Kualitas Media dan Marwah Pers di Era Disrupsi
Catatan Kecil Dari Forum Pimpred Se-Kalselteng 2024 di Jawa Timur
“Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving.” Begitu pesan lama seorang Albert Einstein menyentak perhatian saya saat membuka jurnal-jurnal lama dalam bundelan tas usang, siang di kota Pahlawan Surabaya, edisi Nopember 2024.
Pernyataan yang dalam dan menginspirasi Einstein tersebut menggugah pikiran saya saat bertemu dengan sejumlah teman lama yang sekarang mengisi posisi penting sebagai Pimpinan Redaksi dan Perusahaan. Bahkan diantaranya memimpin organisasi pers terkemuka, seperti Zaenal Helmi (Ketua PWI Kalsel), Tantawi Jauhari (Ketua IJTI Kalsel),SA Lingga (Mentor, Sekretaris JMSI Kalsel), M Zaenal (Ketua PWI Kalteng), H Novendra Prayogi (Ketua PWI Hulu Sungai Utara), maupun Julius M Sinaga (Ketua PWI Barito Selatan) hingga pesepakbola Balangan, Kurnadi Pranata (Ketua PWI Balangan).
Pertemuan khusus dan pertama dalam Forum Pimpinan Kalsel dan Kalteng yang diinisiasi Adaro Indonesia, di Surabaya, membuka lembaran baru dalam merefleksi perjalanan panjang pers di dua kawasan dalam daratan Kalimantan. Bagaimana tidak cukup lama tidak bertemu, membuat kami menjadikan forum diskusi ringan ini sebagai kata pembuka silaturahmi Pimpinan Redaksi dan Tokoh Pers berkelanjutan.Pertemuan ini pun menjadi agenda tahunan ke depannya.
“Jika Aku bisa ku akan kembali, Kuakan merubah takdir cinta yang kupilih.Meskipun tak mungkin walaupun ku mau, membawa kamu lewat mesin waktu,” , sepenggal larik Mesin Waktu yang dirilis musisi Budi Doremi, ada benarnya juga mencermati situasi yang terjadi sekarang, terutama perubahan yang membuat media dan penggiatnya bisa survive (bertahan).
Memang jika disadari sekarang era digital telah mengubah secara dasar landscap media dan jurnalisme konvensional. Karena industri media dihadapkan pada tantangan disrupsi, yang mengubah perilaku masyarakat untuk bisa mengakses beragam informasi dengan cepat. Sejatinya saat ini era perubahan dan digitalisasi saat ini, suka atau tidak suka sudah merubah dan membentuk tantangan bagi media massa. Jika tak bisa mengikuti perubahan, siap-siap tenggelam dalam disrupsi. Karena itu ada benar juga situasi pelik ini memaksa industri media untuk beradaptasi dengan cepat..
“Era ini benar-benar membuat media massa harus berada kondisi sigap dan paham dengan perubahan-perubahan.Karena media massa harus pintar-pintar memenej kondisi agar bisa survive dan berdamai dengan keadaan,” begitu ungkap Zaenal Helmi, Ketua PWI Kalsel, salah satu pembicara utama Diskusi Pimpinan Redaksi Se-Kalselteng, Senin (11/11/2024), di Meeting Room, Swissbelhotel, Surabaya, Jawa Timur.

Helmi sendiri tak mengelak media-media mainstream dihadapkan pada situasi “tak baik-baik saja”, terutama media cetak. Karena itu media cetak tak sedahsyat dulu dalam memproduksi koran-koran. Kendati demikian di Kalsel maupun Kalteng, koran masih dirindukan.
“Tantangan lain adalah perubahan perilaku konsumen berita. Mereka cenderung mengakses via internet dan media sosial, serta memilih konten-konten sesuai minat. Karena itu kita pun bergerak membuka media online dan bisa membaca arah perubahan perilaku konsumen,” cerita Helmi.
Akses yang instan memang tidak semua masyarakat bisa membedakan mana berita baik dan bohong (hoax). Terlebih ada kecenderungan banyak yang terjebak dengan konten-konten hoax yang tersaji lewat media sosial.
Jika mengacu sejumlah data survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 221,56 juta orang. Angka ini naik 2,67% dibandingkan periode sebelumnya.
Fakta lain seperti yang dilansir APJII menyebutkan tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 79,5%. Kontribusi penetrasi internet Indonesia berdasarkan gender, 50,7% berasal dari laki-laki dan 49,1% berasal dari perempuan. Tak hanya itu mayoritas pengguna internet adalah Gen Z (kelahiran 1997-2012) sebanyak 34,40%.
Selain itu sebagian besar pengguna internet menggunakan internet untuk menemukan informasi, berhubungan dengan teman dan keluarga, menemukan ide baru, mencari inspirasi, mengisi waktu luang, mengikuti berita, dan menonton video, TV, dan film. Sedangkan untuk Media sosial pengguna terbesar di Indonesia adalah WhatsApp (90,9%), Instagram (85,3%), Facebook (81,6%), dan TikTok (73,5%).
“Yang terpenting kita mesti mengedukasi masyarakat agar mereka mendapat informasi yang baik dan edukatif.Jangan sampai masyarakat tersuguhi informasi hoax. Karena itulah peran media massa dan Jurnalis membawa perubahan terbaik dalam era digital, sangat dibutuh menjaga ruang informasi jadi sehat dan penuh kabar baik,” ucap Tantawi Jauhari, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalteng.

Toto Fachrudin, praktisi media dan Wakil Direktur Radar Banjarmasin, memastikan industri pers itu tetap hidup di tengah kemajuan teknologi dan pergeseran pola membaca dari konsumen berita. Karena itu tumbuhnya media online sebagai salah satu dampak perubahan itu, harus diimbangi tersedianya SDM dan manajemen media yang baik.
“Yang terpenting adalah menjaga kualitas media dan menjaga ketersediaan SDM (Jurnalis) yang andal dan profesional. Disamping itu tetap mengedepankan kode etik dan UU Pers sebagai panduan utama, meskipun zaman telah berubah. Kalau tidak kita jaga itu, jangan berharap akan bertahan di tengah sengitnya persaingan dan perubahan“ kata pria yang juga Sekretaris PWI Kalsel.
Terlepas itu semua era digital sebut Royan Naimi, Pimpinan Redaksi Banjarmasin, membuka ruang dan peluang yang mesti bisa dimanfaatkan media. Tak dipungkiri masyarakat yang menggunakan smartphone satu era yang bisa memberikan ruang bagi media menangkap momen bagi sebuah pendapatan media.
Catatan Tribun Grup menjelaskan sebanyak 93% populasi dewasa di 18 negara maju telah memiliki dan menggunakan smartphone. Di era serba digital saat ini, lesunya industri media massa cetak bukan lagi sebuah hal baru. Di sisi lain, konsumsi berita dan konten melalui media daring telah menjadi bagian dari kehidupan modern sehari-hari.
Bagi perusahaan yang awalnya bergerak pada bisnis surat kabar cetak, adaptasi melalui transformasi digital menjadi sebuah tantangan yang tak terelakkan. Ini menjadi satu-satunya cara agar tetap bertahan di era gempuran digital.
Divisi Koran Daerah Kompas-Gramedia (Group of Regional Newspaper) yang berkantor pusat di Jakarta, pada 22 Maret 2010 meluncurkan brand Tribunnews. Brand baru ini menyikapi pertumbuhan teknologi informatika. Situs berita ini menyajikan berita-berita dari harian Tribun dalam tampilan realtime, lebih singkat dan update dalam jangkauan nasional, olahraga, seleb, lifestyle dan berbagai macam berita lainnya.

Situs berita Tribunnews saat ini didukung 30 situs harian lokal yang juga memiliki platform online, berada di bawah jaringan Tribun. Dalam waktu tidak terlalu lama lagi, situs dengan brand Tribun akan terus bertambah, tiga portal diluncurkan, yaitu TribunLombok.com, TribunPapua.com, TribunCirebon.com. Selain portal media lokal versi online, Tribun juga mempunyai satu portal khusus video dengan alamat Tribun-Video.com, satu portal e-commerce dengan alamat TribunJualBeli.com dan tiga media style di antaranya TribunStyle.com, TribunTravel.com dan TribunWow.com
“Alhamdulillah Tribun memulai dengan memanfaatkan momen-momen seperti itu. Tentunya butuh proses dan perjalanan yang juga menyesuaikan dengan kondisi daerah dan perubahan yang terjadi,” ucap Royan.
Diskusi panjang disertai kopi hitam dan teh tarik memang bagian lain pertemuan dua jam, sebelum kami mengeksplore Jawa Timur selama empat hari. Setidaknya diskusi ini membuka spirit baru bagaimana menumbuhkan industri pers yang sehat dan terjaga marwahnya.
Ada hal menarik yang mesti terjaga, selain menaikkan kualitas media sebagai sentral informasi sehat, edukatif dan memberikan sejahteraan bagi pekerjanya dan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Muhammad Risanta, SE, MM
Ahli Pers Dewan Pers – Dosen STIE Pancasetia
