Pikiran yang Tinggal Setelah Berita
Mewariskan Cara Pandang Seorang Wartawan
Oleh: Muhammad Risanta
Saya melintas kawasan Kayu Tangi, Jalan Hasan Basry Banjarmasin dan tak sengaja memandang sebuah bangun ruko kokoh di pertigaan jalan.Tahun 2000 saya ingat itu adalah sebuah rumah bertingkat tua, yang menjadi markas saya bersama kawan-kawan ketika merintis sebuah koran Harian dari sisipan sebuah media besar di Surabaya.
Namun bukan itu yang mengusik pikiran saya saat berhenti sebentar mengayuh sepeda sore-sore persis di depan kantor lama saya mengawali bekerja sebagai wartawan media cetak. Pada masa-masa itu koran adalah primadona selain media televisi.
Karena saya pun menerawang pikiran lama, masa ketika seorang wartawan datang ke ruang redaksi dengan pakaian yang masih menyimpan debu perjalanan.
Sepasang sepatu membawa jejak jalan yang baru dilalui, sementara buku catatan kecil di tangan menyimpan percakapan, pengamatan, dan potongan-potongan cerita manusia yang ditemui sepanjang hari.
Di masa itu, sebuah berita tidak lahir dari sekadar kecepatan. Berita tumbuh dari proses panjang: mendengar, bertanya, memeriksa, merenungkan, kemudian menuliskannya dengan penuh tanggung jawab.Setidaknya ini pengalaman saya, Salimi, Yusni Hardi, Efet Kemos, Novi “Gimbal” Abdi, Arsyad, Rosita memulai perjuangan mengenalkan koran harian yang bersaing ketat dengan koran-koran besar yang berjaya saat itu.
Saya masih mengingat bagaimana suasana ruang redaksi membentuk cara berpikir seorang wartawan. Sebuah informasi tidak langsung diterima begitu saja. Setiap fakta dibicarakan, setiap sudut pandang dipertimbangkan, dan setiap kalimat dipastikan memiliki dasar yang kuat.
Ini adalah pengalaman yang memberikan pelajaran penting bahwa jurnalistik bukan hanya pekerjaan tentang kata-kata. Jurnalistik adalah perjalanan memahami manusia.Begitu kata Bang Almin Hatta, salah satu senior yang mencetak wartawan berbakat dan berkembang baik seperti saya.
Sebab di balik sebuah peristiwa selalu ada kehidupan yang bergerak. Di balik angka ekonomi terdapat keluarga yang sedang berjuang. Di balik kebijakan publik terdapat masyarakat yang merasakan dampaknya. Di balik perubahan teknologi terdapat manusia yang harus belajar menyesuaikan diri.
Wartawan berada di tengah semua perubahan itu, mencoba merekam perjalanan zaman melalui tulisan.Itu kalimat bijak seorang Erwin Dede Nugroho, Pemimpin Redaksi koran kami. Erwin berusia muda bertubuh besar yang banyak mengubah gaya menulis saya hingga saat ini.
Berita Memiliki Usia, Pemikiran Memiliki Perjalanan
Dalam perjalanan panjang panjang sebagai wartawan, saya menemukan bahwa sebuah berita memiliki karakter yang unik. Berita hadir pada suatu waktu, menjadi perhatian masyarakat, kemudian perlahan digantikan oleh peristiwa lain.
Namun sebuah pemikiran tidak berjalan seperti berita harian.
Pemikiran memiliki perjalanan yang lebih panjang karena ia lahir dari pengalaman, pengamatan, dan perenungan.
Sebuah laporan jurnalistik yang ditulis dengan kedalaman tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi membantu masyarakat memahami konteks. Sebuah esai tidak hanya menjelaskan persoalan, tetapi mengajak pembaca melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas.
Maka inilah kekuatan seorang wartawan yang tidak berhenti pada aktivitas mencari berita, tetapi terus mengembangkan kemampuan berpikir.
Dalam kajian komunikasi massa, media tidak hanya dipahami sebagai saluran penyampaian informasi. Media memiliki fungsi sosial dalam membentuk pemahaman masyarakat terhadap realitas. Cara sebuah peristiwa diberitakan dapat mempengaruhi cara publik melihat sebuah persoalan.
Karena itu, wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan bagaimana sebuah realitas disampaikan.
Bukan dengan menciptakan cerita, tetapi dengan menemukan makna yang terdapat dalam fakta.

Membaca Kehidupan di Balik Fakta
Seorang wartawan yang lama berada di lapangan akan memahami bahwa fakta bukan sekadar angka dan data. Fakta memiliki wajah manusia.
Ketika saya meliput aktivitas ekonomi masyarakat kecil, misalnya, saya tidak hanya melihat transaksi jual beli. Tetapi juga melihat perjuangan seorang pedagang mempertahankan usaha, kreativitas pelaku UMKM menghadapi perubahan pasar, dan harapan keluarga yang bergantung pada penghasilan harian.
Maka ketika saya menulis tentang pembangunan daerah, saya tidak hanya mencatat nilai investasi atau pembangunan fisik. Saya mencoba melihat bagaimana pembangunan tersebut diterima oleh masyarakat dan perubahan apa yang terjadi setelahnya.
Pengalaman lapangan seperti itu mengajarkan bahwa wartawan membutuhkan dua kemampuan sekaligus ketelitian terhadap fakta dan kepekaan terhadap kehidupan manusia.
Tanpa fakta, jurnalistik kehilangan pijakan. Tanpa kemanusiaan, jurnalistik kehilangan jiwa.
Dua hal tersebut harus berjalan bersama agar sebuah tulisan tidak hanya benar secara informasi, tetapi juga bermakna bagi pembaca.
Wartawan di Tengah Banjir Informasi
Perubahan teknologi telah membawa dunia media memasuki babak baru. Informasi bergerak lebih cepat dibandingkan masa sebelumnya. Masyarakat memperoleh berita melalui berbagai perangkat digital yang selalu berada dalam genggaman.
Perubahan ini memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan persoalan yang semakin kompleks.
Jumlah informasi yang beredar tidak selalu sejalan dengan kualitas informasi yang diterima masyarakat.
Dalam situasi seperti itu, pekerjaan wartawan profesional semakin membutuhkan kemampuan analisis.
Wartawan tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi tercepat. Wartawan perlu menjadi penjaga kualitas informasi publik.
Konsep literasi media menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara kritis. Dalam proses tersebut, wartawan memiliki peran penting karena karya jurnalistik yang baik dapat membantu masyarakat membangun pemahaman yang lebih sehat terhadap berbagai persoalan.
Seorang wartawan tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”
Ia juga perlu menggali pertanyaan yang lebih dalam mengapa peristiwa itu terjadi? Siapa yang terdampak? Apa maknanya bagi kehidupan masyarakat?
Jadi pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat jurnalistik memiliki nilai lebih dibandingkan sekadar penyebaran informasi.

Dari Ruang Redaksi Menuju Ruang Pendidikan
Perjalanan panjang dalam jurnalistik kemudian membawa saya memasuki dunia akademik.
Sebagai dosen, saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman kepada generasi muda. Saya menemukan bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga membutuhkan cerita tentang bagaimana teori tersebut bekerja dalam kehidupan nyata.
Pengalaman jurnalistik memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajaran. Saya selalu percaya bahwa ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu harus mampu membaca persoalan masyarakat.
Ekonomi tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi tentang kehidupan manusia. Komunikasi tidak hanya berbicara tentang pesan, tetapi tentang bagaimana masyarakat membangun pemahaman bersama. Manajemen tidak hanya berbicara tentang organisasi, tetapi tentang bagaimana manusia mengambil keputusan.
Pengalaman sebagai wartawan membantu melihat bahwa setiap ilmu memiliki hubungan dengan realitas kehidupan.
Seorang wartawan mungkin suatu hari meninggalkan ruang redaksi. Media tempat bekerja dapat berubah. Teknologi yang digunakan dapat berganti.
Namun gagasan yang ditulis dengan ketulusan dan tanggung jawab akan memiliki perjalanan yang berbeda.
Buku, esai, dan karya jurnalistik mendalam menjadi ruang tempat seorang wartawan menyimpan pemikirannya.
Melalui tulisan, seorang wartawan tidak hanya meninggalkan catatan tentang apa yang pernah terjadi, tetapi juga meninggalkan cara melihat sebuah zaman.
Perjalanan panjang saya di dunia jurnalistik mengajarkan bahwa keyboard laptop bukan sekadar alat untuk menulis berita. Ini semata-mata alat untuk menjaga ingatan manusia.
Berita mungkin selesai dibaca dalam hitungan menit. Namun pemikiran yang baik dapat menemani pembacanya bertahun-tahun kemudian.
Sebab yang tersisa dari seorang wartawan bukan hanya namanya dalam halaman media, bukan pula jumlah berita yang pernah ditulis, tetapi cara pandangnya.
*Penulis adalah Jurnalis Senior | Ahli Pers Dewan Pers | Akademisi

