarik lebih jauh, jalan ini punya makna strategis. Pertama, ia bisa menjadi solusi kemacetan, terutama saat Haul Guru Sekumpul, ketika arus manusia dan kendaraan dari berbagai penjuru tumpah ruah.

Kedua, ia membuka akses ekonomi baru, desa yang semula sepi bisa hidup, tanah yang dulunya terisolasi bisa bernilai, dan pergerakan barang serta jasa akan semakin lancar. Ketiga, jalan ini menjadi simbol pemerataan. Infrastruktur bukan hanya milik kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah yang sering kali terabaikan.

Namun, jalan panjang menuju realisasi proyek ini tidak akan mudah. Pembebasan lahan kerap menjadi batu sandungan terbesar dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Belum lagi soal pembiayaan, konsistensi anggaran, hingga keterlibatan masyarakat. Jika koordinasi tidak solid, proyek ini bisa saja terhambat.

Di sisi lain, masyarakat tentu menaruh harapan besar. Jalan ini diharapkan bukan hanya jadi proyek mercusuar, melainkan benar-benar menghadirkan manfaat nyata. Karena pada akhirnya, yang paling sederhana ditunggu warga adalah kemudahan, lebih cepat sampai ke tujuan, lebih murah biaya transportasi, dan lebih luas peluang ekonomi.

Gubernur Muhidin menyebut dirinya optimis. Dan memang, optimisme itu penting. Tetapi lebih penting lagi adalah memastikan setiap tahap berjalan dengan disiplin, transparan, dan tepat sasaran. Jika tidak, proyek besar ini bisa kehilangan ruhnya. menghubungkan Banua bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara ekonomi dan sosial.

Jalan Lintas Tengah adalah mimpi kolektif. Bila benar-benar terwujud, ia akan menjadi warisan penting bagi Banua. Jalan yang bukan hanya menghubungkan kabupaten, tetapi juga harapan-harapan warga Kalimantan Selatan akan masa depan yang lebih terbuka.(Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!