Karhutla Parah, Warga Mesti Apa?
Foto Ilustrasi - Model Made Ludya (Dok- Economic Travelling.Com).
Oleh: Muhammad Risanta
Pagi Jumat di Banjarmasin belakangan terasa berbeda ketika kabut asap mulai mengusik pandangan. Udara yang seharusnya menyegarkan justru menyisakan bau terbakar.
Mata saya sendiri terasa perih, tenggorokan kering, dan sebagian orang di jalan raya memilih mempercepat langkah agar segera sampai ke tempat tujuan.
Pengendara sepeda motor menutup wajah dengan masker, pedagang tetap membuka lapak, sementara anak-anak bersiap berangkat sekolah di tengah udara yang belum tentu sehat.Persis ketika saya berangkat kerja dengan motor bebek tua menyusuri Banjarmasin untuk liputan.
Di tempat lain di Kalimantan Selatan, situasinya bisa lebih mengkhawatirkan. Api membakar semak belukar dan lahan kering, petugas pemadam berjibaku di tengah panas, sedangkan warga mulai bertanya-tanya sampai kapan asap ini bertahan?
Pertanyaan itu terasa semakin penting pada musim kemarau 2026. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera.
Kabut asap bergerak mengikuti arah angin, melintasi batas kabupaten, provinsi, bahkan negara. Dampaknya tidak berhenti pada hutan yang terbakar atau lahan yang menghitam. Asap memasuki ruang hidup manusia, mengganggu kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi.
Majalah Tempo pada April 2026 telah mengangkat ancaman tersebut melalui laporan sampul bertajuk Tabur Api Tuai Asap. Mengutip data yang disajikan dalam laporan itu, potensi kebakaran diperkirakan mencakup 56 ribu hektare di 31 provinsi.
Pada 25 Agustus 2026, jumlah titik panas yang dirujuk dari sistem pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan tercatat mencapai 5.863 lokasi, angka tertinggi dalam empat tahun terakhir menurut laporan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan bahwa El Niño pada 2026 berpotensi mencapai intensitas sangat kuat dan memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Pada 30 Juli 2026, BMKG menyebut fenomena ini diperkirakan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Kombinasi kekeringan, vegetasi yang kehilangan kelembapan, dan sumber api membuat ancaman karhutla perlu diwaspadai lebih serius.
Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami bersama. El Niño bukan satu-satunya jawaban atas persoalan karhutla. Cuaca kering memang membuat lahan lebih mudah terbakar dan api lebih cepat menyebar, tetapi sumber penyalaan juga perlu diperiksa.
Pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian manusia, serta lemahnya pencegahan dapat memperburuk keadaan. Kekeringan menyediakan kondisi yang mendukung api, tetapi pencegahan dan penegakan hukum tetap menentukan seberapa besar bencana berkembang.
Ketika api sudah telanjur membesar, petugas pemadam, relawan, pemerintah, dan masyarakat berhadapan dengan pekerjaan yang tidak mudah.
Memadamkan api di lahan kering, terutama pada kawasan gambut, membutuhkan tenaga, peralatan, air, dan strategi yang tepat. Sementara itu, warga yang tinggal jauh dari titik api pun bisa ikut menanggung akibatnya melalui paparan asap.
Di tengah keadaan seperti ini, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan semata-mata kapan hujan turun atau kapan api padam.
Kita juga perlu bertanya apa yang bisa dilakukan warga untuk melindungi diri dan keluarga selama udara belum kembali sehat?
Asap yang Tidak Selalu Terlihat Berbahaya
Ada kebiasaan yang perlu kita ubah ketika menghadapi kabut asap. Kita sering mengukur bahaya hanya dari seberapa tebal asap yang terlihat. Langit yang mulai cerah dianggap pertanda udara telah bersih.
Padahal, partikel pencemar yang berukuran sangat kecil bisa tetap berada di udara meskipun jarak pandang mulai membaik.
Salah satu ancaman utama dari asap kebakaran adalah particulate matter atau partikulat halus, khususnya PM2.5. Partikel ini berdiameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya jauh lebih kecil daripada diameter rambut manusia sehingga dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.
Paparan PM2.5 dapat menimbulkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, mengi, serta sesak napas. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, asap dapat memicu kekambuhan.
Paparan polusi partikel juga berkaitan dengan gangguan kardiovaskular, termasuk peningkatan risiko masalah jantung pada kelompok rentan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa dampak asap kebakaran dapat berkisar dari sakit kepala dan iritasi hingga gangguan pernapasan serta kardiovaskular yang lebih serius.
Karena itu, anak-anak, bayi, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru perlu mendapat perhatian khusus.
Anak-anak, misalnya, masih berada dalam masa pertumbuhan dan dapat menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat tubuhnya ketika beraktivitas. Membiarkan mereka bermain atau berolahraga di luar ruangan saat polusi meningkat bukan keputusan yang bijak.
Hal serupa berlaku bagi pekerja luar ruangan. Pengemudi ojek, pedagang kaki lima, petugas kebersihan, pekerja konstruksi, dan relawan di lapangan mungkin tidak memiliki pilihan untuk sepenuhnya menghindari udara tercemar. Mereka membutuhkan perlindungan yang lebih serius, bukan sekadar imbauan agar berhati-hati.
Kita juga perlu membedakan tugas pemadam dengan perlindungan kesehatan warga. Petugas yang bekerja di sekitar api menghadapi risiko panas, asap pekat, dan kemungkinan paparan gas berbahaya.
Masker partikulat biasa tidak memberikan perlindungan memadai terhadap semua gas, kekurangan oksigen, atau bahaya langsung di lokasi kebakaran. Karena itu, warga tidak seharusnya mendekati titik api untuk membantu pemadaman tanpa pelatihan, perlengkapan, dan koordinasi yang sesuai.

Rumah Menjadi Benteng Pertama
Lantas, apa yang bisa dilakukan ketika asap mulai masuk ke permukiman?
Langkah pertama adalah mengurangi paparan. Jika tidak ada keperluan mendesak, tunda aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga atau pekerjaan fisik berat.
Ketika kita bergerak aktif, frekuensi dan kedalaman napas meningkat sehingga jumlah udara yang masuk ke paru-paru juga bertambah. Dalam kondisi berasap, hal itu berarti lebih banyak partikel berpotensi terhirup.
Pantau informasi kualitas udara dari sumber resmi, termasuk layanan pemantauan kualitas udara KLH/BPLH melalui ISPUNET serta informasi pemerintah daerah.
Jangan hanya mengandalkan warna langit, bau asap, atau jarak pandang. Kualitas udara bisa berubah mengikuti arah angin, perkembangan titik api, dan kondisi atmosfer. KLH/BPLH menyatakan layanan ISPUNET diperbarui secara berkala setiap 30 menit sehingga dapat membantu warga menyesuaikan aktivitas dengan kondisi terkini.
Ketika asap pekat berada di luar rumah, tutup pintu dan jendela untuk membatasi masuknya udara tercemar. Jika tersedia, gunakan penjernih udara dengan filter HEPA di ruangan tempat keluarga paling banyak beraktivitas.
Pendingin ruangan dapat membantu kenyamanan, tetapi pastikan pengaturan dan sistemnya tidak justru menarik udara luar yang tercemar ke dalam ruangan.
Tidak semua keluarga memiliki AC atau penjernih udara. Kondisi ini perlu dipahami dalam setiap kampanye kesehatan publik. Warga dapat memilih satu ruangan yang paling mudah ditutup celahnya sebagai tempat berlindung sementara.
Hindari merokok di dalam rumah, membakar sampah, menyalakan dupa, atau menggunakan sumber pembakaran lain yang menambah polusi dalam ruangan.
Jika udara di rumah tetap sangat buruk, atau kondisi kesehatan anggota keluarga memburuk, pertimbangkan mencari tempat dengan udara yang lebih bersih sesuai arahan pemerintah setempat. Jangan menunggu hingga seluruh anggota keluarga mengalami keluhan sebelum mencari bantuan.
Perlindungan juga perlu disesuaikan dengan kondisi rumah. Menutup jendela memang dapat mengurangi masuknya asap, tetapi jika suhu dalam ruangan menjadi terlalu panas, warga perlu mencari ruang aman yang lebih sejuk dan memiliki udara lebih bersih. Dalam cuaca panas ekstrem, menjaga suhu tubuh tetap aman sama pentingnya dengan mengurangi paparan asap.
Masker Bukan Sekadar Penutup Wajah
Di jalan raya, masker menjadi pemandangan yang mudah dijumpai saat kabut asap datang. Namun, tidak semua masker memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel halus.
Jika terpaksa keluar rumah ketika udara tercemar, respirator partikulat seperti N95 atau KN95 yang sesuai ukuran dan terpasang rapat dapat membantu mengurangi jumlah partikel yang terhirup.
Celah di sekitar hidung dan pipi dapat mengurangi efektivitas perlindungan. Masker kain atau masker medis biasa tidak dirancang untuk memberikan tingkat penyaringan partikel halus yang sama dengan respirator yang terpasang baik.
Meski demikian, masker bukan jaminan bahwa seseorang aman sepenuhnya dari asap. Respirator partikulat tidak menyaring seluruh gas berbahaya dan tidak menggantikan kebutuhan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi medis tertentu mungkin memerlukan pertimbangan khusus dalam pemilihan dan penggunaan respirator.
Setelah kembali dari luar, bersihkan wajah dan tangan, lalu ganti pakaian jika terpapar asap atau abu. Kebiasaan ini membantu mengurangi kotoran yang terbawa ke dalam rumah, meskipun tidak menghilangkan partikel yang sudah terhirup.
Minum air yang cukup juga baik untuk menjaga hidrasi, terutama ketika cuaca panas, tetapi air putih bukan penawar yang dapat membersihkan PM2.5 dari paru-paru.
Jika muncul sesak napas, nyeri dada, kebingungan, atau kesulitan bernapas yang berat, segera cari pertolongan medis.
Jangan menunda penanganan karena menganggap keluhan tersebut hanya akibat asap biasa. Orang dengan asma atau penyakit jantung perlu mengikuti rencana pengobatan dari tenaga kesehatan dan memastikan obat rutinnya tersedia.
Jangan Menunggu Sampai Ada Korban
Perlindungan kesehatan tidak dapat dibebankan kepada setiap keluarga sendirian. Ada kebutuhan mendesak agar pemerintah daerah, dinas kesehatan, sekolah, tempat kerja, dan komunitas bergerak dengan informasi yang sama.
Sekolah perlu memiliki prosedur untuk mengurangi atau memindahkan kegiatan luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Tempat kerja perlu menyesuaikan aktivitas pekerja yang terpapar asap, menyediakan perlindungan yang tepat, dan memberi kesempatan untuk beristirahat di ruang dengan udara lebih bersih. Puskesmas serta fasilitas kesehatan perlu bersiap menghadapi peningkatan keluhan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.
Pemerintah juga perlu memastikan informasi kualitas udara mudah diakses masyarakat, bukan hanya tersedia di laman yang jarang dibuka.
Pengumuman melalui kanal resmi, media lokal, sekolah, rumah ibadah, dan perangkat lingkungan dapat membantu warga mengetahui kapan harus membatasi aktivitas serta ke mana mencari pertolongan.
Bagi masyarakat yang tinggal dekat kawasan rawan kebakaran, kesiapsiagaan perlu dimulai sebelum asap datang.
Simpan nomor layanan darurat setempat, ketahui lokasi fasilitas kesehatan, dan sepakati cara menghubungi anggota keluarga jika kondisi memburuk. Warga juga perlu mengetahui jalur aman untuk menjauh dari titik api dan mengikuti arahan petugas jika evakuasi diperlukan.
Kita tidak boleh menganggap semua kebakaran sebagai tontonan. Jangan mendekati lokasi hanya untuk merekam video, apalagi menerobos kawasan yang sedang ditangani petugas.
Jika melihat titik api baru, laporkan melalui kanal resmi pemerintah daerah atau petugas penanggulangan karhutla. Informasi lokasi yang jelas dapat membantu respons lebih cepat, sedangkan kabar yang belum terverifikasi justru berisiko menimbulkan kepanikan.
Menghentikan Api Sebelum Asap Menjadi Bencana
Perlindungan kesehatan memang penting, tetapi upaya tersebut tidak boleh membuat kita melupakan sumber masalah. Warga membutuhkan udara yang lebih bersih, bukan sekadar cara bertahan di tengah udara tercemar.
Pencegahan karhutla harus dilakukan sejak awal musim kemarau. Pengawasan kawasan rawan, patroli terpadu, pemantauan titik panas, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta kesiapan sarana pemadaman perlu berjalan beriringan.
Pengelolaan lahan juga harus memperhitungkan risiko kekeringan, khususnya di kawasan gambut yang dapat menyimpan api di bawah permukaan dan sulit dipadamkan.
Perusahaan, pemegang izin, pemerintah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab sesuai peran serta kewenangannya. Tidak membakar lahan, menjaga sumber api, dan segera melaporkan kebakaran merupakan tindakan sederhana yang dapat mencegah kerugian jauh lebih besar.
Pada saat yang sama, dampak karhutla perlu dihitung lebih luas daripada luas lahan yang terbakar. Karena sudah pasti ada hari sekolah yang terganggu, pekerja yang kesulitan beraktivitas, biaya kesehatan keluarga yang meningkat, dan usaha kecil yang kehilangan pelanggan ketika warga memilih bertahan di rumah. Kerugian itu tidak selalu terlihat dalam foto udara, tetapi nyata dirasakan masyarakat.
Kalimantan Selatan dan wilayah lain di Kalimantan serta Sumatera membutuhkan penanganan yang tidak hanya berorientasi pada pemadaman api.
Perlindungan kesehatan, keterbukaan informasi kualitas udara, dukungan bagi kelompok rentan, dan pemulihan lingkungan harus menjadi bagian dari respons yang sama.
Musim kemarau pada akhirnya akan berganti. Namun, kita tidak seharusnya menunggu hujan sebagai satu-satunya penyelamat, apalagi mengulang pola yang sama setiap tahun.
Pengalaman menghadapi asap semestinya menjadi alasan untuk memperbaiki pencegahan, memperkuat kesiapsiagaan, dan membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Jadi, ketika karhutla kembali parah, warga mesti apa? Lindungi keluarga, kurangi paparan asap, pantau informasi resmi, dan segera cari pertolongan jika muncul gejala berbahaya.
Jangan membakar lahan, jangan mendekati titik api tanpa perlindungan, dan jangan menganggap asap sebagai bagian biasa dari musim kemarau.
Udara bersih bukan kemewahan. Udara bersih itu kebutuhan dasar yang menentukan apakah anak-anak bisa belajar dengan nyaman, pekerja dapat mencari nafkah dengan aman, dan orang tua bisa menjalani hari tanpa dihantui batuk atau sesak napas.
Ketika hutan terbakar, yang dipertaruhkan bukan sekadar pepohonan. Yang ikut terbakar adalah kualitas hidup masyarakat. Menjaga udara berarti menjaga kesehatan, ekonomi keluarga, dan masa depan Banua.

