STIE Pancasetia Hadirkan Perspektif Seni dan Komunitas dari Jepang
Ketua STIE Pancasetia Banjarmasin Dr Sutrisno bersama Kosuke Yamagishi, Contemporary Artist asal Jepang yang merupakan full-time assistant staff pada Graduate School of Transdisciplinary Arts, Akita University of Art, Jepang, serta peserta lainnya. (Foto - Humas STIE Pancasetia).
Memahami sebuah tempat tidak cukup dengan melihat peta, bangunan, jalan, atau batas wilayahnya.
Sebuah tempat juga dibentuk oleh manusia, pengalaman, hubungan sosial, kebiasaan, budaya, serta cerita yang tumbuh dan berlangsung di dalamnya.
Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam International Guest Lecture bertajuk “Entering a Place: Art, Fieldwork & Relationships with Communities” yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia Banjarmasin di Kampus Trikora, Rabu, 23 September 2026 lalu.
Kegiatan menghadirkan Kosuke Yamagishi, Contemporary Artist asal Jepang yang merupakan full-time assistant staff pada Graduate School of Transdisciplinary Arts, Akita University of Art, Jepang.
Kehadirannya membawa pengalaman mengenai seni kontemporer, fieldwork, serta proses membangun hubungan dengan komunitas sebagai cara memahami karakter dan dinamika sebuah tempat.
Bagi mahasiswa, pertemuan tersebut membuka pengalaman belajar yang berbeda. Seni tidak ditempatkan semata sebagai karya visual, sementara fieldwork tidak berhenti pada aktivitas mengamati lingkungan.
Keduanya digunakan sebagai pendekatan untuk memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat, termasuk bagaimana manusia berinteraksi dengan ruang, lingkungan dan komunitasnya.
Memahami Tempat dari Dekat
Tema “Entering a Place” mengajak peserta melihat sebuah tempat sebagai ruang kehidupan yang memiliki lapisan pengalaman dan persoalan sosial.
Sebuah kawasan dapat memiliki karakter yang berbeda bukan semata karena bentuk fisiknya, melainkan karena manusia yang tinggal, bekerja, berinteraksi dan membangun kehidupannya di sana.
Melalui pendekatan seni dan fieldwork, peserta diperkenalkan pada proses memahami lingkungan dengan cara mengamati secara langsung, memasuki ruang kehidupan masyarakat, membangun komunikasi, serta membaca konteks sosial dan budaya yang membentuk suatu tempat.
Pendekatan semacam ini menjadi penting dalam pendidikan tinggi karena pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang kelas dan buku.
Ada pengetahuan yang baru dapat dipahami setelah seseorang hadir di tengah masyarakat, melihat persoalan secara langsung, mendengar cerita warga dan memahami hubungan yang terbentuk di antara manusia dengan lingkungannya.
Interaksi dengan praktisi internasional juga memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa STIE Pancasetia. Mereka tidak hanya mendapatkan materi dari perspektif akademik, tetapi juga berhadapan dengan pengalaman seorang praktisi yang bekerja pada bidang seni kontemporer dan pendidikan lintas disiplin di Jepang.
Seni Membaca Kehidupan
Dalam praktik fieldwork, seni dapat menjadi salah satu cara untuk membaca realitas sosial. Pengamatan terhadap ruang, perilaku manusia, lingkungan, maupun hubungan antarkomunitas dapat membuka cara pandang yang berbeda terhadap persoalan yang selama ini mungkin dianggap biasa.
Perspektif tersebut memiliki keterkaitan dengan rangkaian International Workshop on Urban Studies bertajuk “Re-Governing: Rethinking Urban Dynamics from Bornean Settlements” yang berlangsung di Banjarmasin pada September 2026.
Rangkaian kegiatan itu mempertemukan akademisi, seniman, peneliti, mahasiswa dan praktisi untuk mengeksplorasi kehidupan masyarakat serta dinamika lingkungan perkotaan melalui fieldwork, diskusi dan proses kolaboratif.
Banjarmasin menjadi ruang yang menarik untuk pendekatan semacam ini. Kota yang tumbuh bersama sungai, permukiman, perdagangan, mobilitas masyarakat dan perubahan ruang perkotaan memiliki kehidupan sosial yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui angka statistik atau teori pembangunan.
Bagi mahasiswa ekonomi dan manajemen, cara pandang tersebut juga relevan.
Dunia bisnis tidak berdiri sendiri di luar kehidupan masyarakat. Keputusan ekonomi dipengaruhi perilaku manusia, perubahan sosial, budaya, lingkungan, teknologi dan karakter komunitas. Memahami manusia dan tempat menjadi bagian dari kemampuan membaca lingkungan tempat organisasi dan kegiatan ekonomi berkembang.
Bagi STIE Pancasetia, International Guest Lecture menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman pembelajaran mahasiswa melalui interaksi dengan praktisi dan akademisi dari luar negeri.
International exposure tidak semata diukur dari seberapa sering mahasiswa mengikuti kegiatan berbahasa asing atau menghadirkan narasumber dari negara lain.
Yang lebih penting adalah pengalaman berhadapan dengan perspektif berbeda dan kemampuan mahasiswa melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang tidak selalu sama dengan lingkungan akademiknya sendiri.
Dalam konteks tersebut, seni, komunitas dan fieldwork memberikan ruang pembelajaran yang lebih luas. Mahasiswa diajak memahami bahwa persoalan ekonomi dan manajemen memiliki hubungan erat dengan manusia serta lingkungan tempat aktivitas tersebut berlangsung.
Pengalaman tersebut juga memperkuat kemampuan mahasiswa untuk mengamati, bertanya, berkomunikasi, memahami konteks dan membangun relasi. Kompetensi semacam ini semakin penting bagi lulusan perguruan tinggi yang nantinya berhadapan dengan organisasi, dunia usaha, pemerintah maupun masyarakat.
Membuka Ruang Kolaborasi Lintas Disiplin
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat jejaring akademik STIE Pancasetia dengan institusi pendidikan tinggi internasional, khususnya Akita University of Art, Jepang, melalui Graduate School of Transdisciplinary Arts.
Kosuke Yamagishi yang terlibat sebagai full-time assistant staff pada institusi tersebut membawa perspektif praktis mengenai seni kontemporer dan kerja lapangan.
Sementara Kenta Kishi, yang juga terlibat dalam rangkaian kolaborasi internasional, memiliki hubungan akademik dengan STIE Pancasetia sebagai Visiting Professor. Kenta Kishi merupakan profesor pada Graduate School of Transdisciplinary Arts, Akita University of Art, Jepang.
Keterlibatan dua akademisi dan praktisi tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama perguruan tinggi dapat berkembang melampaui batas bidang keilmuan. Ekonomi, manajemen, seni, studi perkotaan, komunitas dan lingkungan dapat dipertemukan melalui proses pembelajaran yang saling memperkaya.
Bagi kampus, jejaring semacam ini juga membuka peluang bagi pengembangan kegiatan akademik, penelitian, workshop dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas.
Mahasiswa memperoleh kesempatan mengenal perspektif global, sementara institusi mendapatkan ruang untuk memperluas hubungan akademik dengan perguruan tinggi dan praktisi internasional.
International Guest Lecture “Entering a Place: Art, Fieldwork & Relationships with Communities” akhirnya tidak berhenti sebagai agenda kuliah tamu.
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa, akademisi, seniman, komunitas dan pengalaman internasional.
Ada pesan penting yang dapat dibawa pulang mahasiswa dari kegiatan tersebut yaitu memahami sebuah persoalan membutuhkan keberanian untuk keluar dari ruang yang selama ini dikenal, melihat kehidupan dari dekat, mendengar suara masyarakat dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Bagi perguruan tinggi, pengalaman semacam itu memperluas makna pembelajaran. Kampus bukan sekadar tempat memindahkan teori kepada mahasiswa, melainkan ruang untuk membangun cara berpikir yang mampu membaca perubahan, memahami manusia dan melihat hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan nyata.(Olpah Sari).
