Bebeh, Tour Guide yang Menjadi Guru Bahasa dan Sahabat Anak Negeri

3
BEBEH UTAMA

Sisi lain petualangan Tour Guide, Bebeh bersama turis mancanegara ke sejumlah destinasi wisata susur sungai. (Foto - Koleksi Pribadi Bebeh).

Di Banjarmasin, kota yang dikenal dengan sungai-sungai dan pasar terapungnya, ada sosok perempuan muda yang menapaki jalan hidupnya dengan cara yang tak biasa. Namanya Bebeh. Di mata wisatawan, ia hanyalah seorang tour guide yang ramah, yang fasih memperkenalkan keindahan Kalimantan Selatan ke dalam bahasa asing. Namun, di balik senyumnya yang hangat, tersimpan sebuah kisah pengabdian yang lebih besar, menjadi jembatan antara dunia luar dengan anak-anak kampung yang haus akan ilmu.

Awalnya, perempuan bernama asli Dewi Purnama Sari menekuni profesi pemandu wisata. Ia menemani turis asing menjelajah sungai Martapura, menelusuri pasar terapung,pegunungan Meratus, Taman Nasional Tanjung Puting (Kalteng) hingga menyusuri lorong-lorong sejarah kota tua.

Namun, hatinya tergerak melihat anak-anak di kampungnya yang sulit mendapatkan kesempatan belajar bahasa Inggris. Padahal, ia tahu betul, kemampuan berbahasa asing adalah kunci penting untuk membuka masa depan.

“Pengabdian itu tidak selalu berarti harus menemani turis asing,tapi bagaimana kita bisa memberi jalan bagi generasi muda agar mereka punya bekal menghadapi dunia, ” ujarnya suatu kali.

 

Gaya Bebeh menyemangati anak-anak belajar bahasa Inggris dengan cara menyenangkan.

Maka, ia pun mulai mengajar. Dari kelas toddler yang baru bisa menyebutkan kata-kata sederhana, hingga orang dewasa yang ingin menambah kemampuan bahasa Inggris, semua ia layani dengan sabar.

Setiap kali ada turis asing yang dipandunya, ia seringkali membawa mereka mampir ke sekolah-sekolah di Banjarmasin. Bagi anak-anak, momen itu tak ternilai. Mereka bisa langsung berbicara dengan penutur asli, meskipun dengan kata-kata sederhana. Dari sana, kepercayaan diri mereka tumbuh, dan semangat belajar pun mekar.

“Waktu pertama kali saya diajak Miss Bebeh ngobrol sama turis bule, saya deg-degan banget,” kenang Aisyah, murid kelas 5 SD.

Aisyah dan anak yang lainnya pun tak mengira bisa bertemu langsung para bule dan bercakap-cakap.Meskipun sebagian masih bahasa tarzan, tapi setidaknya itu memberi semangat anak-anak di kampung bisa bertemu turis mancanegara.

“Tapi ternyata mereka baik, mau dengar saya ngomong. Sejak itu saya jadi lebih berani pakai bahasa Inggris,” tutur Aisyah.

 

Bebeh kerap kali menyempatkan diri mengajak wisatawan mancanegara ke kampung-kampung dan mengajak anak-anak berinteraksi dalam bahasa Inggris.

Mikrofon, Ruang Baru untuk Mengabdi

Energi positif Bebeh tak berhenti di ruang kelas. Ia pun mencoba dunia baru, radio. Bersama sahabatnya, Hikmah, ia menjadi penyiar paruh waktu di program English Hour RRI Pro 2 Banjarmasin. Mikrofon baginya bukan sekadar alat siar, tapi jembatan lain untuk menularkan semangat. Lewat udara, suaranya menjangkau banyak telinga, dari pelajar hingga pendengar dewasa yang ingin belajar bahasa Inggris dengan cara sederhana dan menyenangkan.

“Bebeh itu orangnya tulus sekali. Dia tidak pernah setengah-setengah kalau berbagi ilmu. Bahkan saat capek pun, dia tetap semangat mengajar dan menyiarkan. Saya sering kagum dengan energi yang dia punya.”,” ujar Hikmah, sahabat sekaligus rekan siarnya. “

Meski statusnya hanya part time, ia tak mengeluh.

“Penghasilan memang tidak sebesar orang kantoran,  tapi kebahagiaan saya adalah bisa berbuat untuk orang banyak, “katanya lirih.

Di balik kesibukan mengajar dan menyiarkan program radio, Bebeh menyimpan sebuah cita-cita besar namun sederhana, mendirikan sekolah mini bahasa Inggris di kampungnya. Ia ingin anak-anak dari keluarga sederhana tidak merasa kalah langkah hanya karena keterbatasan biaya atau kesempatan.

 

Bebeh Saat mengajar cara berbicara bahasa Inggris di radio.

Menurutnya, anak-anak di kampung pun berhak bermimpi tinggi: menjadi diplomat, peneliti, atau bahkan sekadar pemandu wisata profesional yang percaya diri berbicara dengan turis.

“Bahasa Inggris itu pintu ke dunia. Kalau sejak kecil mereka sudah terbiasa, maka jalan menuju masa depan akan lebih terbuka,” ucapnya penuh keyakinan.

Harapan ini pun diamini oleh banyak orang di sekelilingnya. “Kalau ada sekolah kecil yang digagas Miss Bebeh, saya yakin banyak orangtua di kampung akan mendukung,” kata Anton Panggabean, sahabatnya yang jago bahasa Jerman.

Anton menyebutkan anak-anak di sini butuh sekali belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan seperti yang Bebeh lakukan. Dia bersama teman seprofesi pun mengapresiasi penuh apa yang dilakoni seorang perempuan muda bersahaja, yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Kisah Bebeh mengajarkan, bahwa ukuran kebahagiaan tidak selalu terletak pada gaji besar atau jabatan tinggi. Kadang, kebahagiaan itu hadir dalam bentuk tawa anak-anak yang berhasil menyebutkan kalimat bahasa Inggris pertamanya. Atau dalam rasa percaya diri seorang murid yang berani menyapa turis asing. Atau dalam suara yang mengudara di radio, menemani banyak orang belajar meski dari balik gelombang.

“Bagi saya, Bebeh itu inspirasi,” kata Camang, salah satu teman seprofesinya di dunia tour guide.

“Dia bukan hanya memperkenalkan kota kita ke turis, tapi juga membuka dunia bagi anak-anak di kampung.”tambahnya lagi,.

Di setiap langkahnya, Bebeh menyalakan cahaya kecil. Cahaya yang menyentuh banyak hati, yang menumbuhkan harapan baru. Dari tepian sungai Banjarmasin hingga udara radio, ia memilih jalan pengabdian. Dan dari sana, ia menemukan makna hidup yang sejati.(Muhammad Irfani).

3 thoughts on “Bebeh, Tour Guide yang Menjadi Guru Bahasa dan Sahabat Anak Negeri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!