Nongkrongan di Kota Tua Banjarmasin

0
CITI TOUR PRESIDEN DMDI KOTA LAMA

Foto Ilustrasi - Salah satu destinasi wisata malam kuliner dan santai di Banjarmasin, sempat dikunjungi Kesultanan Melaka yang dipimpin un Seri Setia Dr. H. Mohd. Ali Rustam, (Presiden Dunia Melayu Dunia Islam).

UMKM Jadi Penopang Ekonomi Harian

Kawasan wisata bernuansa kota tua di jantung Banjarmasin kini menjelma menjadi magnet baru para penikmat gaya hidup urban. Deretan bangunan bersejarah yang disulap menjadi kafe retro, toko kreatif, hingga ruang berkumpul komunitas, setiap hari dipadati pengunjung. Di balik keramaian tersebut, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan penting menjaga denyut ekonomi Kota Seribu Sungai.

Langkah revitalisasi kawasan heritage oleh Pemerintah Kota Banjarmasin menjadi pemicu tumbuhnya pusat aktivitas ekonomi berbasis kreatif. Seiring itu, jumlah UMKM yang membuka usaha di wilayah kota tua terus meningkat — terutama di bidang kuliner, kerajinan tangan, dan ritel fesyen sederhana. Momen akhir pekan dan libur panjang memperlihatkan lonjakan kunjungan, berdampak langsung pada penjualan produk lokal, mulai dari minuman racikan khas hingga jajanan tradisional. Warga pelaku usaha memanfaatkan situasi ini untuk memperluas lapak dan membuka usaha baru, seperti kedai kopi rumahan, penjual makanan kaki lima, sablon, dan aksesori lokal.

Fenomena nongkrong sebagai gaya hidup kini bukan lagi sekadar tren budaya populer, tetapi telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi perkotaan. Ketika aktivitas warga bergeser ke dalam ruang-ruang publik kreatif, aliran belanja pun menguat di sektor informal. Tanpa menunggu investasi besar atau kehadiran ritel modern, kawasan kota tua membuktikan bagaimana ekonomi kota bisa tumbuh dari bawah selama ada ruang bagi UMKM untuk berkembang. Memasuki 2025, tekanan ekonomi akibat kenaikan bahan pokok maupun dinamika global masih terasa.

Dalam situasi seperti ini, UMKM hadir sebagai bantalan strategis. Mereka menyerap tenaga kerja secara fleksibel, menyediakan produk yang terjangkau, serta menjaga perputaran uang tetap di lapisan terbawah masyarakat. Dengan kata lain, penguatan UMKM tidak hanya menjadi strategi pemulihan, tetapi juga kunci menjaga stabilitas sosial dan ekonomi kota.

Meski penuh peluang, sejumlah pekerjaan rumah masih menanti. Akses pembiayaan yang terbatas, kemampuan pengelolaan bisnis yang belum merata, dan kompetisi dengan jaringan franchise menjadi ancaman nyata. Tanpa perlindungan kebijakan dan peningkatan kapasitas, pelaku usaha lokal berisiko tersingkir oleh persaingan yang tidak seimbang.

Kini, kawasan kota tua tidak lagi sekadar destinasi berfoto estetik, melainkan ekosistem ekonomi akar rumput yang hidup. Menjaga keberlanjutannya berarti memastikan UMKM tetap menjadi aktor utama, bukan hanya penghias lanskap wisata. Dibutuhkan komitmen kolaboratif dari pemerintah daerah, perbankan, hingga masyarakat untuk mendorong usaha kecil terus tumbuh mengikuti arus perubahan gaya hidup warga kota. Bila dirawat dengan baik, geliat ekonomi dari deretan bangunan tua ini berpotensi menjadi simbol baru kemandirian ekonomi Banjarmasin di tengah era kompetisi yang semakin ketat. (Muhammad Irfani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!