Pesona Bali di Jantung Sulawesi

0
DESA TOMMO BALI

Warga Desa Tommo memberi warna bagi Mamuju, Sulawesi Barat lewat kearifan lokal yang terjaga dengan baik. (Foto - Biro Komunikasi Kemenpar).

Menengok Desa Tommo, dari Ogoh-ogoh ke Desa Wisata Baru Indonesia

Di balik perbukitan hijau dan hamparan jagung yang subur di Mamuju, Sulawesi Barat, tersimpan sebuah desa yang unik. Di Desa Tommo, suara gamelan Bali mengalun harmonis bersama logat khas Mandar dan Bugis. Di sinilah, ribuan kilometer dari tanah leluhur, sebuah tradisi agung tetap hidup dan kini siap menjadi permata baru pariwisata Indonesia.

Desa Tommo, yang mayoritas penduduknya berdarah Bali dari program transmigrasi, telah menjadi rumah bagi keberagaman etnis. Harmoni Nyepi, tawa saat Nyepi, hingga prosesi Ngaben Massal yang khidmat, semuanya menjadi bagian dari keseharian yang unik. Keunikan inilah yang menarik perhatian Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, yang secara khusus datang untuk berdialog dan menyerap aspirasi dari masyarakat secara langsung.

Wamenpar Ni Luh Puspa menjadi Wakil Menteri Pariwisata pertama yang menjejakkan kaki di desa ini sejak berdiri pada 1983. Kehadirannya disambut antusias, sekaligus membawa angin segar. Masyarakat dengan lugas menyampaikan impian mereka mewujudkan desa ini sebagai desa wisata yang makmur. Usulan pun mengalir, mulai dari kebutuhan fasilitas penunjang ritual keagamaan, insentif, hingga pelatihan sumber daya manusia pariwisata.

 

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa saat berdiskusi untuk mengambil langkah konkret guna memajukan Desa Tommo, Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa, (26/8/2025).(Foto-Biro Komunikasi Kemenpar).

Wamenpar Ni Luh Puspa mengakui bahwa desa ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia menyoroti tradisi parade Ogoh-ogoh yang selalu ramai dan prosesi Ngaben Massal yang hanya berlangsung tiga tahun sekali.

“Banyak orang datang ke Bali hanya untuk menyaksikan Ngaben.Saya pikir tidak perlu jauh-jauh ke Bali, masyarakat Sulawesi Barat dan sekitarnya cukup datang ke desa ini.” ,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Potensi besar itu, kata Wamenpar, harus dikemas menjadi paket-paket wisata menarik. Untuk itu, Kemenpar akan bergotong royong dengan Pemerintah Daerah Mamuju untuk melangkah konkret. Kunci utamanya adalah kolaborasi, mulai dari penyusunan proses hingga pembentukan kelembagaan desa melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Program ini pun sejalan dengan program nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang bertujuan memajukan ekonomi dan memerdekakan masyarakat dari kemiskinan.

“Tidak ada satu daerah pun maju yang dikerjakan sendirian. Semua daerah itu maju kalau bergotong royong bersama-sama,” tegas Wamenpar.

 

Wamenpar Ni Luh Puspa mengakui bahwa desa Tommo ini memiliki daya tarik yang luar biasa.(Foto- Biro Komunikasi Kemenpar).

Dia pun optimis jika keinginan masyarakat dan pemerintah daerah setempat serta pemerintah pusat kompak, maka kolaborasi ini dapat menjadikan Desa Tommo jadi desa wisata yang maju.

“Masyarakatnya mau, pemerintah daerahnya mau, pemerintah pusatnya juga mau. Saya sangat yakin bahwa kita bisa menciptakan Desa Tommo ini sebagai desa wisata yang maju, yang kemudian jadi satu ikon baru di Mamuju.”

Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi, mengapresiasi dukungan tersebut, dan berharap kehadiran Wamenpar menjadi katalisator bagi terwujudnya kemajuan Desa Tommo.

“Apabila desa ini sudah dinyatakan masuk desa wisata, insya Allah perekonomian masyarakat semakin maju berkat sektor pariwisata,” ujar Sitti penuh harap.

Di tengah kehangatan sambutan, mimpi Desa Tommo untuk menjadi destinasi wisata andalan mulai terajut. Sebuah narasi tentang harmoni keberagaman, kekayaan tradisi, dan gotong royong yang menjadi kekuatan untuk merajut masa depan yang lebih cerah, dari parade Ogoh-ogoh hingga ke panggung pariwisata nasional.(Fikri Husaini-Risanta).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!