Gantikan Ayah Berhaji Kerinduan Panjang Nuudjaina

0
HAJI MUDA UTAMA

Nuudjaina Jamaah haji termuda Kloter Banjarmasin bersama sang ibunda, Mas'an.

Banyak kisah terselip dari pelaksanaan ibadah haji. Mulai yang menginspirasi hingga kisah yang menggetarkan hati. Mereka ada di tengah-tengah riuhnya musim haji.

Musim haji 2025 momen terindah sekaligus mengharukan bagi seorang Nuudjaina. Jamaah termuda asal Banjarmasin akhirnya bisa berangkat ke tanah suci bersama ibunda tercinta. Keinginannya menunaikan ibadah haji lebih cepat diluar perkiraan semula. Rencananya ia baru berhaji puluhan tahun sendirian aja, sesuai jadwal yang diterima.

“Namun ada cerita Allah ulun harus berangkat tahun ini bersama mama.Karena menggantikan posisi abah yang meninggal enam bulan lalu. Ada rasa bahagia ada juga sedihnya.Karena tak bisa berangkat bersama abah, mohon doanya untuk almarhum abah ulun,” tutur Nuudjaina, saat tiba di asrama haji Banjarbaru, Minggu petang (04/05/2025).

 

Jamaah haji Kloter Pertama Kalsel asal Banjarmasin saat berada di Jabal Rahmah Asrama Haji Banjarbaru.

Gadis berusia delapanbelas tahun ini, mengaku masih merindukan sosok ayahnya yang telah tiada. Karena anak kedua ini selalu kemana-mana termasuk menunai ibadah umroh selalu ditemani ayah tercinta. Namun apa mau dikata kepergian orang yang dicinta membuat dirinya harus tegar dan kuat menjalaninya.

“Bagi ulun tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, dirangkaikan dalam sejuta rasa, pokoknya bahagia dan sedih menyatu dalam rasa. Namun ulun bersyukur bisa bersama mama ibadah haji bersama.Ulun yakin abah dari sana sangat bahagia menyaksikan kami berdua,” ucapnya bergetar menahan haru.

Bagi gadis muda lulusan MAN 3 Banjarmasin, kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dalam untaian kata adalah diberikan kemudahan menunaikan ibadah haji di usia muda.Padahal tak terbayangkan olehnya bisa berangkat bersama mamanya.Ia pun bersyukur ada pesan indah dibalik keberangkatan haji yang penuh cerita diantara tetesan air mata.

 

Jamaah Kloter Pertama Banjarmasin dari Kampus STIE Pancasetia.

“Yang pertama niat ibadah buat nyari keberkahan dari Allah SWT semata, terus buat ngedoain almarhum, sama keluarga yang juga nggak ada,” ujarnya ditemani Mas’an, sang mama.

Sementara itu, Mas’an mengaku meski sedih tak bisa menunaikan ibadah bersama suami, namun setidaknya ia bisa mendamping putri tercinta.

“Memang sekarang rasanya berbeda, sekarang sama anak. Tapi rasanya sedih sih, tapi Alhamdulillah ada yang mendampingi. Ulun bahagia ada Nuudjaina berangkat haji bersama, ” ucap warga Kayu Tangi, Banjarmasin.

Mas’an menyampaikan, dirinya harus menunggu puluhan tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji. Ia pun mengaku sudah menyiapkan segalanya, termasuk kondisi tubuh yang prima.
“Persiapan olahraga setiap hari ya, setiap pagi, karena kan di sana ibadahnya kebanyakan fisik ya, Insya Allah fisik sudah siap. Insya Allah ngga ada apa-apa di sana, apalagi ada disisi Nuudjaina ,” katanya sembari mengajak makan malam anaknya di asrama haji. (Olpah Sari).

Olpah Sari – Jurnalis – Pemimpin Umum Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!