Menekraf Teuku Riefky dukung Jakarta Jadi Kota Sinema
Menteri Ekonomi Kreatif,Teuku Riefky Harsya bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilh, Rano Karno. (Foto-Biro Komunikasi Kemenekraf).
Meskipun bakal menjadi kota sejarah, wisata dan siap-siap ditinggalkan sejak Ibu Kota Negara dipindah ke Kaltim, Jakarta masih menggeliat dan tak terlupakan. Bahkan kota yang sarat sejarah ini bagian tak terpisahkan dengan sejarah penting Indonesia.
Dilansir dari Hepeabis.Id disebutkan sejak Proklamasi Kemerdekaan RI pada 1945, Jakarta telah menjadi pusat kegiatan politik dan pemerintahan. Kemudian secara resmi Jakarta menjadi Ibu Kota Negara pada tahun 1966. Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta makin berkembang dengan pesatnya pembangunan lokasi bisnis, dan lainnya.
Nanti pun setelah tidak menjadi ibu kota lagi, Jakarta diharapkan akan tetap bersinar dengan julukannya sebagai kota kreatif dan kota budaya. Terlebih pada 2021 lalu, Jakarta pernah dinobatkan sebagai City of Literature yakni salah satu kota kreatif dunia di bidang literatur oleh UNESCO.
Jakarta sendiri pun mendapat perhatian khusus Kementerian Ekonomi Kreatif.Bahkan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/Kabekraf) Teuku Riefky Harsya turut menyampaikan dukungannya untuk mendukung Jakarta menjadi Kota Sinema.
Hal ini diungkapkannya di sela-sela Malam Insan Film bertajuk ‘Menuju Jakarta Kota Global Kota Sinema’ di Balai Agung, Balai Kota Jakarta pada Selasa, 4 Februari 2025, yang diselenggarakan Pemprov DKJ bersama Festival Film Tempo.
“Saat ini Kementerian Ekonomi Kreatif siap berkolaborasi untuk mengaktivasi kota Jakarta sebagai kota Ekonomi Kreatif khususnya berbasis Sinema, dengan melakukan berbagai kegiatan Ekraf mulai dari tahun 2025 hingga tahun 2027 dalam rangka menyongsong 5 abad Jakarta yang diantaranya dengan kegiatan untuk mendukung status Jakarta menjadi Kota Global Kota Sinema,” ujar Menekraf Riefky.

Senada dengan itu Arif Zulkifli ,CEO Tempo Media Group menyebutkan Kota Sinema menjadi penting karena dari sinema tersebut kebudayaan bisa diukur. Sedikitnya Ada sekitar 50 film yang berlatar belakang Jakarta dengan kekayaan sinema yang penuh dinamika.
“Maka, ini jadi pemantik supaya Jakarta jadi Kota Sinema yang istimewa. Mudah-mudahan ini sebagai bentuk ikhtiar bersama agar kita tak mengumpat gelap tapi justru menyalakan lilin.” kata Arif Zulkifli juga akan menghelat Festival Film Tempo.
Menekraf Riefky menekankan bahwa Ekonomi kreatif khususnya industri film telah menjadi salah satu pilar utama dalam membangun identitas budaya, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan meningkatkan daya saing bangsa tingkat global
“Kita perlu terus memperkuat ekosistem industri film dengan mempermudah akses pembiayaan, memperluas akses pasar, mempermudah perizinan produksi, dan meningkatkan kualitas SDM serta kualitas produksi maupun distribusi film ke pasar global,” imbuh Menekraf Riefky yang didampingi Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenekraf Agustini Rahayu.
Menekraf Riefky menegaskan industri film bukan hanya sekadar hiburan tetapi juga bagian dari diplomasi internasional yang dapat memperkenalkan produk ekonomi kreatif Indonesia ke dunia. Perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual seperti karya film juga jadi tantangan dalam mewujudkan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
“Film menjadi pondasi yang mendukung keyakinan publik di mana dari sekitar 82 juta penonton bioskop sepanjang 2024, sebanyak 65 persen menonton film Indonesia. Pada Malam Insan Film Jakarta yang dapat dilakukan secara berkelanjutan ini, penting untuk menerapkan kolaborasi hexahelix yang melibatkan enam pilar utama seperti Pemerintah (Pemerintah Daerah), akademisi, pelaku bisnis atau asosiasi, komunitas, media, dan lembaga keuangan,” ujar Menekraf Riefky.
Pihak juga mengapresiasi Pemprov DKJ dan Tempo Group yang telah menginisiasi Kegiatan Malam Insan Film sebagai upaya untuk terus mendukung ekosistem film nasional sehingga memiliki tekad Jakarta menjadi Kota Sinema dalam menyongsong 5 abad Jakarta.
“Perfilman bukan hanya tentang seni tetapi juga menjadi pilar penting bagi ekonomi kreatif sehingga insan perfilman bisa menggambarkan kehidupan dan dinamika pengembangan kota Jakarta,” tambahnya lagi.
Malam Insan Film tersebut juga dihadiri langsung acara tersebut, Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi, Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007 Sutiyoso, Pj Gubernur DKI Jakarta periode 2016-2017 Soni Sumarsono, Wakil Gubernur Jakarta Terpilih periode 2025-2030 Rano Karno, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Daerah Khusus Jakarta Andika Permata, Ketua Festival Film Indonesia Ario Bayu, aktor senior Slamet Rahardjo serta beberapa perwakilan insan perfilman Indonesia.
“Ekosistem perfilman perlu terus diperbaiki. Shooting di Belanda lebih murah dari di Jakarta, shooting di stasiun kereta Belanda, bayar €2000 masih kembali dari cash rebate. Shooting di Changi Airport, lebih murah dari di Soekarno Hatta. Ini harus diperbaiki. Saya senang Menekraf tadi bilang sudah menggandeng Bappeda. Berarti ini punya peluang besar untuk segera diperbaiki” ujar Rano Karno.(Fikri Husaini-Risanta).
