Globalisasi di Atas Jukung Banjar
Acil Pantun Pasar Terapung Lok Baintan "Ibai" bersama wisatawan.Acil Ibai adalah salah satu ikon pasar terapung yang mahir berpantun dan sedikit berbahasa asing. (Foto - Dok Acil Ibai).
Acil-Acil Lok Baintan, Diplomasi Bahasa dari Tengah Sungai
Oleh : Helda Aristanti
Setiap fajar menyingsing di atas Sungai Martapura, Lok Baintan sudah ramai berdenyut. Suara kayuh jukung terdengar bersahut-sahutan, seakan menjadi musik pembuka sebuah teater kehidupan. Di sana, puluhan perahu mungil yang ditumpangi acil-acil—sebutan akrab untuk ibu-ibu Banjar.berbaris rapi membawa hasil bumi, buah segar, sayur-mayur, hingga kue tradisional. Warna-warni dagangan berpadu dengan pantulan sinar matahari pagi di permukaan air, menghadirkan panorama tradisi yang hidup dan sulit ditandingi.
Namun, daya tarik Lok Baintan bukan hanya pada pemandangan itu. Yang membuat pasar terapung ini begitu hidup adalah keramahan acil-acil pedagangnya. Sapa mereka tulus, tawar-menawar berlangsung hangat, dan senyum tidak pernah lepas dari wajah mereka. Bahkan, pantun menjadi kata pembuka yang membuat interaksi indah di pasar ini yang belakangan identik dengan pantun berbalas. Dari sinilah para wisatawan,baik domestik maupun mancanegara jatuh hati, bukan sekadar karena buah mangga atau pisang, melainkan karena pengalaman budaya yang autentik dan kehangatan yang tak ternilai.
Dalam era globalisasi, pasar terapung ini menjadi titik temu yang unik antara tradisi lokal dan arus dunia. Turis mancanegara semakin banyak berdatangan, membawa bahasa dan cerita mereka sendiri. Di sinilah tantangan dan peluang besar itu bertemu:,bagaimana membuat interaksi yang lebih mendalam dan bermakna, padahal sebagian besar acil-acil masih terbatas dalam berbahasa asing. Komunikasi adalah jembatan utama dalam hospitality, dan kini, acil-acil tengah mengambil peran sebagai diplomat budaya dari tengah sungai.meskipun kemampuan berbahasa asing masih biasa-biasa saja.Namun setidaknya cukup membuat suasana berbeda, ada upaya menguasai bahasa asing disamping menonjolkan kearifan lokal bahasa Banjar.
Peluang besar terbuka untuk meningkatkan kapasitas mereka, bukan hanya dalam berdagang, tetapi juga dalam keramahtamahan modern. Dengan sentuhan pelatihan yang humanis, mereka tidak hanya menjual komoditas, tetapi juga menjual pengalaman, cerita, dan kebanggaan budaya Banjar yang abadi.
Diplomasi Bahasa Asing Sederhana adalah kuncinya. Tidak perlu menjadi penerjemah profesional, cukup bekal kalimat pendek yang tulus: “Good morning!”, “This is sweet banana”, atau “Special price for you.” Kalimat sederhana namun efektif ini membuat wisatawan merasa dihargai, disambut hangat, dan menghilangkan sekat bahasa yang kaku.

Inovasi Merawat Jati Diri
Inovasi juga dapat dilakukan dengan cara yang membumi. Sekolah Sungai untuk Hospitality—kelas ringan di tepi sungai—dapat menjadi tempat acil-acil belajar praktik langsung. Mereka tak hanya mengasah bahasa, tetapi juga belajar gestur dan bahasa tubuh yang ramah. Senyum, anggukan, atau gerakan tangan yang terbuka sudah cukup menjadi bahasa universal, meningkatkan kenyamanan wisatawan tanpa menghilangkan nuansa tradisi.
Pantun pun bisa dihidupkan kembali sebagai media promosi yang kreatif. Acil-acil bisa diajari melontarkan pantun ringan yang up-to-date saat menawarkan dagangan. Bayangkan wisatawan ditawari pisang dengan pantun yang akan melekat di ingatan mereka:
Naik jukung ke Lok Baintan, Membeli pisang jangan keliru. Kalau datang jangan sekadar singgahan, Pulang bawa cerita seribu rindu.
Pantun seperti ini adalah promosi gratis yang tidak ternilai, mengubah pembeli menjadi duta cerita. Bahkan, sentuhan teknologi melalui QR code yang ditempel di jukung bisa membantu wisatawan mengetahui informasi produk dan harga, sementara acil-acil tetap berdagang secara tradisional, didukung oleh sentuhan modernitas.
Jantung Kalimantan yang Mendunia
Dengan penguasaan bahasa asing sederhana, keterampilan hospitality, serta kreativitas pantun, acil-acil tidak hanya menjual dagangan, tetapi juga “menjual pengalaman” yang utuh. Wisatawan pun akan merasa seperti sedang berbelanja sambil belajar budaya, menyelami kehidupan sungai, dan merasakan keramahan Banjar yang tulus.
Pasar Terapung Lok Baintan adalah warisan budaya yang masih hidup, bukan sekadar tontonan. Ia adalah ruang sosial, ekonomi, sekaligus cermin kearifan lokal masyarakat sungai. Agar tetap bersinar di mata dunia, pasar ini butuh sentuhan inovasi tanpa kehilangan jati diri. Ketika acil-acil semakin mahir berbahasa dan luwes dalam keramahan, maka Lok Baintan tidak hanya akan menjadi ikon Kalimantan Selatan, tetapi juga ikon pariwisata budaya Indonesia yang mendunia—sebuah kisah tentang diplomasi humanis yang berlayar di atas perahu kayu.
Sungai Martapura berair jernih, Jukung berlayar sambil menepi. Hospitality acil Banjar kian bersih, Wisatawan pulang membawa hati.

