“Ayun Ku Ayun” Musik, Tradisi, dan Doa dalam Budaya Banjar

0
ELLY RAHMAH

Elly Rahmah tak hanya piawai mengembangkan usaha UMKM, namun bagus juga untuk membuat lagu yang menginspirasi, yang kebanyakan genre Banjar.(Foto -Caption Youtube Elly Rahmah).

Musik tradisional merupakan salah satu media penting dalam pewarisan nilai, identitas, dan kearifan lokal. Dalam masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, musik bukan hanya bentuk hiburan, melainkan sarana komunikasi emosional, edukasi, bahkan spiritual.

Salah satu karya yang mencerminkan hal ini adalah lagu “Ayun Ku Ayun”, ciptaan dan dinyanyikan oleh Elly Rahmah. Lagu ini menghadirkan suasana seorang ibu yang menimang anaknya dalam buaian sambil melantunkan doa, nasihat, dan harapan.

Dalam konteks budaya kita mengenal Tradisi Baayun dan Bapukung. Budaya Banjar mengenal tradisi bapukung dan beaayun maulid, yaitu praktik mengayun bayi atau anak dalam ayunan sambil melantunkan syair atau doa.

Menurut antropolog musik, fungsi nyanyian dalam budaya pengasuhan tidak hanya menenangkan anak, tetapi juga memperkuat ikatan emosional serta menanamkan nilai sosial dan moral sejak dini (Merriam, 1964: The Anthropology of Music).

Dalam konteks ini, Ayun Ku Ayun merupakan artikulasi kontemporer dari praktik budaya tersebut. Elly Rahmah berhasil mengemas tradisi lokal ke dalam bentuk lagu populer yang tetap mempertahankan fungsi sosial dan spiritualnya.

 

Foto Ilustrasi – Tradisi Baayun Maulid, dimaknai sebagai perayaan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, pengharapan agar anak-anak kelak bisa meneladani Nabi dan berbakti, serta upaya tolak bala dari gangguan jahat dan masalah kesehatan. Tradisi khas masyarakat Banjar ini menggabungkan budaya lokal dengan nilai Islam, di mana anak-anak diayun bersama iringan pembacaan doa dan shalawat Nabi.

Secara musikal, Ayun Ku Ayun disusun dengan nada riang semi melow, ringan, dan mudah dinyanyikan. Namun, setiap liriknya mengandung pesan mendalam, doa seorang ibu agar anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi terpandang, sukses, dan berakhlak mulia. Ada pula nasihat agar anak selalu menjaga adab, karakter, dan kebijaksanaan dalam hidup.

Kombinasi antara nuansa riang dan makna serius ini menunjukkan dualitas fungsi musik tradisional: ia dapat menghibur sekaligus mendidik. Hal ini sejalan dengan konsep fungsi musik menurut Alan P. Merriam, yakni musik sebagai sarana ekspresi emosional, komunikasi, penguatan norma sosial, dan kesinambungan budaya.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, Ayun Ku Ayun menghadirkan relevansi baru. Nilai yang terkandung di dalamnya menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak semata tanggung jawab sekolah atau institusi formal, tetapi bermula dari rumah, melalui interaksi sederhana antara orang tua dan anak.

Selain itu, karya ini menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai identitas. Lagu seperti Ayun Ku Ayun dapat berfungsi sebagai medium diplomasi budaya, memperkenalkan kearifan lokal Banjar ke ranah nasional bahkan internasional.

Ayun Ku Ayun bukan sekadar lagu anak atau tembang pengantar tidur. Ia adalah representasi kasih sayang orang tua, refleksi tradisi Banjar, sekaligus medium pendidikan moral yang sarat nilai. Melalui karya ini, Elly Rahmah, yang merupakan jebolan Magister Manajemen STIE Pancasetia, bukan hanya berkarya di ranah seni, tetapi juga menjaga kesinambungan budaya dan menegaskan bahwa doa dan harapan orang tua adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi penerus.(Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!