Menikmati Nyamannya Layanan Bandara
Oleh : Muhammad Risanta
Setiap kali bepergian dengan pesawat, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya selain jadwal penerbangan dan tujuan perjalanan, yakni bagaimana sebuah bandara memberikan pelayanan kepada penumpangnya sejak pertama kali memasuki kawasan bandara hingga akhirnya meninggalkan tempat itu setelah menyelesaikan seluruh urusan perjalanan.
Bagi saya, bandara bukan hanya tempat pesawat mendarat dan terbang kembali. Bandara adalah wajah pertama sebuah kota.
Dari tempat inilah orang yang datang akan memperoleh kesan awal tentang daerah yang dikunjunginya, sementara bagi orang yang hendak bepergian, bandara menjadi bagian terakhir dari rangkaian perjalanan sebelum meninggalkan sebuah kota.
Karena itu, setiap kali berada di bandara, perhatian saya sering kali justru tertuju pada hal-hal yang kelihatannya sederhana. Bagaimana kendaraan masuk ke kawasan parkir, bagaimana petugas melayani pengguna jasa.
Demikian pula bagaimana sistem pembayaran dilakukan, apakah antreannya panjang atau tidak, sampai pada persoalan kecil seperti apa yang harus dilakukan ketika saldo kartu elektronik ternyata tidak mencukupi saat hendak keluar dari area parkir.
Hal-hal seperti itu mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu penting. Namun bagi saya, justru dari persoalan-persoalan kecil semacam itulah kualitas pelayanan sebuah bandara dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Perubahan pelayanan seperti ini sekarang semakin mudah kita temukan hampir di berbagai kota. Digitalisasi perlahan mengubah kebiasaan masyarakat.
Pembayaran menggunakan uang tunai mulai bergeser kepada sistem non-tunai. Kartu elektronik, aplikasi pembayaran, pemindaian digital, hingga berbagai bentuk transaksi tanpa uang fisik kini menjadi bagian yang semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan itu juga saya rasakan di Banjarbaru, kota tempat saya tinggal.
Bandara Internasional Syamsudin Noor, yang menjadi salah satu pintu gerbang utama Kalimantan Selatan, pun terus melakukan pembenahan. Perubahan tersebut tidak selalu harus terlihat dalam bentuk bangunan baru atau fasilitas yang besar dan megah. Kadang-kadang, perubahan justru terasa melalui pelayanan sederhana yang membuat seseorang tidak perlu repot ketika menghadapi persoalan dalam perjalanan.
Salah satunya adalah pelayanan kartu elektronik untuk pembayaran parkir.
Sejak November 2023, Bandara Internasional Syamsudin Noor telah menerapkan pembayaran parkir secara non-tunai menggunakan kartu elektronik di seluruh gerbang masuk dan keluar kendaraan.
Kebijakan ini tentu sejalan dengan perkembangan sistem pembayaran yang semakin mengarah kepada transaksi cashless, sekaligus menjadi bagian dari upaya mempercepat pelayanan dan mengurangi ketergantungan terhadap pembayaran menggunakan uang tunai.
Tetapi sebagaimana setiap perubahan dalam pelayanan, selalu ada persoalan yang kemudian muncul di lapangan.
Ada pengguna jasa yang datang ke bandara dengan kartu elektronik, tetapi ternyata saldonya tidak cukup ketika hendak membayar parkir. Ada pula yang mungkin lupa membawa kartu atau bahkan kehilangan kartu elektronik yang biasa digunakan.
Dalam situasi seperti itu, persoalannya sebenarnya sederhana, tetapi kalau tidak ada solusi yang cepat, persoalan sederhana tersebut bisa berubah menjadi ketidaknyamanan, apalagi ketika pengguna jasa sedang terburu-buru mengejar penerbangan atau hendak segera pulang setelah perjalanan panjang.
Karena itulah saya sendiri melihat kehadiran layanan khusus kartu elektronik di Bandara Internasional Syamsudin Noor sebagai sesuatu yang cukup menarik.
PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) melalui Bandara Internasional Syamsudin Noor bekerja sama dengan Bima Trans menghadirkan layanan pembelian kartu baru, penyewaan kartu, sekaligus pengisian saldo atau top-up kartu elektronik.
General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, mengatakan layanan tersebut dihadirkan setelah pengelola melihat adanya kebutuhan pengguna jasa yang mengalami kekurangan saldo maupun kehilangan kartu elektronik.
Menurut saya, ini sebuah pelayanan menjadi lebih berarti. Bukan sekadar karena ada fasilitas baru, melainkan karena pengelola mencoba melihat persoalan dari sudut pandang pengguna jasa.
Sebab masyarakat sebenarnya tidak terlalu memikirkan bagaimana rumitnya sistem yang berada di belakang sebuah pelayanan. Yang mereka rasakan adalah apakah ketika menghadapi masalah ada orang atau fasilitas yang dapat membantu mereka menyelesaikannya dengan cepat.
Untuk mendapatkan kartu baru, pengguna jasa dikenakan biaya Rp60 ribu dan sudah termasuk saldo Rp20 ribu. Sementara bagi mereka yang hanya membutuhkan kartu untuk sementara, tersedia layanan penyewaan dengan biaya Rp20 ribu, belum termasuk saldo untuk pembayaran parkir. Sedangkan pengisian saldo dikenakan biaya administrasi Rp5 ribu untuk setiap transaksi.
Jenis kartu elektronik yang tersedia juga cukup familiar bagi masyarakat, yakni Mandiri e-Money, Flazz BCA, BRIZZI BRI dan BNI TapCash.
Yang membuatnya lebih praktis, layanan tersebut ditempatkan di dua lokasi, yakni Toll Gate Utama dan Toll Gate Area Perkantoran, yang melayani kendaraan roda dua maupun roda empat. Pelayanannya pun tersedia selama 24 jam setiap hari.
Jadi, ketika pengguna jasa tiba-tiba menyadari saldonya kurang, tidak perlu lagi merasa bingung mencari tempat pengisian saldo di luar kawasan bandara. Cukup menyampaikan kebutuhan kepada petugas yang berjaga di toll gate, kemudian persoalan tersebut dapat segera dicarikan solusinya.
Kenyaman sebuah bandara memang tidak selalu ditentukan oleh fasilitas yang besar. Kadang justru pelayanan kecil seperti inilah yang paling terasa manfaatnya.
Kita sering berbicara tentang transformasi digital, efisiensi pelayanan dan sistem pembayaran non-tunai dengan istilah yang terdengar begitu besar.
Namun bagi masyarakat yang menggunakannya, maknanya sebenarnya sangat sederhana tidak perlu membawa uang tunai, tidak perlu mencari tempat pengisian saldo terlalu jauh, tidak perlu panik ketika saldo kurang, dan tidak perlu membuang waktu terlalu lama hanya untuk menyelesaikan sebuah transaksi.
Saya kira itulah wajah pelayanan publik yang sesungguhnya.
Teknologi pada akhirnya bukan hanya soal mesin, kartu, aplikasi atau sistem digital yang digunakan. Teknologi akan memiliki arti ketika kehadirannya benar-benar mampu membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan perjalanan seseorang menjadi lebih nyaman.
Di bandara, kenyamanan seperti itu terasa semakin penting. Orang datang dengan membawa banyak urusan. Ada yang hendak bekerja, ada yang pulang menemui keluarga, ada yang berlibur, ada pula yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan ingin segera sampai ke rumah.
Mereka tentu tidak ingin perjalanan yang sudah panjang tersebut harus berakhir dengan persoalan kecil di pintu keluar bandara.
Karena itu melihat layanan kartu elektronik ini bukan semata-mata sebagai fasilitas top-up. Lebih dari itu, ia menjadi bagian kecil dari rangkaian pelayanan yang membuat perjalanan seseorang terasa lebih lancar.
Saya sendiri selalu percaya bahwa kemajuan sebuah kota dapat dilihat dari bagaimana kota tersebut memberikan kemudahan kepada orang-orang yang tinggal dan datang ke dalamnya.
Demikian pula sebuah bandara. Kemajuan tidak hanya terlihat dari semakin banyaknya pesawat yang datang dan pergi, tetapi juga dari bagaimana penumpang merasakan pelayanan sejak kendaraan memasuki kawasan bandara sampai akhirnya mereka meninggalkan bandara.
Bandara yang nyaman adalah bandara yang mampu membuat penggunanya merasa tidak perlu terlalu banyak berpikir tentang urusan-urusan kecil selama perjalanan.
Perubahan semacam inilah yang patut diapresiasi. Sebab pelayanan yang baik tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari keberanian untuk mendengarkan kebutuhan pengguna jasa, kemudian menghadirkan solusi yang sederhana tetapi benar-benar dibutuhkan.
Pada akhirnya, perjalanan dengan pesawat bukan hanya tentang bagaimana kita sampai di tujuan dengan cepat. Ada banyak pengalaman kecil yang ikut membentuk perjalanan itu sendiri.
Salah satunya adalah ketika kita merasa nyaman sejak pertama kali memasuki bandara hingga akhirnya meninggalkan kawasan tersebut.
Dan mungkin, di situlah saya menemukan arti sederhana dari sebuah pelayanan yang baik.
Membuat orang tidak merasa direpotkan oleh perjalanan yang sebenarnya sudah cukup panjang.
Bandara Internasional Syamsudin Noor sedang bergerak ke arah itu. Perlahan, melalui pembenahan dan layanan-layanan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi justru bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Kenyamanan memang sering kali tidak datang dari sesuatu yang mewah. Kenyamanan justru hadir ketika hal-hal kecil dalam perjalanan tidak lagi menjadi masalah.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia dan Akademisi.
