<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Skripsi Arsip &#8211; ECONOMIC TRAVELING</title>
	<atom:link href="https://economictravelling.com/tag/skripsi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://economictravelling.com/tag/skripsi/</link>
	<description>Economic Bussiness &#38; Tourism Intelegence Media</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jul 2026 23:22:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/cropped-Tanpa-judul-512-x-512-piksel-150-x-150-piksel-1-32x32.png</url>
	<title>Skripsi Arsip &#8211; ECONOMIC TRAVELING</title>
	<link>https://economictravelling.com/tag/skripsi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">197701090</site>	<item>
		<title>Menulis Karya Ilmiah yang Efektif</title>
		<link>https://economictravelling.com/2026/07/19/menulis-karya-ilmiah-yang-efektif/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2026/07/19/menulis-karya-ilmiah-yang-efektif/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 23:22:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Efektif]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Risanta]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Tesis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=25869</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Muhammad Risanta &#8220;Pak Risanta, menulis skripsi itu susah.&#8221; Kalimat itu hampir selalu terdengar setiap...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/07/19/menulis-karya-ilmiah-yang-efektif/">Menulis Karya Ilmiah yang Efektif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muhammad Risanta</strong></p>
<p>&#8220;Pak Risanta, menulis skripsi itu susah.&#8221;</p>
<p>Kalimat itu hampir selalu terdengar setiap semester. Ada yang mengucapkannya sambil tertawa, ada pula yang benar-benar merasa tertekan. Sebagian mahasiswa bahkan menganggap skripsi sebagai &#8220;monster&#8221; terakhir sebelum wisuda.</p>
<p>Padahal, yang sering membuat karya ilmiah terasa rumit bukanlah penelitian itu sendiri. Yang lebih sering menjadi persoalan adalah cara memulainya.</p>
<p>Tidak sedikit mahasiswa membuka laptop berjam-jam tanpa satu paragraf pun selesai ditulis. Ada yang sibuk memilih jenis huruf, mengatur margin, merapikan daftar isi, bahkan mengganti warna sampul. Ironisnya, rumusan masalah belum juga ditemukan.</p>
<p>Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di satu kampus. Hampir semua perguruan tinggi menghadapi tantangan yang sama. Data UNESCO menunjukkan kemampuan literasi masyarakat Indonesia terus mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi budaya menulis ilmiah masih membutuhkan perhatian serius.</p>
<p>Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) OECD juga berkali-kali menunjukkan bahwa kemampuan memahami bacaan dan mengolah informasi menjadi argumentasi masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi dunia pendidikan Indonesia.</p>
<p>Karena itulah, menulis karya ilmiah tidak cukup dipahami sebagai kewajiban akademik. Menulis disini maksudnya adalah latihan berpikir.</p>
<p>Dan latihan berpikir selalu dimulai dari keberanian bertanya.</p>
<p><strong>Tulisan yang Baik Selalu Berawal dari Rasa Ingin Tahu</strong></p>
<p>Semua penelitian lahir dari satu hal yang sangat sederhana, karena rasa penasaran.Contoh sederhana pertanyaan bisa dimulai mengapa omzet UMKM menurun?. Atau mengapa literasi keuangan masyarakat masih rendah?</p>
<p>Mengapa sebagian destinasi wisata berkembang pesat, sementara yang lain berjalan di tempat?</p>
<p>Mengapa produktivitas karyawan berbeda, padahal sistem kerjanya sama?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi bahan bakar penelitian.</p>
<p>Karya ilmiah bukan dimulai dari Bab I, tetapi dari keinginan memahami sebuah persoalan secara lebih mendalam.</p>
<p>Sayangnya, sebagian mahasiswa justru memulai dari kebiasaan yang keliru. Mereka mencari skripsi terdahulu, mengganti judul, mengubah nama objek penelitian, lalu berharap semuanya selesai lebih cepat.</p>
<p>Padahal, penelitian bukan pekerjaan menyalin. Penelitian itu adalah upaya menemukan jawaban.</p>
<p><strong>Ingat Menulis Bukan Mengumpulkan Kutipan !</strong></p>
<p>Ada anggapan bahwa semakin banyak kutipan, semakin ilmiah sebuah tulisan. Belum tentu itu.</p>
<p>Kutipan memang penting sebagai fondasi argumentasi. Namun, karya ilmiah bukan panggung untuk memamerkan berapa banyak teori yang berhasil dikumpulkan.</p>
<p>Yang jauh lebih penting adalah kemampuan penulis menjelaskan hubungan antara teori dengan persoalan yang sedang diteliti.</p>
<p>Seorang pembimbing biasanya dapat mengetahui dalam beberapa halaman pertama apakah mahasiswa memahami topik yang ditulis atau sekadar memindahkan isi buku ke dalam skripsinya.</p>
<p>Tulisan yang baik selalu memiliki isi pikiran dan suara penulisnya sendiri.</p>
<p>Teori berfungsi memperkuat analisis, bukan menggantikan cara berpikir.</p>
<p><strong>Memahami Struktur Sebelum Menulis</strong></p>
<p>Banyak mahasiswa menganggap struktur karya ilmiah sebagai aturan yang membatasi kreativitas. Padahal, susunan itu justru memudahkan penulis menyampaikan gagasannya secara runtut.</p>
<p>Secara sederhana, karya ilmiah terdiri atas tiga bagian besar.</p>
<p>Bagian awal memuat identitas tulisan, mulai dari halaman judul, abstrak, kata pengantar, hingga daftar isi. Bagian ini menjadi pintu pertama bagi pembaca untuk memahami arah penelitian.</p>
<p>Bagian inti merupakan jantung karya ilmiah. Di dalamnya terdapat pendahuluan yang menjelaskan latar belakang dan rumusan masalah, tinjauan pustaka sebagai landasan berpikir, metode penelitian yang menerangkan cara memperoleh data, hasil penelitian, pembahasan, serta kesimpulan yang menjawab persoalan sejak awal.</p>
<p>Sementara bagian akhir berisi daftar pustaka dan lampiran sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik atas seluruh sumber informasi yang digunakan.</p>
<p>Jika diibaratkan perjalanan, pendahuluan adalah alasan mengapa perjalanan dimulai, metode adalah rute yang dipilih, hasil penelitian merupakan pengalaman yang diperoleh di lapangan, sedangkan kesimpulan adalah cerita yang dibawa pulang.Khan cukup sederhana, mengapa berpikir rumit.</p>
<p><strong>Lima Langkah yang Membuat Tulisan Lebih Terarah</strong></p>
<p>Mahasiswa sering bertanya, Pak Risanta dari mana sebaiknya mulai menulis?</p>
<p>Jawabannya bukan dari Bab I, tetapi kita mulai dari ide.</p>
<p>Mulailah dari ide.</p>
<p>Tentukan topik yang benar-benar menarik perhatian. Ketertarikan akan membuat proses penelitian terasa lebih ringan.</p>
<p>Setelah itu, perbanyak membaca jurnal ilmiah, buku, laporan penelitian, dan artikel akademik yang relevan. Membaca membantu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sekaligus menemukan celah penelitian yang belum banyak dikaji.</p>
<p>Langkah berikutnya adalah menyusun kerangka tulisan. Outline berfungsi seperti peta perjalanan. Penulis mengetahui ke mana arah pembahasan akan dibawa sehingga tulisan tidak melebar ke mana-mana.</p>
<p>Barulah kerangka tersebut dikembangkan menjadi naskah utuh. Tidak perlu menunggu kalimat yang sempurna. Tuliskan dulu gagasan pokoknya, lalu sempurnakan melalui proses penyuntingan.</p>
<p>Revisi bukan tanda bahwa tulisan gagal. Justru dari revisi berkali-kali kualitas tulisan tumbuh dan berkualitas. Jangan takut dikoreksi dan direvisi tulisannya.</p>
<p>Hampir semua penulis hebat mengenal proses itu.</p>
<p>Metode Ilmiah Menjadikan Tulisan Layak Dipercaya</p>
<p>Salah satu pembeda karya ilmiah dengan tulisan populer terletak pada metode yang digunakan.</p>
<p>Prosesnya diawali dengan mengamati fenomena, merumuskan masalah, mempelajari berbagai referensi, menyusun hipotesis apabila diperlukan, mengumpulkan data, menganalisis temuan, lalu menyusun kesimpulan berdasarkan fakta yang diperoleh.</p>
<p>Urutan tersebut membuat setiap argumentasi memiliki dasar yang jelas.</p>
<p>Data tidak dipilih karena sesuai keinginan penulis. Data berbicara sebagaimana adanya.Makanya dari sini integritas akademik diuji.</p>
<p><strong>Artikel, Skripsi, Tesis, hingga Disertasi</strong></p>
<p>Perjalanan akademik memiliki jenjang yang berbeda.</p>
<p>Makalah menjadi media belajar menyusun argumentasi secara sederhana.</p>
<p>Artikel ilmiah melatih penulis menyampaikan hasil penelitian secara ringkas, padat, dan langsung pada substansi.</p>
<p>Skripsi menuntut mahasiswa sarjana membuktikan bahwa ia mampu melakukan penelitian secara sistematis.</p>
<p>Tesis membawa analisis ke tingkat yang lebih mendalam dengan kontribusi pemikiran yang lebih kuat.</p>
<p>Sementara disertasi diharapkan menghadirkan kebaruan yang memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Perbedaannya bukan terletak pada jumlah halaman, melainkan pada kedalaman analisis dan nilai kontribusinya.</p>
<p><strong>AI Membantu Menulis, Bukan Menggantikan Penulis</strong></p>
<p>Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara banyak orang bekerja, termasuk di lingkungan akademik.</p>
<p>AI mampu membantu mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, bahkan merangkum puluhan jurnal dalam hitungan menit.</p>
<p>Semua itu patut disyukuri, karena membantu menuntun menulis yang baik dan lebih profesional.</p>
<p>Namun teknologi tidak memiliki rasa ingin tahu. Karena tidak melakukan observasi lapangan, tidak berdialog dengan narasumber, dan tidak mengalami kegelisahan ketika menemukan persoalan penelitian.</p>
<p>Yang membedakan penulis dengan mesin tetaplah kemampuan berpikir kritis, membaca konteks, serta menjaga kejujuran akademik.</p>
<p>Karena itu, gunakan AI sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti nalar. Karena menulis itu adalah warisan intelektual.</p>
<p>Setiap karya ilmiah menyimpan jejak perjalanan berpikir penulisnya.</p>
<p>Skripsi mungkin selesai setelah sidang. Tesis akan menjadi bagian dari koleksi perpustakaan. Disertasi bisa menjadi rujukan bagi peneliti berikutnya.</p>
<p>Namun nilai sesungguhnya tidak berhenti pada dokumen yang tersimpan di rak-rak perpustakaan. Yang terus hidup adalah cara berpikir yang terbentuk selama proses penelitian.</p>
<p>Ketelitian membaca data, keberanian mempertanyakan fakta, kedisiplinan menyusun argumentasi, dan kejujuran menyampaikan hasil merupakan bekal yang akan dibawa jauh melampaui ruang kuliah.</p>
<p>Karena itu, jangan menulis hanya demi memperoleh gelar. Menulislah untuk membangun tradisi berpikir yang kritis, terbuka, dan bertanggung jawab.</p>
<p>Karya ilmiah yang baik tidak diukur dari tebalnya naskah atau banyaknya kutipan, melainkan dari kemampuannya menjelaskan persoalan dengan jernih, menawarkan pemahaman baru, dan memberi manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun kehidupan masyarakat.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone  wp-image-25850" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/07/RISANTA-PROFIL-BARU-300x240.jpg" alt="" width="450" height="360" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/07/RISANTA-PROFIL-BARU-300x240.jpg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/07/RISANTA-PROFIL-BARU-1024x819.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/07/RISANTA-PROFIL-BARU-768x615.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/07/RISANTA-PROFIL-BARU.jpg 1402w" sizes="(max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/07/19/menulis-karya-ilmiah-yang-efektif/">Menulis Karya Ilmiah yang Efektif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2026/07/19/menulis-karya-ilmiah-yang-efektif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">25869</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menulis Skripsi yang Berkelas</title>
		<link>https://economictravelling.com/2026/06/09/menulis-skripsi-yang-berkelas/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2026/06/09/menulis-skripsi-yang-berkelas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 22:53:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen Pembimbing]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen Penguji]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Semester Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=24938</guid>

					<description><![CDATA[<p>Skripsi Bukan Monster, Melainkan Panggung Terakhir Seorang Mahasiswa Oleh: Muhammad Risanta Setiap kali memasuki semester...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/06/09/menulis-skripsi-yang-berkelas/">Menulis Skripsi yang Berkelas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Skripsi Bukan Monster, Melainkan Panggung Terakhir Seorang Mahasiswa</strong></h1>
<p><strong>Oleh: Muhammad Risanta</strong><br />
<strong>Setiap kali memasuki semester akhir, suasana kampus biasanya mulai berubah. Di sudut perpustakaan, di kantin, bahkan di grup WhatsApp mahasiswa, satu kata mulai sering terdengar adalah skripsi.</strong></p>
<p><strong>Anehnya, kata itu sering diucapkan dengan nada yang sama seperti orang menyebut film horor. &#8220;Saya takut ketemu dosen pembimbing.&#8221; &#8220;Judul saya belum disetujui.&#8221;</strong></p>
<p>Bahkan ada pula yang menyebut &#8220;Data penelitian susah dicari.&#8221; Hingga &#8220;Skripsi itu monster.&#8221;</p>
<p>Saya sering tersenyum mendengar keluhan seperti itu. Sebab puluhan tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswa, saya juga pernah berada di posisi yang sama.</p>
<p>Deg-degan menghadapi bimbingan. Bingung menentukan judul. Bahkan sempat merasa bahwa skripsi adalah tembok tinggi yang sulit dilewati.</p>
<p>Padahal setelah dijalani, saya menyadari satu hal sederhana. Skripsi bukan monster yang menakutkan.</p>
<p>Skripsi hanyalah proses akademik yang mengajarkan mahasiswa berpikir lebih sistematis, lebih kritis, dan lebih dewasa dalam memecahkan persoalan.</p>
<p>Kalau selama kuliah kita belajar teori dari berbagai mata kuliah, maka skripsi adalah panggung terakhir untuk membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari itu benar-benar bisa digunakan untuk membaca realitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_24940" aria-describedby="caption-attachment-24940" style="width: 613px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-24940" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/06/SKRIPSI-2-300x116.jpg" alt="" width="613" height="237" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/06/SKRIPSI-2-300x116.jpg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/06/SKRIPSI-2-1024x396.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/06/SKRIPSI-2-768x297.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/06/SKRIPSI-2-1536x594.jpg 1536w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/06/SKRIPSI-2.jpg 1655w" sizes="(max-width: 613px) 100vw, 613px" /><figcaption id="caption-attachment-24940" class="wp-caption-text"><strong>Mahasiswa tengah riset-riset mencari bahan untuk penelitian dan menulis skripsi berkualitas di sebuat perpustakaan. (Foto &#8211; Risanta).</strong></figcaption></figure>
<p>Kalau mau jujur dan diresapi maknanya skripsi sesungguhnya adalah cerita. Bedanya, cerita itu ditulis dengan bahasa ilmiah.</p>
<p>Menulis ide menjadi Karya Ilmiah. Banyak mahasiswa menganggap skripsi identik dengan tumpukan teori, tabel statistik, dan revisi tanpa akhir.</p>
<p>Padahal inti dari skripsi sangat sederhana. Skripsi adalah proses menuangkan ide, rasa ingin tahu, dan kegelisahan intelektual ke dalam bentuk penelitian ilmiah.</p>
<p>Nah ketika seorang mahasiswa tertarik meneliti pengaruh media sosial terhadap perilaku belanja masyarakat, sesungguhnya ia sedang mencoba memahami fenomena yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Demikian pula saat mahasiswa ekonomi meneliti strategi UMKM bertahan di tengah persaingan digital, sesungguhnya ia sedang mencari solusi atas persoalan nyata yang dihadapi pelaku usaha.</p>
<p>Begitu pula mahasiswa pendidikan yang meneliti metode pembelajaran efektif. Mereka sedang berupaya memperbaiki kualitas pendidikan. Karena itu, skripsi seharusnya tidak menjadi beban.</p>
<p>Skripsi justru menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa untuk menunjukkan gagasan terbaiknya. Rahasia Skripsi Berkualitas Dimulai dari Topik yang Dicintai</p>
<p>Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah&#8221;Bagaimana membuat skripsi yang bagus?&#8221;</p>
<p>Jawaban saya cukup sederhana saja. Pilih topik yang mahasiswa sukai. Jangan memilih judul hanya karena ikut-ikutan teman. Jangan memilih topik hanya karena dianggap mudah.</p>
<p>Bahkan saya menyarankan pilihlah topik yang membuat penasaran.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Karena mahasiswa akan hidup bersama topik itu selama berbulan-bulan.Sudah pasti akan membacanya.Lalu menelitinya dan mendiskusikannya, bahkan mungkin memimpikannya.</p>
<p>Kalau sejak awal tidak tertarik, perjalanan skripsi akan terasa sangat panjang.Sebaliknya, ketika topik sesuai minat, proses penelitian terasa jauh lebih menyenangkan.</p>
<p><strong>Memahami Peta Perjalanan Skripsi</strong></p>
<p>Menulis skripsi yang benar sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan.</p>
<p>Langkah pertama adalah memahami pedoman penulisan kampus atau gaya selingkung. Setiap perguruan tinggi memiliki aturan berbeda mengenai format penulisan, margin, sitasi, hingga daftar pustaka.</p>
<p>Karena itu, mahasiswa wajib membaca buku pedoman sejak awal.</p>
<p>Jangan sampai skripsi sudah selesai tetapi harus direvisi besar-besaran hanya karena masalah teknis.</p>
<p>Beberapa dosen berpengalaman dan senior sering memberikan saran untuk menyusun proposal penelitian yang terdiri dari tiga bab utama.</p>
<p><strong>Bab 1: Pendahuluan</strong></p>
<p>Di sini  mahasiswa menjelaskan alasan mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.</p>
<p>Bab ini memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian</p>
<p>Saya sendiri selalu berbicara kepada mahasiswa, ibarat rumah, Bab 1 adalah pondasinya. Semakin kuat pondasi, semakin kokoh bangunan skripsi.</p>
<p><strong>Bab 2: Tinjauan Pustaka</strong></p>
<p>Bab ini berisi teori-teori yang mendukung penelitian. Mahasiswa perlu menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki dasar ilmiah yang kuat. Selain teori, mahasiswa juga harus membaca penelitian terdahulu.</p>
<p>Tujuannya agar penelitian yang dilakukan memiliki kebaruan dan tidak sekadar mengulang penelitian orang lain.Ini harus menjadi perhatian cukup tinggi bagi para mahasiswa.</p>
<p><strong>Bab 3: Metodologi Penelitian</strong></p>
<p>Bab ini menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan.</p>
<p>Apakah menggunakan metode kuantitatif? Kualitatif? Atau gabungan keduanya? Kemudian siapa respondennya.</p>
<p>Bagaimana cara mengumpulkan data? Bagaimana data dianalisis?</p>
<p>Metodologi yang baik akan memudahkan mahasiswa menjawab pertanyaan dosen penguji saat sidang.</p>
<p><strong>Jangan Takut Bertemu Dosen Pembimbing</strong></p>
<p>Banyak mahasiswa merasa dosen pembimbing adalah sosok yang menakutkan. Padahal dosen pembimbing adalah partner akademik.Ingat mereka bukan lawan.</p>
<p>Mereka justru ingin membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi dengan baik.</p>
<p>Karena itu, jangan menghilang ketika mengalami kesulitan.</p>
<p>Datanglah untuk berkonsultasi dan diskusikan kendala yang dihadapi.</p>
<p>Bimbingan yang rutin jauh lebih baik daripada datang sekali dengan membawa setumpuk masalah.</p>
<p>Saya sering mengatakan kepada mahasiswa,</p>
<p>&#8220;Dosen lebih senang melihat progres kecil yang konsisten daripada janji besar yang tidak pernah selesai.&#8221;</p>
<p>Satu halaman yang selesai hari ini jauh lebih baik daripada rencana menulis sepuluh halaman minggu depan. Menulis Sedikit, Tetapi setiap hari.</p>
<p>Kesalahan terbesar mahasiswa adalah menunggu inspirasi. Mereka ingin menulis ketika mood sedang bagus.Karena masalahnya mood sering kali tidak datang tepat waktu.</p>
<p>Karena itu,saya hanya memberikan saran jadikanlah menulis sebagai kebiasaan. Tidak perlu langsung lima halaman. Satu paragraf setiap hari pun tidak masalah. Yang penting bergerak.</p>
<p>Skripsi yang selesai bukanlah skripsi yang ditulis dalam satu malam.</p>
<p>Skripsi selesai karena dikerjakan sedikit demi sedikit secara konsisten.</p>
<p>Inilah prinsip yang sering saya sebut sebagai &#8220;Filosofi Bata.&#8221;</p>
<p>Sebuah gedung tinggi dibangun dari satu bata yang dipasang setiap hari. Begitu pula skripsi.</p>
<p><strong>Bab 4 Adalah Jantung Penelitian</strong></p>
<p>Ketika data sudah terkumpul, mahasiswa memasuki tahap paling menarik.Karena ini merupakan hasil penelitian mulai berbicara.</p>
<p>Tentunya data yang diperoleh harus diolah secara objektif. Jika menggunakan penelitian kuantitatif, mahasiswa dapat memanfaatkan aplikasi seperti SPSS.</p>
<p>Jika menggunakan penelitian kualitatif, analisis dapat dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan interpretasi data.</p>
<p>Yang terpenting adalah kemampuan membaca makna di balik data tersebut. Peneliti yang baik bukan sekadar pengumpul angka.</p>
<p>Peneliti yang baik adalah pencerita yang mampu menjelaskan apa arti angka-angka itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_12434" aria-describedby="caption-attachment-12434" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class=" wp-image-12434" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2024/07/STIEPAN-RISANTA-300x200.jpeg" alt="" width="510" height="340" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2024/07/STIEPAN-RISANTA-300x200.jpeg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2024/07/STIEPAN-RISANTA-1024x683.jpeg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2024/07/STIEPAN-RISANTA-768x512.jpeg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2024/07/STIEPAN-RISANTA-1536x1024.jpeg 1536w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2024/07/STIEPAN-RISANTA.jpeg 1920w" sizes="(max-width: 510px) 100vw, 510px" /><figcaption id="caption-attachment-12434" class="wp-caption-text"><strong>Penulis bersama para wisudawan saat Dies Natalis STIE Pancasetia Banjarmasin beberapa tahun lalu.(Foto &#8211; Risanta).</strong></figcaption></figure>
<p><strong>Sidang Skripsi Bukan Arena Eksekusi</strong></p>
<p>Banyak mahasiswa menganggap sidang skripsi sebagai ruang pengadilan. Padahal sidang skripsi adalah ruang dialog ilmiah.Paradigma berpikir harus mahasiswa ubah.</p>
<p>Penguji tidak sedang mencari kesalahan. Mereka ingin memastikan bahwa mahasiswa memahami penelitian yang telah dibuat.</p>
<p>Karena itu, kunci utama menghadapi sidang bukan menghafal seluruh isi skripsi. Kuncinya adalah memahami penelitian sendiri. Pahami mengapa memilih topik tersebut dan metodologi yang digunakan..</p>
<p>Selanjutnya juga pahami hasil penelitian yang diperoleh. Kalau penelitian itu benar-benar hasil kerja sendiri, pertanyaan dosen biasanya lebih mudah dijawab.</p>
<p>Skripsi Sempurna Adalah Skripsi yang Selesai. Banyak mahasiswa terjebak dalam perfeksionisme. Mereka ingin semuanya sempurna sejak awal. Akibatnya, tidak pernah mulai menulis.</p>
<p>Ingatlah satu hal. Tidak ada skripsi yang sempurna.</p>
<p>Bahkan setelah lulus, mungkin kita masih menemukan bagian yang bisa diperbaiki. Karena itu, fokuslah menyelesaikan skripsi terlebih dahulu. Perbaikan dapat dilakukan sepanjang proses bimbingan.</p>
<p>Lebih baik memiliki skripsi yang selesai daripada skripsi sempurna yang hanya hidup dalam angan-angan.</p>
<p><strong>Menjadi Sarjana yang Sesungguhnya</strong></p>
<p>Sesungguhnya skripsi bukan sekadar syarat memperoleh gelar Sarjana. Skripsi adalah proses pendewasaan intelektual.</p>
<p>Melalui skripsi, mahasiswa belajar mencari data, menguji teori, membangun argumen, serta mempertanggungjawabkan pendapat secara ilmiah.</p>
<p>Kemampuan itulah yang kelak dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan masyarakat.</p>
<p>Karena itu, jangan takut menghadapi skripsi. Hadapilah dengan rasa ingin tahu.Jadi nikmati saja prosesnya.</p>
<p>Belajarlah dari setiap revisi dan bertumbuhlah dari setiap kritik.</p>
<p>Sebab sesungguhnya skripsi bukanlah akhir perjalanan.</p>
<p>Skripsi itu hanyalah gerbang terakhir sebelum seorang mahasiswa memasuki dunia yang lebih luas.</p>
<p>Dan ketika lembar pengesahan itu akhirnya ditandatangani, tentu disadari akan monster yang selama ini ditakuti ternyata hanyalah tantangan akademik yang berhasil ditaklukkan.</p>
<p>Selamat berjuang, para pejuang tingkat akhir. Kampus menunggu lahirnya karya terbaik kalian.</p>
<figure id="attachment_23219" aria-describedby="caption-attachment-23219" style="width: 437px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-23219" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/04/RISANTA-WARTAWAN-DI-RESORT-UTAMA-240x300.jpg" alt="" width="437" height="546" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/04/RISANTA-WARTAWAN-DI-RESORT-UTAMA-240x300.jpg 240w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/04/RISANTA-WARTAWAN-DI-RESORT-UTAMA-819x1024.jpg 819w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/04/RISANTA-WARTAWAN-DI-RESORT-UTAMA-768x960.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/04/RISANTA-WARTAWAN-DI-RESORT-UTAMA.jpg 1024w" sizes="(max-width: 437px) 100vw, 437px" /><figcaption id="caption-attachment-23219" class="wp-caption-text"><strong>Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia &amp; Akademisi</strong></figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/06/09/menulis-skripsi-yang-berkelas/">Menulis Skripsi yang Berkelas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2026/06/09/menulis-skripsi-yang-berkelas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">24938</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Makna Skripsi di Balik Gelar Sarjana</title>
		<link>https://economictravelling.com/2025/12/13/makna-skripsi-di-balik-gelar-sarjana/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2025/12/13/makna-skripsi-di-balik-gelar-sarjana/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2025 06:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen Penguji]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Sarjana]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=20670</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Muhammad Risanta, SE, MM Bagi banyak mahasiswa, skripsi sering kali dipandang sebagai rintangan terakhir...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2025/12/13/makna-skripsi-di-balik-gelar-sarjana/">Makna Skripsi di Balik Gelar Sarjana</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Muhammad Risanta, SE, MM</strong></p>
<p><strong>Bagi banyak mahasiswa, skripsi sering kali dipandang sebagai rintangan terakhir sebelum garis finis bernama wisuda. Skripsi hadir bersama begadang panjang, revisi tanpa henti, dan perasaan campur aduk antara harap dan cemas.</strong></p>
<p><strong>Tak jarang skripsi dianggap sekadar formalitas akademik yang harus dilewati demi sebuah gelar. Padahal, di balik proses yang melelahkan itu, skripsi menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar syarat kelulusan.</strong></p>
<p>Skripsi adalah titik temu antara teori dan kenyataan. Selama bertahun-tahun mahasiswa dijejali konsep, definisi, dan rumus di ruang kelas. Skripsi memaksa semua itu turun ke bumi, diuji oleh data, realitas lapangan, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa itu sendiri.</p>
<p>“Di sinilah ilmu pengetahuan berhenti menjadi hafalan dan mulai menjadi alat memahami dunia,” begitu pandangan sahabat kami, Abdul Munir, Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.</p>
<p>Secara akademik, skripsi menjadi penanda bahwa seorang mahasiswa layak menyandang gelar sarjana. Ia menunjukkan bahwa mahasiswa mampu bekerja secara mandiri, merumuskan masalah, menyusun argumen, serta bertanggung jawab atas kesimpulan yang dihasilkan. Gelar sarjana bukan hadiah administratif, melainkan pengakuan atas proses intelektual yang telah dilalui.</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_20672" aria-describedby="caption-attachment-20672" style="width: 602px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-20672" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/KAMPUS-RISANTA-UTAMA-300x169.jpg" alt="" width="602" height="339" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/KAMPUS-RISANTA-UTAMA-300x169.jpg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/KAMPUS-RISANTA-UTAMA-1024x576.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/KAMPUS-RISANTA-UTAMA-768x432.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/KAMPUS-RISANTA-UTAMA.jpg 1280w" sizes="(max-width: 602px) 100vw, 602px" /><figcaption id="caption-attachment-20672" class="wp-caption-text"><strong>Penulis bersama mahasiswa dan salah satu Dosen senior di Kampus STIE Pancasetia, usai perkuliahan semesteran berakhir.</strong></figcaption></figure>
<p>Tradisi skripsi bukanlah hal baru. Ia tumbuh dari sejarah panjang pendidikan tinggi dunia yang menempatkan penelitian sebagai inti pembelajaran. Di Indonesia, kewajiban skripsi mengakar kuat seiring berkembangnya perguruan tinggi modern. Penelitian mahasiswa dipandang penting bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga sebagai kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan.</p>
<p>Dalam konteks nasional, jumlah skripsi yang dihasilkan setiap tahun sesungguhnya sangat besar. Dalam rentang 2020 hingga 2024, jutaan mahasiswa strata satu menyelesaikan studi mereka dengan skripsi sebagai tugas akhir.</p>
<p>Di balik angka tersebut tersimpan potensi pengetahuan yang luar biasa. Setiap skripsi adalah potret kecil dari persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga kebijakan publik yang dihadapi masyarakat Indonesia.</p>
<p>Bagi mahasiswa, proses menulis skripsi sering kali menjadi fase pendewasaan. Mereka belajar mengelola waktu, menghadapi tekanan, menerima kritik, dan bangkit dari kegagalan kecil yang berulang.</p>
<p>Tak berlebihan jika dikatakan bahwa skripsi bukan hanya menguji kecerdasan, tetapi juga ketangguhan mental. Banyak mahasiswa yang justru menemukan kepercayaan diri dan arah hidupnya setelah melewati proses ini.</p>
<p>Bagi perguruan tinggi, skripsi menjadi cermin mutu pendidikan. Kualitas skripsi mencerminkan kualitas pembelajaran, bimbingan dosen, dan iklim akademik kampus.</p>
<p>Tak sedikit hasil skripsi yang kemudian dikembangkan menjadi publikasi ilmiah, bahan kebijakan, atau program pemberdayaan masyarakat. Artinya, skripsi tidak selalu berakhir di rak perpustakaan, tetapi bisa hidup dan memberi dampak.</p>
<p>Sementara bagi masyarakat, skripsi mahasiswa sering menjadi sumber pengetahuan yang dekat dengan persoalan lokal. Penelitian tentang UMKM desa, layanan publik, pendidikan daerah, hingga ketahanan pangan sering lahir dari skripsi mahasiswa. Meski sederhana, penelitian ini kerap menjadi pijakan awal perubahan kecil yang bermakna.</p>
<p>Pada akhirnya, skripsi adalah proses, bukan sekadar produk. Sejatinya adalah adalah perjalanan intelektual yang mengubah mahasiswa menjadi sarjana dalam makna yang sesungguhnya. Gelar mungkin tertulis di ijazah, tetapi makna skripsi tertanam dalam cara berpikir, bersikap, dan memandang persoalan.</p>
<p>Di balik gelar sarjana, ada skripsi yang menempa. Dan di balik skripsi, ada proses panjang menjadi manusia pembelajar yang siap menghadapi dunia nyata dengan nalar dan tanggung jawab.Selamat berjuang dan bermanfaat!</p>
<figure id="attachment_20638" aria-describedby="caption-attachment-20638" style="width: 317px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-20638" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/RISANTA-BERDASI-KEREN-237x300.jpg" alt="" width="317" height="402" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/RISANTA-BERDASI-KEREN-237x300.jpg 237w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/12/RISANTA-BERDASI-KEREN.jpg 747w" sizes="(max-width: 317px) 100vw, 317px" /><figcaption id="caption-attachment-20638" class="wp-caption-text"><strong>Penulis adalah Jurnalis &amp; Akademisi.</strong></figcaption></figure>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2025/12/13/makna-skripsi-di-balik-gelar-sarjana/">Makna Skripsi di Balik Gelar Sarjana</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2025/12/13/makna-skripsi-di-balik-gelar-sarjana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">20670</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Solusi Menulis Skripsi Tanpa Plagiasi </title>
		<link>https://economictravelling.com/2022/01/03/solusi-menulis-skripsi-tanpa-plagiasi/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2022/01/03/solusi-menulis-skripsi-tanpa-plagiasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2022 00:24:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Munir MSc MM]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Plagiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Turnitin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=2121</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abd.Munir, MSc., M.M Menulis adalah bagian dari kenyataan yang harus dihadapi mahasiswa semester 7....</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2022/01/03/solusi-menulis-skripsi-tanpa-plagiasi/">Solusi Menulis Skripsi Tanpa Plagiasi </a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2></h2>
<h3><strong>Oleh Abd.Munir, MSc., M.M</strong></h3>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-2117 aligncenter" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/PA-MUNIR-1-285x300.jpeg" alt="" width="645" height="680" /></p>
<p>Menulis adalah bagian dari kenyataan yang harus dihadapi mahasiswa semester 7. Menulis 60-70 lembar halaman skripsi pada awalnya sangat mengkhawatirkan. Namun, jika dijalani dengan metode yang baik kita akan menemukan solusi yang mudah.</p>
<p>Adapun realitas yang terjadi selama 10 tahun terakhir ini adalah pola menulis skripsi atau tesis jauh berbeda sehingga gaya penulisan itu tergolong plagiarisme baru. Apalagi setelah adanya penemuan aplikasi <em>Turnitin</em> yang mampu mendeteksi sampai sejauh mana persentase unsur <em>similarity</em>  (kesamaan kata, frasa, klausa, dan kalimat) dalam tulisan ilmiah dimaksud. Jadi cara menulis dengan <em>copy paste</em> yang selalu digunakan oleh kebanyakan mahasiswa untuk menulis bab,1, 2, 3 bahkan 4 akan rentan terdeteksi <em>Turnitin</em>. Akan tetapi model penggarapan paper ilmiah ini tampaknya sudah membudaya di kalangan mahasiswa sehingga tak gampang begitu saja dihentikan, sehingga plagiat karya akademik dirasa sungguh mengancam generasi calon pemimpin bangsa ini, karena hamper seluruh perguruan tinggi dan universitas menanggung aib yang sama bahkan tak hanya sampai mahasiswanya tetapi juga yang lebih serius ditengarai para dosen pun turut terlibat kasus <em>intellectual crime</em> ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_2122" aria-describedby="caption-attachment-2122" style="width: 773px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-2122" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/ADNAN-UTAMA-OKE-300x200.jpg" alt="" width="773" height="515" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/ADNAN-UTAMA-OKE-300x200.jpg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/ADNAN-UTAMA-OKE-1024x683.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/ADNAN-UTAMA-OKE-768x512.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/ADNAN-UTAMA-OKE-1536x1024.jpg 1536w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/ADNAN-UTAMA-OKE.jpg 1920w" sizes="(max-width: 773px) 100vw, 773px" /><figcaption id="caption-attachment-2122" class="wp-caption-text">Foto Ilustrasi &#8211; Buah Perjuangan di bangku kuliah, akhir menggembirakan</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alhamdulillah, berkat penemuan Turnitin kampus-kampus dewasa ini sanggup mendeteksi sekaligus menghindari plagiasi. Karena melalui aplikasi ini tak hanya menjelaskan masalah pencuplikan karya orang lain oleh  mahasiswa, tetapi sekaligus memberikan solusi bagaimana mengatasi kecurangan itu. Caranya dengan mengganti kata per kata yang bersinonim atau mengubah struktur kalimat dari aktif ke pasif atau sebaliknya. Namun demikian hal itu hanya sebatas jalan pintas yang bersifat kuratif bukanlah upaya preventif yang sebenarnya harus dimiliki mahasiswa. Dengan Tindakan kuratif berarti hanya untuk menghadapi kasus sementara saja karena kesandung persentase Turnitin yang tinggi atau untuk sekadar lolos dari amar akademik seperti 20%, 30% atau bahkan 40% sebagai batas toleransi plagiasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Komposisi Bahasa Indonesia</strong></p>
<p>Yang akan mampu mengatasi plagiasi d/h <em>copy paste</em> yang dilakukan penulis sebagai tugas akhir saat kuliah adalah Komposisi Bahasa Indonesia, yaitu pelajaran menulis pada umumnya dan khususnya karang-mengarang ilmiah. Poin-poin penting dalam pelajaran tersebut: (1) Mencari inspirasi yang diilhami, (2) Menjaring ide, (3) Menemukan tema dan topik pembicaraan, (4) Menulis uraian atau kalimat tema, (5) Outline (introduksi, isi, konklusi), (6) Kalimat pengantar penulis, (7) Kalimat uraian penulis, (8) Kalimat simpulan penulis. Dalam komposisi dibahas masalah parafrase dengan manfaat yang komprehensif seperti: menghargai hak cipta, menghindari kebiasaan <em>copy paste</em>, ikut mencegah kasus plagiasi, mengembangkan produktivitas menulis, menggunakan diksi yang tepat,  serta menjelaskan wacana sebelumnya.</p>
<p><strong>Merangkum Materi Perkuliahan</strong></p>
<p>Inilah strategi yang ampuh untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu menulis secara mandiri bukan melalui <em>copas </em>yang selalu dilakukan karena itulah jalan yang paling mudah, murah dan dianggap akurat yang sudah difasilitasi internet. Akan tetapi dengan tugas rangkuman yang diberikan tiap dosen mahasiswa akan terbiasa dan menulis yang sebenarnya dan sejujurnya.  Yang tak kalah pentingnya adalah peran Dospem sebagai “Guru BK” untuk mewujudkan perubahan perilaku, dari budaya plagiat berubah menjadi etos menulis sejati.</p>
<p>Masalahnya adalah apakah tugas <em>merangkum</em> tersebut sudah dilakukan? Andaikan kegiatan itu sudah dilakukan upaya preventif akan terejawantah.</p>
<p>Adapun, <em>Control+C and Control+V</em> hanyalah solusi kuratif yang bersifat sementara atau <em>pain killer. </em>Misalnya penggunaan teknik parafrase dengan diksi, frasa/klausa, dan struktur kalimat.</p>
<p>Sebagai simpulan saya ambil istilah dalam Bahasa Jerman, yakni: <em>das Sein</em> dan <em>das Sollen</em>. Sebelum kita benar-benar jauh “tersesat”, berikut ini ilustrasinya.</p>
<p><strong>Das Sein (kenyataan yang ada)</strong></p>
<p>Teknologi <em>copy paste</em> tampaknya tak mungkin dihindari lagi, karena menawarkan perihal yang mudah, praktis, gratis, “efektif”, “efisien”. Bahkan ada yang berpola pikir: “Ada yang lebih mudah <em>ngapain nyari</em> yang susah-susah.”</p>
<p><strong>Das Sollen (keinginan, harapan dan visi )</strong></p>
<p>Sedangkan pihak kami menginginkan: demi masa depan yang cerah, menjadi akademisi sejati, dan keadaan yang bermutu dan bermanfaat. Fenomena plagiarisme skripsi sudah meluas sehingga apabila tak segera diatasi dari pihak akademik akan menjatuhkan wibawa kampus dan pendidikan nasional…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>* Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-2125 aligncenter" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/IKLAN-SOKA-BANDUNG-237x300.jpeg" alt="" width="453" height="573" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/IKLAN-SOKA-BANDUNG-237x300.jpeg 237w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2022/01/IKLAN-SOKA-BANDUNG.jpeg 720w" sizes="(max-width: 453px) 100vw, 453px" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-2012 aligncenter" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ASOKA-UTAMA-1-210x300.jpg" alt="" width="444" height="636" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-2046 aligncenter" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-BISNIS-WISATA-2-300x233.jpeg" alt="" width="471" height="366" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-BISNIS-WISATA-2-300x233.jpeg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-BISNIS-WISATA-2-1024x794.jpeg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-BISNIS-WISATA-2-768x595.jpeg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-BISNIS-WISATA-2.jpeg 1112w" sizes="(max-width: 471px) 100vw, 471px" /></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-2021 aligncenter" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ABBY-300x300.jpeg" alt="" width="559" height="559" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ABBY-300x300.jpeg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ABBY-1024x1024.jpeg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ABBY-150x150.jpeg 150w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ABBY-768x768.jpeg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2021/12/IKLAN-ABBY.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 559px) 100vw, 559px" /></p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2022/01/03/solusi-menulis-skripsi-tanpa-plagiasi/">Solusi Menulis Skripsi Tanpa Plagiasi </a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2022/01/03/solusi-menulis-skripsi-tanpa-plagiasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2121</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 37/90 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: economictravelling.com @ 2026-10-11 06:06:54 by W3 Total Cache
-->