Kisah Menyentuh Irjen Kemenag Gendong Jemaah Haji Kepanasan
Foto Ilustrasi - Irjen Kemenag Khairunas.menggendong seorang jemaah haji lansia yang kepanasan dan kebingungan karena diturunkan bus bukan pada hotelnya pada musim haji tahun lalu.. (Foto-MCH Indonesia).
Perjalanan ibadah haji menyimpan kisah-kisah menyentuh.Seribu kisah menjadi lembaran tersendiri dibalik indahnya melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Selain ketatnya masuk kota Makkah, jemaah sempat tak kebagian tenda hingga cuaca panas yang cukup ekstrem.
Tahun Ini memang cuaca di kota Makkah terbilang panas. Suasana cerah namun Sangat panas. Suhu tertinggi 45°C dan Angin barat laut berkecepatan 10 hingga 20 mph (satuan kecepatan).
Tak heran jika cuaca panas menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji khususnya Indonesia.Mereka harus beradaptasi dengan kondisi di luar normal,dengan menjaga kesehatan dan menggunakan pelindung kepala atau payung saat berpergian ke luar penginapan maupun menuju Masjidill Haram.
Meskipun cuaca panas di Kota Makkah, semangat untuk memberikan pelayanan terbaik terus dilakukan mereka yang bertugas sebagai petugas haji. Dari yang setia menjaga pos penugasan dan siaga membantu jemaah di Mina dan Jamarat.
Pos-pos penjagaan ini pun juga ditempatkan di sekitar penginapan atau hotelnya para jemaah.Hal ini demi memudahkan jemaah haji Indonesia mendapatkan layanan termasuk sejumlah info penting lainnya selama di tanah suci.
Seiring kembalinya jemaah Nafar Awal dari Mina, pos penjagaan bertambah di hotel jemaah di Makkah. Petugas juga berjibaku diantara terik siang kota Makkah, demi membantu jemaah setibanya di pemondokan, tidak terkecuali Irjen Kemenag Khairunas.

Di tengah keramaian Khairunas yang mengenakan seragam PPIH bertuliskan “Inspektorat Jenderal Kemenag” tiba-tia berlari kecil menyeberangi jalan. Dia pun langsung menemui seorang jemaah lanjut usia yang kebingungan. Khairunas pun bergegas menggendong jemaah lansia yang sudah lemas tak berdaya karena stroke.Jemaah ini pun kebingungan setelah diturunkan di hotel yang bukan tempatnya menginap.
“Saya sebenarnya dalam kondisi yang kurang fit juga, masih minum obat. Tapi saya tidak tega melihat jemaah tidak bisa jalan dan mau menyeberang jalan, habis diturunkan oleh Bus dari Mina di hotel yang bukan tempat dia menginap,” tuturnya di Makkah, Minggu siang (08/06/2025).
Khairunas sendiri mengaku apa yang dilakukan semata-mata ingin membantu jemaah haji, meskipun yang dilakukannya hanya hal-hal kecil. Dia tak mau hanya menerima laporan semata, namun bersama petugas haji lainnya turun ke lapangan.Karena pelayanan kepada jemaah haji harus menyeluruh dan jangan sampai jemaah mengalami hal-hal yang tidak dinginkan.
Selain memantau, Irjen Khairunas ikut turun tangan dan terlibat. Dirinya tetap memantau pergerakan jemaah haji, dengan harapan dapat terlayani dengan baik semuanya. Ini ikhtiar untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan jemaah haji Indonesia.
Khairunas mencatat, tindakan syarikah yang menurunkan jemaah tanpa memperhatikan kondisi fisik dan lokasi pemondokan sebagai kelalaian serius.
“Ini menjadi catatan kinerja syarikah yang tidak memerdulikan kondisi jemaah haji saat menurunkan jemaah dari Mina,” ungkapnya dari kawasan Misfalah, Makkah.
Irjen Kemenag berharap peristiwa semacam ini tidak terulang dan menjadi bahan evaluasi bersama.
“Ke depan akan menjadi rekomendasi kami. Tindakan syarikah yang menurunkan jemaah tanpa memperhatikan kondisi fisik dan lokasi pemondokan sangat disayangkan. Ini akan kami jadikan bahan evaluasi terhadap syarikah yang tidak kooperatif dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi,” tegas Irjen Khairunas.(Olpah Sari/Tim MCH Indonesia).
