Friendship Force International Terpesona Kalsel
Delegasi Friendship Force International bersama Dr. Ir. H. Ariadi Noor, M.Si. Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan SelatanH. Iwan Fitriady, S.H., M.H. (Foto - Olpah Sari).
Sebut Banua dan Indonesia Telah Menjadi Keluarga
Keramahan masyarakat, kekayaan budaya, hingga cita rasa kuliner khas Banua meninggalkan kesan mendalam bagi delegasi Friendship Force International dari Amerika Serikat dan Jepang yang melakukan kunjungan persahabatan ke Kalimantan Selatan.
Bagi para tamu mancanegara tersebut, perjalanan ke Indonesia bukan sekadar agenda wisata budaya. Lebih dari itu, kunjungan ini menjadi pengalaman kemanusiaan yang mempertemukan masyarakat lintas negara melalui interaksi, persahabatan, dan kehangatan keluarga.
Sejak tiba di Kalimantan Selatan, para anggota Friendship Force International mengaku merasakan sambutan yang berbeda.
Mereka tidak hanya melihat Kalsel dan Indonesia sebagai destinasi perjalanan, tetapi sebagai tempat yang menghadirkan hubungan emosional dan rasa kebersamaan.
Salah seorang anggota delegasi asal Amerika Serikat, Carol, mengungkapkan rasa harunya setelah merasakan keramahan masyarakat Indonesia, termasuk saat melihat langsung proses pembuatan kain tradisional.
“Ini adalah hadiah paling berharga yang pernah saya terima. Saya benar-benar terharu oleh kebaikan hati orang-orang yang saya temui di Indonesia. Saya sangat mengagumi keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat kain tradisional seperti ini. Terima kasih banyak,” ujarnya saat berkunjung ke Rumah Dinas Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, H Hasnuriyadi Sulaimana, Jumat (06/08/2026).

Menurut Carol, pengalaman berada di Indonesia memberikan pemahaman baru tentang budaya dan nilai kehidupan masyarakat yang penuh kehangatan.
“Saya semakin memahami budaya Indonesia, dan saya merasa Indonesia telah menjadi keluarga saya. Saya merasa disambut dengan begitu hangat dan benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarga. Orang Indonesia, Amerika, Jepang, kita semua adalah manusia yang sama. Saya benar-benar merasakan hal itu,” tuturnya.
Tidak hanya budaya, kekayaan kuliner Banua juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi para delegasi. Susi, salah seorang peserta Friendship Force International, mengaku terkesan dengan cita rasa makanan khas Kalimantan Selatan, meskipun dirinya bukan penyuka makanan pedas.
“Saya sudah mencoba begitu banyak makanan sepanjang hidup saya, tetapi makanan di sini benar-benar lezat. Saya sebenarnya bukan orang yang terlalu suka makanan pedas, tetapi semuanya sangat enak,” katanya.
Pengalaman lain disampaikan Adam, anggota delegasi lainnya. Ia menilai keramahan masyarakat Kalimantan Selatan membuat perjalanan mereka terasa seperti berada di rumah sendiri.
“Semua orang di sini sangat baik dan ramah. Rasanya seperti berada di rumah sendiri. Saya sangat senang mendapat kesempatan untuk datang ke sini,” ujarnya.
Bagi para peserta, nilai utama dari perjalanan ini bukan hanya tentang melihat tempat baru atau menikmati makanan khas daerah, tetapi merasakan hubungan antarmanusia yang dibangun melalui ketulusan.
“Kami tidak hanya ingin mengisi perut, tetapi juga mengisi hati. Kami merasakan kemurahan hati masyarakat Indonesia, semangat mencintai kehidupan, dan kepedulian satu sama lain,” ungkap salah seorang peserta.

Selama berada di Kalimantan Selatan, delegasi Friendship Force International diperkenalkan dengan berbagai kekayaan lokal, mulai dari budaya Banjar, kain sasirangan, seni tradisional, kuliner khas daerah, hingga kehidupan masyarakat yang masih menjaga nilai gotong royong dan kebersamaan.
Kunjungan ini menjadi bagian dari konsep citizen diplomacy atau diplomasi masyarakat, sebuah pendekatan yang dilakukan Friendship Force International untuk membangun perdamaian dan pemahaman antarbangsa melalui hubungan langsung antarwarga.
Melalui program pertukaran budaya tersebut, para peserta tidak hanya menjadi wisatawan yang melihat Indonesia dari permukaan, tetapi ikut merasakan kehidupan masyarakat lokal melalui interaksi langsung dan pengalaman bersama keluarga maupun komunitas setempat.
Friendship Force International (FFI) merupakan organisasi nirlaba global yang berdiri sejak 1977 di Atlanta, Amerika Serikat. Organisasi ini memiliki misi mempererat persahabatan dan pemahaman antarbudaya melalui program pertukaran masyarakat (home hospitality) dengan tinggal bersama keluarga lokal.
Program tersebut telah berkembang di lebih dari 60 negara di dunia dan menjadi wadah bagi masyarakat berbagai bangsa untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta membangun hubungan tanpa batas negara.
Kunjungan Friendship Force International ke Kalimantan Selatan menjadi bukti bahwa daya tarik Banua tidak hanya terletak pada keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi juga pada karakter masyarakatnya yang terbuka, ramah, dan mampu menghadirkan rasa kekeluargaan bagi siapa pun yang datang.
Bagi para tamu internasional itu, Kalimantan Selatan bukan sekadar tempat yang dikunjungi. Banua telah meninggalkan cerita sebagai rumah kedua, tempat persahabatan tumbuh dan hubungan antarbangsa semakin dekat.(Olpah Sari).
