<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Modern Arsip &#8211; ECONOMIC TRAVELING</title>
	<atom:link href="https://economictravelling.com/tag/modern/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://economictravelling.com/tag/modern/</link>
	<description>Economic Bussiness &#38; Tourism Intelegence Media</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2026 09:08:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/cropped-Tanpa-judul-512-x-512-piksel-150-x-150-piksel-1-32x32.png</url>
	<title>Modern Arsip &#8211; ECONOMIC TRAVELING</title>
	<link>https://economictravelling.com/tag/modern/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">197701090</site>	<item>
		<title>Jejak Sejarah Cat Rumah Nusantara</title>
		<link>https://economictravelling.com/2026/01/09/jejak-sejarah-cat-rumah-nusantara/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2026/01/09/jejak-sejarah-cat-rumah-nusantara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 08:54:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY LIFESTYLE]]></category>
		<category><![CDATA[Cat]]></category>
		<category><![CDATA[Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=21279</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari Pewarna Alam hingga Warna Modern yang Menyimpan Cerita Zaman Rumah yang tampak cantik dan...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/01/09/jejak-sejarah-cat-rumah-nusantara/">Jejak Sejarah Cat Rumah Nusantara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Dari Pewarna Alam hingga Warna Modern yang Menyimpan Cerita Zaman</strong></h2>
<p>Rumah yang tampak cantik dan mengilap hari ini sering dianggap sebagai hasil sentuhan zaman modern. Namun jauh sebelum cat diproduksi dalam kaleng dan dijual di toko bangunan, masyarakat Nusantara sudah lebih dulu mengenal cara memberi warna pada rumah dan ruang hidupnya.</p>
<p>Di masa lalu, konon dari berbagai literatur menyebutkan alam menjadi sumber utama warna. Tanah liat, kapur, arang, dan getah pohon diolah sederhana lalu dioleskan ke dinding rumah, balai adat, hingga tempat ibadah.</p>
<p>Warna tidak sekadar memperindah, tetapi menjadi bagian dari keyakinan dan identitas. Setiap goresan memiliki makna, menandai hubungan manusia dengan alam dan leluhur.</p>
<p>Jejak warna itu masih bisa dibaca hingga kini. Candi-candi di Jawa dan Bali yang terlihat abu-abu sebenarnya pernah tampil berwarna. Merah bata, putih kapur, dan hitam pekat digunakan untuk menegaskan relief dan memberi kesan sakral. Warna menjadi bahasa visual yang menyampaikan pesan keagamaan dan kosmologi.</p>
<p>Di Kalimantan, rumah panjang masyarakat Dayak mengenal warna dari bahan alami yang diramu turun-temurun. Merah, hitam, dan kuning bukan pilihan estetika semata. Warna-warna itu dipercaya melindungi rumah dan penghuninya, sekaligus menegaskan jati diri komunitas. Dinding rumah berfungsi seperti kitab terbuka yang menyimpan cerita asal-usul.</p>
<p>Sementara di wilayah pesisir Nusantara, warna rumah tumbuh dari kebutuhan hidup sehari-hari. Rumah-rumah nelayan di Sulawesi dan Maluku sejak lama dikenal cerah dan berani. Biru, hijau, dan kuning membantu rumah mudah dikenali dari laut. Warna menjadi penanda arah pulang sekaligus simbol harapan akan keselamatan.</p>
<p>Perubahan besar terjadi ketika pengaruh kolonial masuk. Cat berbasis minyak mulai dikenal luas. Bangunan bergaya Eropa di kota-kota lama menampilkan warna putih, krem, dan pastel. Warna rumah perlahan bergeser maknanya, dari simbol spiritual menjadi tanda kerapian, ketertiban, dan status sosial.</p>
<p>Seiring berkembangnya industri, cat makin mudah dijangkau. Di kampung-kampung, mengecat rumah menjadi bagian dari tradisi menjelang hari besar. Rumah dicat ulang sebelum lebaran, hajatan, atau acara keluarga. Warna baru seolah menjadi penanda babak baru dalam kehidupan penghuninya.</p>
<p>Hari ini, cat rumah di Nusantara tak hanya bicara soal indah dipandang. Cat sejatinya juga berfungsi melindungi dinding dari lembap, panas, dan jamur. Teknologi boleh berubah, tetapi satu hal tetap sama. Keinginan manusia untuk memberi makna pada ruang tinggalnya tidak pernah hilang.</p>
<p>Dari kapur candi hingga tembok beton, dari pewarna alam hingga cat modern, warna selalu menjadi saksi perjalanan zaman. Tahukah kita dia menempel di dinding rumah, menyimpan cerita tentang cara manusia Nusantara bertahan, beradaptasi, dan merawat ruang hidupnya dari generasi ke generasi.(<strong>Muhammad Irfani</strong>).</p>
<figure id="attachment_14855" aria-describedby="caption-attachment-14855" style="width: 405px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" wp-image-14855" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/MUHAMMAD-IRFANI-1-300x169.jpg" alt="" width="405" height="228" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/MUHAMMAD-IRFANI-1-300x169.jpg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/MUHAMMAD-IRFANI-1-1024x576.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/MUHAMMAD-IRFANI-1-768x432.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/MUHAMMAD-IRFANI-1-1536x864.jpg 1536w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/MUHAMMAD-IRFANI-1-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 405px) 100vw, 405px" /><figcaption id="caption-attachment-14855" class="wp-caption-text"><strong>Muhammad Irfani &#8211; Jurnalis Economic Travelling.Com</strong></figcaption></figure>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/01/09/jejak-sejarah-cat-rumah-nusantara/">Jejak Sejarah Cat Rumah Nusantara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2026/01/09/jejak-sejarah-cat-rumah-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">21279</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Syamsir: Petani Harus Bertransformasi Jadi Agribisnis Modern</title>
		<link>https://economictravelling.com/2025/10/02/syamsir-petani-harus-bertransformasi-jadi-agribisnis-modern/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2025/10/02/syamsir-petani-harus-bertransformasi-jadi-agribisnis-modern/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2025 12:12:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY BREAKING NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Agribisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel]]></category>
		<category><![CDATA[Ir.H.Syamsir Rahman]]></category>
		<category><![CDATA[Kalsel]]></category>
		<category><![CDATA[Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=19099</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, menegaskan bahwa petani harus...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2025/10/02/syamsir-petani-harus-bertransformasi-jadi-agribisnis-modern/">Syamsir: Petani Harus Bertransformasi Jadi Agribisnis Modern</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, menegaskan bahwa petani harus bertransformasi menjadi pelaku agribisnis modern agar mampu menghadapi tantangan zaman.</strong></p>
<p><strong>Hal itu disampaikannya saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendampingan Manajemen Penumbuhan dan Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) yang digelar di Banjarbaru, Kamis (02/10/2025). Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kelembagaan petani sehingga mampu mengelola usaha tani secara terpadu, profesional, dan berdaya saing.</strong></p>
<p>“Penguatan kelembagaan ekonomi petani adalah fondasi penting agar petani bisa mengelola usaha secara modern dan berkelanjutan, serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian,” ujar Syamsir.</p>
<p>Ia menjelaskan, KEP dibentuk dari dan untuk petani, dengan fungsi memperkuat posisi tawar di pasar agribisnis, memutus rantai perdagangan yang panjang, serta mempermudah akses ke modal dan teknologi. Menurutnya, kelembagaan ini menjadi kunci bagi petani untuk masuk dalam sistem agribisnis yang lebih menguntungkan.</p>
<p>Meski demikian, Syamsir mengakui masih ada sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses permodalan, rendahnya kemampuan manajerial, hingga minimnya pemanfaatan teknologi. Untuk mengatasi hal itu, Pemprov Kalsel melalui dukungan APBD dan APBN telah mengalokasikan dana untuk pembentukan dan pengembangan KEP di berbagai kabupaten, termasuk Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Banjar, dan Tabalong.</p>
<p>Selain itu, Dinas Pertanian Kalsel juga mendorong integrasi KEP dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari penguatan ekonomi desa dan ketahanan pangan nasional.</p>
<p>“Kolaborasi antara KEP dan koperasi desa diharapkan menciptakan ekosistem pertanian yang mandiri dan berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan,” tegasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2025/10/02/syamsir-petani-harus-bertransformasi-jadi-agribisnis-modern/">Syamsir: Petani Harus Bertransformasi Jadi Agribisnis Modern</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2025/10/02/syamsir-petani-harus-bertransformasi-jadi-agribisnis-modern/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">19099</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 36/65 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: economictravelling.com @ 2026-10-10 10:50:29 by W3 Total Cache
-->