<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Inacraft Arsip &#8211; ECONOMIC TRAVELING</title>
	<atom:link href="https://economictravelling.com/tag/inacraft/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://economictravelling.com/tag/inacraft/</link>
	<description>Economic Bussiness &#38; Tourism Intelegence Media</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Feb 2026 22:23:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/01/cropped-Tanpa-judul-512-x-512-piksel-150-x-150-piksel-1-32x32.png</url>
	<title>Inacraft Arsip &#8211; ECONOMIC TRAVELING</title>
	<link>https://economictravelling.com/tag/inacraft/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">197701090</site>	<item>
		<title>INACRAFT dan Kalsel: Jangan Hanya Pulang dengan Brosur</title>
		<link>https://economictravelling.com/2026/02/05/inacraft-dan-kalsel-jangan-hanya-pulang-dengan-brosur/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2026/02/05/inacraft-dan-kalsel-jangan-hanya-pulang-dengan-brosur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2026 08:01:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[CATATAN KHUSUS REDAKSI]]></category>
		<category><![CDATA[Hasi; Kerajinan]]></category>
		<category><![CDATA[Inacraft]]></category>
		<category><![CDATA[Kalsel]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengrajin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=21857</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap Februari, INACRAFT kembali digelar. Setiap tahun pula, Kalimantan Selatan hadir dengan ragam kerajinan: sasirangan,...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/02/05/inacraft-dan-kalsel-jangan-hanya-pulang-dengan-brosur/">INACRAFT dan Kalsel: Jangan Hanya Pulang dengan Brosur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Setiap Februari, INACRAFT kembali digelar. Setiap tahun pula, Kalimantan Selatan hadir dengan ragam kerajinan: sasirangan, anyaman purun, kain Pagatan, hingga produk olahan UMKM berbasis kearifan lokal.</strong></p>
<p><strong>Namun pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur adalah: apa yang benar-benar dibawa pulang perajin Kalsel setelah pameran usai?</strong></p>
<p>INACRAFT sering dipersepsikan sebagai panggung kebanggaan budaya. Booth dipenuhi ornamen daerah, foto pejabat beredar luas, dan laporan keikutsertaan disusun rapi.</p>
<p>Tetapi di balik itu, tidak sedikit perajin yang kembali ke daerah dengan cerita yang sama, prospek ada, transaksi terbatas, dan tindak lanjut minim.</p>
<p>Masalahnya bukan pada kualitas budaya. Produk Kalsel kaya identitas dan punya cerita kuat. Masalahnya terletak pada cara pemerintah daerah memposisikan INACRAFT. Pameran ini masih diperlakukan sebagai acara, bukan sebagai strategi ekonomi.</p>
<p>Padahal INACRAFT adalah ruang pasar. Buyer datang dengan kalkulasi, bukan nostalgia. Mereka mencari konsistensi suplai, standar mutu, kepastian harga, dan kemampuan produksi jangka panjang.</p>
<p>Karena itu pula kita sepakat, pada titik inilah banyak perajin Kalsel tersandung. Pesanan datang, tapi kapasitas terbatas. Minat muncul, tapi logistik dan pembiayaan tidak siap.</p>
<p>Lebih ironis lagi, hingga kini tidak ada data terbuka yang menjawab pertanyaan sederhana,<br />
ke mana saja produk kerajinan Kalsel bergerak setelah INACRAFT?<br />
Apakah menembus pasar nasional? Apakah sampai ke luar negeri? Atau berhenti di transaksi ritel pameran?</p>
<p>Tanpa data, klaim keberhasilan menjadi rapuh. Pemerintah daerah tidak punya alat evaluasi. Perajin tidak punya peta pasar. Dan publik hanya disuguhi narasi kehadiran tahunan yang berulang.</p>
<p>Jika kesejahteraan perajin memang menjadi tujuan, maka paradigma harus diubah. INACRAFT tidak boleh berhenti di spanduk dan seremoni.</p>
<p>Event besar dan berkelas ini harus menjadi pintu masuk kebijakan, pendampingan pasca-pameran, penguatan klaster produksi, akses pembiayaan, hingga jaminan pasar.</p>
<p>Kalimantan Selatan tidak kekurangan potensi. Yang masih kurang adalah keberanian untuk bertanya apakah kita sekadar ikut pameran, atau sedang membangun masa depan ekonomi perajin?. (<strong>Tim Redaksi</strong>).</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" wp-image-21902 aligncenter" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/02/IKLAN-ADVETORIAL-RAMADAN-200x300.jpg" alt="" width="513" height="770" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/02/IKLAN-ADVETORIAL-RAMADAN-200x300.jpg 200w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/02/IKLAN-ADVETORIAL-RAMADAN-683x1024.jpg 683w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/02/IKLAN-ADVETORIAL-RAMADAN-768x1152.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2026/02/IKLAN-ADVETORIAL-RAMADAN.jpg 1024w" sizes="(max-width: 513px) 100vw, 513px" /></p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2026/02/05/inacraft-dan-kalsel-jangan-hanya-pulang-dengan-brosur/">INACRAFT dan Kalsel: Jangan Hanya Pulang dengan Brosur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2026/02/05/inacraft-dan-kalsel-jangan-hanya-pulang-dengan-brosur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">21857</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berkarya Sekarang, Menginspirasi Selamanya</title>
		<link>https://economictravelling.com/2025/11/07/berkarya-sekarang-menginspirasi-selamanya/</link>
					<comments>https://economictravelling.com/2025/11/07/berkarya-sekarang-menginspirasi-selamanya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminec2021]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 04:10:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[JOURNEY INSPIRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Arifin]]></category>
		<category><![CDATA[Inacraft]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Kreatif Pintar]]></category>
		<category><![CDATA[Sarinah Thamrin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://economictravelling.com/?p=19901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jiwa Entrepreneur di Usia Muda, Kisah Muhammad Arifin dari Banjarmasin Di antara tumpukan sampah di...</p>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2025/11/07/berkarya-sekarang-menginspirasi-selamanya/">Berkarya Sekarang, Menginspirasi Selamanya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Jiwa Entrepreneur di Usia Muda, Kisah Muhammad Arifin dari Banjarmasin</h2>
<p>Di antara tumpukan sampah di pinggiran Kota Banjarmasin, seorang remaja bernama Muhammad Arifin dulu sering membantu ayahnya memulung. Plastik, ban bekas, botol air mineral.</p>
<p>Semuanya menjadi saksi perjalanan hidup yang keras, tetapi justru melahirkan daya juang luar biasa. Dari tempat yang kerap dianggap tak berharga, Arifin menemukan nilai yang paling berharga,sebuah semangat untuk berkarya dan mengubah keadaan.</p>
<p>Kini, siapa sangka pemuda yang dulunya mengais rezeki dari limbah itu tumbuh menjadi sosok inspiratif, dikenal sebagai Pemuda Pelopor dan pendiri Rumah Kreatif Pintar di Banjarmasin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_19904" aria-describedby="caption-attachment-19904" style="width: 447px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class=" wp-image-19904" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-MENTERI-LH-225x300.jpg" alt="" width="447" height="596" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-MENTERI-LH-225x300.jpg 225w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-MENTERI-LH-768x1024.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-MENTERI-LH-1152x1536.jpg 1152w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-MENTERI-LH-1024x1365.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-MENTERI-LH.jpg 1200w" sizes="(max-width: 447px) 100vw, 447px" /><figcaption id="caption-attachment-19904" class="wp-caption-text"><strong>Arifin menjelaskan produk-produk dia dan teman-temannya selalu menggunakan bahan ramah lingkungan. (Foto-Dok Pribadi).</strong></figcaption></figure>
<p>Di rumah sederhana yang ia sulap menjadi bengkel ide dan karya, Arifin membuktikan bahwa entrepreneur sejati bukan dilahirkan dari modal besar, tetapi dari keberanian untuk memulai dan ketekunan menghadapi kegagalan.</p>
<p>“Jangan takut gagal, karena gagal itu bagian dari proses belajar. Yang penting, terus bergerak dan jangan berhenti mencoba,” ujarnya suatu kali dalam sesi pelatihan untuk anak muda putus sekolah.</p>
<p>Rumah Kreatif Pintar bukan sekadar tempat belajar membuat kerajinan. Ia adalah ruang hidup baru bagi banyak orang yang sempat kehilangan arah.Tengoklah mantan terpidana narkoba, anak putus sekolah, hingga penyandang disabilitas dan tuna rungu. Di tangan Arifin, mereka bukan lagi dipandang sebagai “beban sosial”, tetapi sumber potensi kreatif yang luar biasa.</p>
<p>Dari hasil pendampingan itu, berbagai karya lahir. Kain sasirangan buatan kaum difabel Banjarmasin kini tak hanya dipamerkan di lokal, tetapi sudah menembus Sarinah Thamrin Jakarta, etalase produk kreatif nasional. Beberapa produk lainnya bahkan ikut meramaikan ajang SMESCO dan INACRAFT, dua pameran bergengsi bertaraf internasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_19906" aria-describedby="caption-attachment-19906" style="width: 570px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class=" wp-image-19906" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-PRODUK-SARINAH-300x168.jpg" alt="" width="570" height="319" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-PRODUK-SARINAH-300x168.jpg 300w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-PRODUK-SARINAH-1024x573.jpg 1024w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-PRODUK-SARINAH-768x430.jpg 768w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-PRODUK-SARINAH-1536x860.jpg 1536w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/11/ARIFIN-DAN-PRODUK-SARINAH.jpg 1600w" sizes="(max-width: 570px) 100vw, 570px" /><figcaption id="caption-attachment-19906" class="wp-caption-text"><strong>Sebagian produk olahan anak didik Arifin kini terpajang dalam etalase khusus Sarinah Thamrin, Jakarta, yang selalu berkelas. (Foto-Dok Pribadi).</strong></figcaption></figure>
<p>Semuanya bermula dari ban bekas dan botol plastik bahan yang dulu dianggap sampah, kini menjelma jadi barang bernilai seni dan ekonomi tinggi. Di tangan Arifin, limbah menjadi simbol perubahan. Ia mengajarkan bahwa berkarya tidak menunggu kaya, tapi dimulai dari apa yang ada di tangan.</p>
<p>Kisah Arifin adalah potret nyata tentang jiwa entrepreneur sejati di usia muda. Ia tak hanya membangun usaha, tapi juga membangun manusia. Ia tidak sekadar menciptakan produk, tapi menyalakan harapan.</p>
<p>Dan dari perjalanannya, kita belajar satu hal penting:</p>
<p>Berkarya sekarang bukan hanya tentang hari ini, tapi tentang inspirasi yang akan hidup selamanya.<strong>(M.Irfani).</strong></p>
<figure id="attachment_17370" aria-describedby="caption-attachment-17370" style="width: 373px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-17370" src="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/06/MUHAMMAD-IRFANI-248x300.jpeg" alt="" width="373" height="451" srcset="https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/06/MUHAMMAD-IRFANI-248x300.jpeg 248w, https://economictravelling.com/wp-content/uploads/2025/06/MUHAMMAD-IRFANI.jpeg 594w" sizes="(max-width: 373px) 100vw, 373px" /><figcaption id="caption-attachment-17370" class="wp-caption-text"><strong>Muhammad Irfani, Jurnalis Economic Travelling.Com</strong></figcaption></figure>
<p>Artikel <a href="https://economictravelling.com/2025/11/07/berkarya-sekarang-menginspirasi-selamanya/">Berkarya Sekarang, Menginspirasi Selamanya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://economictravelling.com">ECONOMIC TRAVELING</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://economictravelling.com/2025/11/07/berkarya-sekarang-menginspirasi-selamanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">19901</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 38/60 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: economictravelling.com @ 2026-10-09 02:42:13 by W3 Total Cache
-->