Satu Jam Bersama Ahli Pers Muhammad Risanta

0
ON AIR 5

Pers Profesional itu Menjunjung Martabat, Undang-Undang Pers dan Kode Etik

 Rabu 9 Pebuari 2022, semestinya pria yang kerap disapa Bang Risanta sudah berada di Kota Kendari untuk menghadiri Perayaan Hari Pers Nasional disana. Bersama sejumlah rekan media dan penggiat pariwisata jauh-jauh hari ia menjadwalkan berpergian ke ibukota Sulawesi Tenggara. Maklum saja selain melihat langsung sejumlah agenda HPN 2022, seperti Konvensi Nasional Media Massa, rencananya akan menjelajah ke sejumlah destinasi wisata.

Namun beberapa hari sebelum Hari H, Bang Risanta memutuskan untuk menunda keberangkatan dan memilih di daerah saja. Rupanya penggemar kuliner Siomay dan Ketupat Kandangan ini, ingin berbagi sesuatu dengan kawan-kawan di radio. Tepat jam 10 pagi, pria yang dikenal sebagai Ahli Pers Dewan Pers dan wartawan senior di Banjarmasin, meluncur dari base camp menuju Radio Abdi Persada FM di kawasan Perkantoran Pemprov Kalsel, Trikora, Banjarbaru.

“Alhamdulillah, kami memutuskan untuk mengikuti dialog di radio,sekedar berbagi pengalaman, sharing dengan masyarakat terkait pers. Apalagi saya udah janji lama dengan kawan-kawan di radio ini,” jelas Muhammad Risanta, wartawan Transmedia Grup, saat berada di studio Abdi Persada FM,Banjarbaru, Rabu (09/02/2022).

 

Dalam Dialog Agenda yang dipandu Host Endah Sari di Radio Abdi Persada FM, Muhammad Risanta pun bercerita banyak terkait kondisi pers saat ini dan bagaimana peranan pers dalam upaya membantu penanganan Covid-19, serta upaya pers menangkap isu-isu hoax dan ujaran kebencian. Ia pun mendeskripsikan bagaimana upaya membangun kualitas SDM dan profesionalisme wartawan dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini. Salah satunya melalui Uji Kompetensi Wartawan atau UKW dan terus menjunjung kode etik jurnalistik.

“UKW sendiri sejatinya adalah sebuah pemantapan seperti meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan. Dan terpenting adalah menjaga harkat martabat kewartawanan sebagai profesi khusus penghasil karya intelektual, serta menghindarkan penyalahgunaan profesi wartawan,” kata Risanta yang juga menjabat sebagai Humas Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Kalsel.

Dalam obrolan santai tersebut, Risanta yang juga Dosen di STIE Pancasetia Banjarmasin, menegaskan peran penting pers bagi masyarakat dalam menghadapi pandemi. Peran tersebut seperti yang disampaikan pula wartawan senior Suryopratomo (sekarang Dubes Indonesia Untuk Singapura), meliputi mencerdaskan, mencerahkan dan mengawasi.

 

 

Mencerdaskan sendiri dianalogikan sebagai memberikan informasi yang dapat membuat masyarakat paham dan mengerti dengan baik bagaimana bisa terhindar dan tidak terinveksi virus Covid-19. Sedangkan fungsi mencerahkan adalah bagaimana mengajak masyarakat bisa melakukan tindakan yang cerdas dan sesuai standar, termasuk menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan disiplin.

“Yang terpenting pula pers itu mengawasi, yang bertujuan untuk mengoreksi kinerja pemerintah, termasuk kebijakan-kebijakan untuk bisa bekerja dengan baik dan cepat.Seperti halnya penanganan kasus-kasus Covid, termasuk varian terbarunya Omicron. Mengoreksi atau mengkritisi bukan untuk menghancurkan atau mencari-cari kesalahan, namun adalah bagaimana muncul masalah ada penanganan dan solusinya. Inilah peran media dan kawan-kawan wartawan pada masa era pandemi ini,” ujarnya sembari menyeruput kopi hitam.

Risanta sendiri dikenal sebagai wartawan pekerja keras dan tahan banting. Terbukti hingga sekarang tetap bertahan di tengah ketatnya persaingan media dan munculnya wartawan-wartawan muda bertalenta. Meskipun dikenal sebagai salah satu wartawan senior, ia tetap rendah hati dan mau berbagi ilmu terkait jurnalistik. Sejumlah event pelatihan maupun workshop Jurnalistik pernah dilakukan dalam bendera Forum Komunikasi Jurnalis Kalimantan (FKJK). Kepiawaiannya mengelola organisasi dan dunia pendidikan, membuat organisasi yang dipimpinnya, FKJK sering menjadi konsultan media untuk kegiatan training-training jurnalistik. Bahkan Bank Indonesia sering memakai jasanya mengelola workshop untuk wartawan sejak tahun 2010 silam.

“Harapan kita sendiri ilmu jurnalistik bermanfaat untuk mereka yang benar-benar terjun di industri jurnalistik. Pembekalan sebagai penguatan kapasitas wartawan itu perlu sekali dalam mendorong terciptanya wartawan profesional dan handal, khususnya di banua ini. Tidak ada terlambat untuk belajar, menulis, mengelola media maupun tentang leadership organisasi media,” kata pria yang pernah mengenyam Pendidikan Jurnalistik Televisi (PJTV) di Universitas Indonesia.

 

 

 

Terkait era disrupsi sekarang, ia berharap wartawan harus terus mengupgrade kemampuan termasuk soal teknologi dan digitalisasi. Era ini memang tak bisa dihindari, sebab kalau tidak meningkatkan kemampuan dan bisa membaca peluang, maka akan tertinggal.

“Yang utama itu tetap kreatif dan menjaga martabat. Jika terjun di industri media, pedomannya adalah Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Menjaga marwah jurnalistik itu juga penting, sama halnya kita menjaga kemerdekaan pers,” pungkasnya.(Hero Setiawan).

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!