Memenej Krisis Air Bersih di Musim Kemarau
Tatkala Sungai Mulai Kehilangan Nafas
Oleh: Muhammad Risanta
Rabu pagi itu, suara mesin pompa air terdengar lebih lama dari biasanya. Seorang warga di pinggiran Kota Banjarmasin menunjukkan bak penampungan di rumahnya yang mulai kosong.
“Biasanya cepat penuh, sekarang harus menunggu lebih lama,” katanya sambil melihat ke arah keran yang hanya mengeluarkan aliran kecil.
Percakapan sederhana itu saya temui beberapa kali ketika melakukan liputan di tengah musim kemarau panjang di Kalimantan Selatan.
Bagi sebagian masyarakat perkotaan, air bersih sering dianggap sebagai sesuatu yang selalu tersedia. Tinggal membuka keran, air mengalir, lalu kebutuhan rumah tangga terpenuhi.
Namun ketika musim kering datang dan sumber air baku mulai berkurang, kita baru menyadari bahwa air bukan sekadar komoditas pelayanan publik, melainkan urat kehidupan yang membutuhkan manajemen serius.
Selama puluhan tahun bekerja sebagai jurnalis, saya melihat banyak persoalan pembangunan daerah berawal dari sesuatu yang dianggap sederhana.

Jalan yang rusak, harga pangan yang naik, listrik yang terganggu, hingga air bersih yang tersendat, semuanya memiliki cerita panjang tentang bagaimana sebuah sistem dirancang dan dikelola.
Krisis air bersih bukan hanya persoalan teknis perusahaan air minum, tetapi gambaran bagaimana manusia berhubungan dengan alam dan bagaimana pemerintah daerah merancang ketahanan pelayanan publik.
Musim kemarau beberapa bulan terakhir menjadi ujian berat bagi sejumlah wilayah di Banua. Sungai-sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan mulai mengalami penurunan debit.
Masyarakat yang tinggal jauh dari jaringan perpipaan harus mencari sumber air alternatif, sementara perusahaan air minum menghadapi persoalan yang sama yakni sumber air baku semakin terbatas.
Tak bisa dipungkiri jika sejumlah perusahaan air bersih seperti PT Air Minum Intan Banjar maupun PT Air Minum Bandarmasih serta perusahaan sejenisnya harus bekerja keras menjaga stabilitas pasokan bahan baku.
Sungai Martapura yang menjadi salah satu sumber pengambilan air baku melalui nstalasi Pengolahan Air (IPA) Syarkawi) di Sungai Tabuk mengalami penurunan debit akibat musim kemarau. Perusahaan harus bekerja lebih cermat agar proses produksi dan distribusi air kepada masyarakat tetap berjalan.
Di sisi lain, PT Air Minum Bandarmasih juga menghadapi tekanan akibat kondisi Sungai Martapura yang mengalami intrusi air laut.
Peningkatan kadar garam membuat perusahaan harus berhati-hati dalam mengambil air baku melalui intake Sungai Bilu. Penurunan kualitas air baku otomatis berpengaruh terhadap proses pengolahan dan kapasitas produksi.
Saya pernah berada di ruang redaksi ketika sebuah isu pelayanan publik muncul dan menjadi perhatian masyarakat. Dalam proses mencari berita, saya belajar bahwa angka produksi, kapasitas instalasi, maupun laporan teknis tidak pernah berdiri sendiri.
Di balik angka tersebut selalu ada kehidupan manusia yang bergantung pada keputusan para pengelola.
PT Air Minum Intan Banjar, misalnya, saat ini mendistribusikan suplai air bersih sekitar 450 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru.
Sistem pelayanan tersebut didukung oleh suplai air curah dari SPAM Banjarbakula dengan sumber air baku Mandi Kapau, Karang Intan, serta pengolahan mandiri melalui IPA Pinus dengan kapasitas sekitar 80–90 liter per detik.
Sementara itu, PT Air Minum Bandarmasih memiliki kapasitas produksi sekitar 2.300–2.350 liter per detik melalui sejumlah instalasi pengolahan air.
Sistem tersebut didukung oleh beberapa sumber air baku, antara lain intake Sungai Bilu untuk IPA I Jalan A Yani dengan kapasitas sekitar 500 liter per detik, serta IPA II Jalan Pramuka yang mendapatkan pasokan dari Sungai Tabuk dan Irigasi Pematang Panjang dengan kapasitas besar sekitar 1.750 liter per detik.
Namun kapasitas produksi yang besar tidak otomatis membuat persoalan selesai. Tantangan terbesar perusahaan air minum bukan hanya bagaimana mengolah air, tetapi bagaimana memastikan sumber air baku tetap tersedia dalam jangka panjang.
Dalam perspektif manajemen operasional, krisis air adalah persoalan pengelolaan sumber daya.
Perusahaan harus mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pelanggan, kemampuan produksi, kondisi lingkungan, dan investasi infrastruktur. Konsep manajemen risiko menjadi sangat penting karena perubahan iklim telah mengubah pola ketersediaan air.
Pengalaman mengikuti berbagai liputan pembangunan daerah menunjukkan bahwa infrastruktur yang baik harus berjalan bersama tata kelola yang baik.
Membangun instalasi pengolahan air tanpa menjaga kawasan tangkapan air ibarat memperbesar mesin tanpa memastikan bahan bakarnya tersedia.
Karena itu, strategi menghadapi musim kemarau tidak cukup hanya dengan menunggu hujan turun. Perusahaan air minum perlu memperkuat diversifikasi sumber air baku, meningkatkan teknologi pengolahan, mengurangi tingkat kehilangan air (non revenue water), serta memperkuat kerja sama antarwilayah dalam pengelolaan sumber daya air.
Masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Krisis air bukan hanya urusan PDAM atau pemerintah. Perilaku penggunaan air di rumah tangga ikut menentukan tekanan terhadap sistem pelayanan.
Kebiasaan menggunakan air secara bijak, memperbaiki kebocoran pipa rumah, memanfaatkan kembali air untuk kebutuhan nonkonsumsi, hingga membuat sumur resapan atau biopori merupakan langkah kecil yang memiliki dampak besar jika dilakukan bersama.
Begitu pula dalam perjalanan jurnalistik saya mencermati bahwa persoalan besar biasanya memiliki pintu masuk dari kebiasaan kecil. Sungai yang semakin dangkal, kawasan resapan yang berkurang, dan konsumsi air yang tidak terkendali merupakan rangkaian persoalan yang saling berkaitan.
Krisis air hari ini bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari perubahan panjang hubungan manusia dengan lingkungan.
Musim kemarau memberikan pelajaran bahwa air bersih harus dikelola dengan cara berpikir yang lebih jauh daripada sekadar memenuhi kebutuhan hari ini.
Perusahaan air minum tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan, tetapi juga menjadi penjaga keberlanjutan sumber daya yang menentukan masa depan masyarakat.
Dalam perjalanan panjang ini setidaknya saya menemukan bahwa pembangunan yang paling penting sering kali tidak terlihat secara langsung. Karena bekerja dalam diam, mengalir melalui pipa-pipa yang tidak pernah kita pikirkan, tetapi menentukan kehidupan jutaan orang setiap hari.
Air bersih mengingatkan kita bahwa keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari seberapa banyak infrastruktur yang dibangun, melainkan dari kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan keberlangsungan generasi yang akan datang.
Penulis adalah Jurnalis Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Akademisi
