Alhamdulillah Pesepeda Sumut Sampai Jua Ke Samarinda
Abdul Razak dan Club Sepeda Ontel Djos PM di depan Majelis Ta'lim Nurul Amin, Pimpinan KH Dzhoparuddin (Guru Udin), Samarinda.
“Tasulisih Jalan” Dengan Guru Udin, Namun Tetap Menunggu Kembali Ke Samarinda
Masih ingat dengan Muhammad Abdul Razak? Pesepeda asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara yang viral, karena nekad bersepeda dari kampung halaman ke Sekumpul Martapura, Kalsel untuk menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul, awal Januari 2025 barusan.
Usai menghadiri Haul Guru Sekumpul, lelaki yang gowes dengan sepeda ontel tua melakukan serangkain ziarah ke sejumlah ulama di Kalsel. Rabu (08/01/2025) Abdul Razak pun melanjutkan petualangnya “Ritual Sepeda” ke kota Samarinda, sembari menyinggahi sejumlah masjid dan ziarah ke makam ulama di sepanjang perjalanan Kalsel dan Kaltim.
“Alhamdulillah, inilah nazar ulun setelah bisa hadir ke Haulan Abah Guru Sekumpul, melanjutkan perjalanan panjang bersepeda ke Samarinda, Kaltim. Insya Allah ulun handak silaturahmi dengan Tuan Guru Udin. Namun begitu tiba Minggu pagi (12/01/2025) beliau ternyata lagi perjalanan dakwah ke Banjarmasin,” cerita Abdul Razak begitu tiba di kota Samarinda.
Meskipun tasulisih dengan Guru Udin, pria ini tetap bersemangat menunggu kedatangan Guru Udin datang kembali ke Samarinda. Sembari menunggu ulama yang merupakan salah satu murid Abah Guru Sekumpul, Abdul Razak memanfaatkan waktu mengunjungi sejumlah makam ulama dan masjid yang ada di Samarinda.
Abdul Razak sendiri mengaku bersyukur, kedatangannya disambut hangat warga Samarinda, Kaltim. Bahkan di tengah kelelahan yang luar biasa mengayuh sepeda setelah hampir 548 Kilometer lebih, dirinya disambut konvoi sepeda “Club Sepeda Jadul Djos PM” yang diketuai Goweser senior Supodo.
Abdul Razak pun langsung dibawa menikmati teh panah dan menikmati nasi kuning serta jajanan hangat lainnya, makan bersama lesehan di Taman Bebaya,Samarinda.
Taman Bebaya sendiri terletak di Tepian Mahakam, Jalan Slamet Riyadi, Kota Samarinda itu cukup ikonik. Kawasan ini merupakan Ruang Terbuka Hijau itu dibangun dengan berbagai bangunan rumah-rumahan bentuk buah.

Hangatnya sambutan komunitas sepeda Samarinda, membuat jamaah Abah Guru Sekumpul ini,terharu dan tak menyangka bakal disambut meriah.Bahkan sepanjang perjalanan dia disalami sejumlah warga yang menyambutnya.
“Ulun bersyukur sekali disambut penuh kekeluargaan oleh warga Samarinda, terlebih dingsanak-dingsanak (saudara) dari Club Sepeda Jadul Djos PM. Selepas salat Subuh mereka menunggu dan menyambut di batas kota hingga membawai sarapan lesehan di Taman Bebaya Samarinda,” ujar Abdul Razak, kepada Tim Economic Travelling.Com.
Sembari menyeruput teh panas dan wadai untuk hangat, Abdul Razak pun menceritakan bagaimana perjuangannya mengayuh sepeda sejak keluar dari perbatasan Kalsel menuju Kaltim. Medan menanjak dan trek penuh tikungan membuat tenaganya benar-benar terkuras.
“Tanjakannya banyak sekali dan lumayan tinggi terutama di Gunung Rambutan dan Bukit Soerharto, Kaltim. Alamak, jar urang mun kada kuat mental dan fisik “jingkar dapatnya,”. Tapi Alhamdulillah biar pelan namun selamat, akhirnya bisa dilewati,”tutur Abdul Razak sembari mengoleskan conterpan ke kakinya yang masih pegal.

Abdul Razak sendiri menyebut Gunung Rambutan memang cukup ekstrem bagi pesepeda. Gunung Rambutan merupakan salah satu puncak gunung di daerah bergelombang hingga berbukit di Kabupaten Paser. Daerah ini juga memiliki puncak gunung lainnya, seperti Gunung Sarumpaka dan Gunung Lumut. Kendati demikian dia sangat menikmati perjalanan bersepeda penuh tanjakan dan tikungan di kawasan ini.
Demikian pula dengan Bukit Soerharto. Perjalanan malam hari memberikan nuansa tersendiri ditemani sinar sang rembulan. Bukit Soeharto sendiri adalah nama yang diabadikan untuk Presiden kedua RI, yang konon pernah melakukan perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda melalui bukit tersebut.
“Ini perjalanan yang berkesan melintasi kawasan Bukit Soeharto, yang merupakan masih cukup asri dengan adanya beberapa jenis pohon yang rindang. Alhamdulillah serasa jalan milik sendiri mengayuh malam-malam berbalut udara dingin,” kata pria yang mengaku aman-aman saja meskipun Bukit Soeharto identik dengan kawasan mitos angker.
Abdul Razak sendiri bersyukur diberikan kesehatan badan dan waktu bersepeda hingga ke Bukit Soeharto serta sampai ke Samarinda. Karena tak terbayangkan sebelumnya bisa menginjakan kaki Ke Kalimantan Timur. Perjalanan ritual bersepeda membawa cerita tersendiri bagi pria yang berniat umroh suatu saat bersepeda dengan teman-temannya kelak.

“Allah memberikan kemudahan perjalanan ulun, di tengah perjuangan yang cukup melelahkan sampai ke Pulau Kalimantan. Bisa hadir bersama jutaaan jamaah di Haulan Abah Guru Sekumpul, Martapura. Dan diberikan jalan ke Samarinda, untuk sebuah niatan silaturahmi dengan Tuan Guru Udin.Mudah-mudahan ulun dan pian semua jua diberikan keberkahan untuk tujuan kita yang baik ini,” ucap Abdul Razak menatap jalan raya.
Rekam jejak perjalanan Abdul Razak ini mendapat apresiasi sejumlah kalangan di Kalsel maupun Kaltim, termasuk Kerukunan Bubuhan Banjar Sadunia. Karena dengan berbekal sepeda ontel tua mampu menjejahi Sumatera, Jawa dan Kalimantan, hanya karena kecintaan kepada para ulama.
“Ulun sangat terkesan dengan perjuangan perjalanan beliau ini. Motivasinya sangat menginspirasi dan konsisten mengayuh sepeda dengan kesederhaaan dan kedatangannya ke Kalsel dan Kaltim untuk bertemu ulama, terlebih menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul.Ulun mendoakan sidin terus sehatan dan bulik selamat ke kampung halaman sidin.Mudahan suatu saat ulun bisa badadapatan wan sidin. Sampaikan salam kami untuk beliau,” ujar Hero Setiawan atau Iwan Alabio, Wakil Bupati Terpilih Hulu Sungai Sungai Utara. (Muhammad Irfani).

