MENGAPA SAYA TETAP MENULIS DI USIA PENGALAMAN
Oleh : Muhammad Risanta
Suatu ketika seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada bercanda.
“Pak Risanta, masih mau mengejar tulisan? Bukankah perjalanan sudah panjang, berita yang ditulis sudah ribuan, dan dunia jurnalistik yang digeluti juga telah melewati banyak perubahan?”
Pertanyaan itu disampaikan dengan suasana santai, tetapi bagi saya justru menyimpan sebuah perenungan yang menarik.
Saya tersenyum mendengarnya, bukan karena pertanyaan tersebut keliru, melainkan karena kalimat sederhana itu menggambarkan cara sebagian orang melihat aktivitas menulis.
Banyak yang menganggap menulis adalah pekerjaan yang memiliki batas waktu. Ketika seseorang masih muda, menulis dianggap sebagai bagian dari perjuangan membangun karier, mencari pengalaman, dan menunjukkan kemampuan.
Namun setelah melewati perjalanan panjang, sebagian orang beranggapan bahwa seseorang seharusnya mulai mengurangi aktivitas tersebut dan memberikan ruang lebih besar kepada generasi berikutnya.
Cara pandang itu mungkin berlaku pada beberapa bidang pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik atau kecepatan kerja. Namun dunia jurnalistik memiliki ukuran yang berbeda.
Bagi seorang wartawan, perjalanan waktu bukan sekadar bertambahnya usia. Perjalanan tersebut membawa kumpulan peristiwa, percakapan, pengamatan, dan pemahaman yang semakin memperkaya cara seseorang membaca kehidupan.

Menulis bagi saya bukan hanya aktivitas menghasilkan berita, artikel, atau opini. Menulis merupakan cara untuk menjaga pikiran tetap bekerja, mempertahankan kepekaan terhadap perubahan sosial, serta menyampaikan catatan kepada masyarakat mengenai berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan zaman.
Selama puluhan tahun lebih berada dalam dunia jurnalistik, saya semakin memahami bahwa berita bukan sekadar rangkaian informasi yang selesai setelah diterbitkan. Sebuah berita memiliki kehidupan yang lebih panjang melalui dampak, pemahaman, dan perubahan yang muncul setelah masyarakat membacanya.
Sebuah laporan mengenai kondisi ekonomi, misalnya, tidak cukup hanya menyampaikan angka pertumbuhan, nilai investasi, atau kebijakan pemerintah.
Kita bisa melihat dari balik data tersebut terdapat kehidupan manusia yang menjalankan usaha, mencari pekerjaan, membangun keluarga, dan berusaha mempertahankan masa depan.
Angka ekonomi memiliki cerita sedangkan pertumbuhan itu memiliki wajah manusia.Lalu ada kebijakan-kebijakan memiliki dampak yang dirasakan masyarakat.
Cara pandang seperti itulah yang membuat saya tetap menemukan alasan untuk menulis.
Catatan Dari Perjalanan Panjang Dunia Jurnalistik
Saya memasuki dunia jurnalistik pada masa ketika industri media memiliki ritme kerja yang sangat berbeda dibandingkan sekarang.
Ruang redaksi menjadi pusat kehidupan seorang wartawan. Di tempat tersebut, berita tidak sekadar diproduksi, tetapi melalui proses panjang yang membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab.
Wartawan datang membawa catatan dari lapangan, berdiskusi dengan editor (di media keren disebut redaktur), memeriksa kembali informasi, kemudian menyusun laporan yang akan dibaca masyarakat.
Pada masa itu, teknologi belum memberikan kemudahan seperti sekarang. Wartawan harus mengandalkan kemampuan observasi, catatan manual, komunikasi langsung dengan narasumber, serta kejelian membaca situasi di lapangan.
Sebuah berita tidak lahir hanya dari kecepatan, tetapi lahir dari proses.
Saya masih mengingat bagaimana seorang wartawan harus benar-benar memahami persoalan sebelum menulis. Informasi tidak cukup hanya didengar dari satu pihak. Fakta harus dicari, dikonfirmasi, dan ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Kebiasaan tersebut membentuk karakter seorang jurnalis.
Wartawan belajar bahwa tugasnya bukan sekadar menjadi orang pertama yang mengetahui sebuah peristiwa, tetapi menjadi pihak yang mampu menjelaskan peristiwa tersebut secara bertanggung jawab kepada publik.
Perjalanan waktu kemudian membawa perubahan besar.
Dunia media memasuki era digital.
Kecepatan menjadi bagian penting dalam kompetisi informasi. Berita yang dahulu membutuhkan waktu panjang untuk sampai kepada pembaca, kini dapat tersebar dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital.
Perubahan tersebut membawa banyak peluang. Namun perubahan itu juga menghadirkan tantangan baru. Informasi yang cepat belum tentu memberikan pemahaman
Jumlah berita yang semakin banyak belum tentu membuat masyarakat semakin mengerti persoalan. Dalam situasi seperti itu, kualitas jurnalistik menjadi semakin penting.
Pada masa awal perjalanan sebagai wartawan, saya memahami bahwa pekerjaan reporter memiliki dinamika yang sangat kuat. Setiap peristiwa memiliki batas waktu pemberitaan, setiap laporan harus diselesaikan sesuai tenggat redaksi, dan setiap informasi yang diperoleh dari lapangan harus melalui proses penyusunan agar dapat disampaikan kepada masyarakat secara akurat.
Karena itu saya sependapat dengan apa yang disampaikan senior saya Almin Hatta dan Haji Asmuni (wartawan senior Kalsel) ritme tersebut membentuk mental seorang wartawan.
Seorang reporter terbiasa bergerak cepat, mengambil keputusan dalam situasi terbatas, serta memahami bahwa kesempatan mendapatkan informasi sering kali hanya datang sekali.
Namun perjalanan panjang di lapangan memberikan pelajaran penting bahwa jurnalistik tidak hanya berbicara mengenai siapa yang paling cepat menyampaikan berita.
Kecepatan memang menjadi bagian dari pekerjaan media, tetapi kedalaman menjadi ukuran yang menentukan nilai sebuah tulisan.
Berita yang hanya mengejar kecepatan sering kali berhenti sebagai informasi sesaat.
Sebaliknya, tulisan yang mampu menjelaskan persoalan secara utuh memiliki kesempatan untuk bertahan lebih lama dalam ingatan pembaca.

Saya merasakan hal tersebut terutama saat meliput berbagai persoalan ekonomi. Ekonomi bukan hanya tentang angka yang tercantum dalam laporan resmi pemerintah atau lembaga keuangan. Ekonomi adalah cerita manusia.
Saat membahas koperasi, misalnya, yang terlihat bukan hanya jumlah anggota, nilai aset, atau perkembangan usaha. Di dalamnya terdapat semangat masyarakat membangun kekuatan ekonomi bersama, menjaga keberlanjutan usaha, dan mencari jalan agar kesejahteraan dapat dirasakan lebih luas.
Begitu pula saat membahas ekonomi kreatif. Sebuah produk bukan hanya barang yang diperjualbelikan.
Di dalamnya terdapat gagasan, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan perjuangan seseorang mengubah ide menjadi nilai ekonomi.
Perspektif seperti itu tidak lahir hanya dari membaca data.Kalau mau jujur pemahaman tersebut tumbuh dari perjalanan melihat langsung kehidupan masyarakat.
Ruang Redaksi Udah Berubah, Kawan !
Perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik membuat saya menyaksikan perubahan yang tidak kecil. Saya pernah berada dalam masa ketika berita lahir melalui proses yang serba manual, kemudian mengikuti perkembangan industri media yang bergerak menuju ruang digital dengan kecepatan yang sulit dibayangkan sebelumnya.
Perubahan tersebut bukan hanya terlihat dari alat kerja yang digunakan wartawan. Perubahan paling besar justru terjadi pada cara informasi diproduksi, disebarkan, dan diterima masyarakat.
Saya masih mengingat suasana ruang redaksi pada masa awal perjalanan jurnalistik. Wartawan datang membawa catatan hasil liputan, berdiskusi dengan redaktur mengenai sudut pandang berita, kemudian memperbaiki tulisan berdasarkan masukan yang diberikan.
Sebuah berita tidak sekadar mengejar kecepatan terbit, tetapi melalui proses panjang agar informasi yang sampai kepada pembaca benar-benar memiliki dasar yang kuat.
Ruang redaksi menjadi tempat belajar yang sangat berharga bagi perjalanan karir saya sebagai wartawan dan penulis buku.
Di sana seorang wartawan memahami bahwa fakta tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi harus dipahami. Sebuah pernyataan narasumber tidak bisa berdiri sendiri tanpa melihat konteks persoalan yang melatarbelakanginya. Sebuah peristiwa tidak cukup dilaporkan berdasarkan apa yang terlihat, tetapi perlu digali lebih dalam agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh.
Perubahan Teknologi Membawa Industri Media memasuki Babak Baru.
Internet mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi. Berita yang dahulu menunggu jadwal terbit media cetak, kini dapat hadir dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital.
Wartawan yang sebelumnya bekerja dengan perangkat sederhana, kini memiliki beragam alat yang mampu membantu proses peliputan secara lebih cepat.
Nah dari sini pula saya melihat perubahan tersebut sebagai perkembangan yang tidak dapat dihindari.Satu kata yang saya ingat dari satu pimpinan saya di Trans7, Bang Manyus Pagar Alam adalah media harus bergerak mengikuti zaman.
Wartawan harus memahami cara kerja teknologi baru. Namun perjalanan panjang di profesi ini memberikan satu pelajaran penting kemajuan alat tidak otomatis menghasilkan kualitas informasi.
Teknologi mampu mempercepat penyebaran berita, tetapi tetap membutuhkan manusia yang mampu mempertimbangkan nilai sebuah informasi, memahami dampaknya bagi masyarakat, dan menjaga agar pekerjaan jurnalistik tidak kehilangan tanggung jawab sosialnya.
Ingat Bung ! Kecepatan Bukan Satu-Satunya Ukuran Sebuah Tulisan
Pada masa awal menjadi wartawan, saya memahami bahwa pekerjaan reporter memiliki ritme yang sangat dinamis. Setiap hari membawa tantangan baru. Sebuah peristiwa dapat terjadi tanpa diduga, narasumber dapat berubah pikiran, dan sebuah informasi harus segera diperoleh agar tidak kehilangan momentum pemberitaan.
Situasi seperti itu membentuk ketangguhan seorang wartawan.
Kemampuan bergerak cepat memang menjadi bagian penting dari pekerjaan jurnalistik. Namun semakin lama berada di lapangan, semakin saya memahami bahwa berita yang baik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat menyampaikan informasi.
Ada hal yang lebih penting dari sekadar kecepatan, yaitu kemampuan memahami persoalan.
Sebuah berita yang hanya berhenti pada permukaan sering kali kehilangan makna setelah beberapa waktu. Sebaliknya, tulisan yang mampu menjelaskan hubungan antara peristiwa dan kehidupan masyarakat memiliki nilai yang lebih panjang.
Pemahaman tersebut semakin terasa ketika saya banyak bersentuhan dengan liputan ekonomi.
Angka pertumbuhan ekonomi, misalnya, bukan hanya sekumpulan data yang tercantum dalam laporan resmi. Di dalam angka tersebut terdapat cerita mengenai masyarakat yang berusaha meningkatkan pendapatan, pelaku usaha yang mencari peluang, dan pemerintah yang berupaya menciptakan kebijakan untuk mendorong kesejahteraan.
Saat menulis mengenai koperasi, saya tidak hanya melihat lembaga dengan struktur organisasi, jumlah anggota, atau laporan keuangan. Saya melihat sebuah gerakan ekonomi yang tumbuh dari semangat kebersamaan masyarakat.
Begitu pula saat mengangkat ekonomi kreatif. Sebuah produk yang terlihat sederhana sering kali memiliki perjalanan panjang sebelum sampai kepada konsumen. Di dalamnya terdapat kreativitas, keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca pasar, serta kerja keras seseorang yang berusaha mengubah gagasan menjadi nilai ekonomi.
Cara melihat persoalan seperti itu membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis.
Dibutuhkan kebiasaan mendengar, mengamati, dan memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
Menjaga Nilai Jurnalistik di Tengah Arus Informasi
Perubahan dunia media membawa tantangan baru yang tidak pernah sederhana.
Hari ini informasi bergerak sangat cepat. Masyarakat menerima berbagai kabar dari banyak sumber dalam waktu bersamaan. Situasi tersebut membuat pekerjaan wartawan semakin membutuhkan ketelitian.
Hem saat ini melihat tantangan terbesar media modern bukan hanya bagaimana menghasilkan berita lebih cepat, tetapi bagaimana mempertahankan kepercayaan publik.
Kepercayaan tidak dibangun melalui jumlah berita yang dipublikasikan. Kepercayaan lahir dari konsistensi menjaga akurasi, keberimbangan, dan tanggung jawab dalam setiap karya jurnalistik.
Teknologi digital memberikan peluang besar bagi dunia media. Pengolahan data menjadi lebih mudah. Distribusi tulisan menjadi lebih luas. Wartawan memiliki kesempatan menjangkau pembaca yang sebelumnya sulit dicapai.
Namun semua kemudahan tersebut harus berjalan bersama dengan prinsip dasar jurnalistik. Sebuah informasi tetap membutuhkan pemeriksaan dan sebuah pernyataan tetap membutuhkan konteks.
Dan seterusnya adalah sebuah berita tetap membutuhkan pertimbangan mengenai kepentingan publik.
Pengalaman bertahun-tahun berada dalam dunia media membuat saya percaya bahwa teknologi tidak pernah menjadi pengganti nilai-nilai jurnalistik. Teknologi hanyalah sarana yang membantu manusia bekerja lebih baik.
Kekuatan utama sebuah tulisan tetap berada pada kemampuan penulisnya membaca realitas.
Usia Pengalaman dan Ruang Untuk Terus Berkarya
Memasuki fase kehidupan yang lebih matang, saya tidak melihat usia sebagai batas untuk berhenti menghasilkan gagasan.
Justru perjalanan panjang memberikan kesempatan untuk melihat berbagai persoalan dengan sudut pandang yang lebih luas.
Saya tidak lagi menulis hanya untuk mengejar kecepatan pemberitaan seperti masa awal menjadi reporter. Ada ruang yang lebih besar untuk melakukan perenungan, menghubungkan berbagai peristiwa, dan menyampaikan pemikiran berdasarkan perjalanan yang telah dilalui.
Menulis menjadi cara untuk berbagi pemahaman. Bukan sekadar menyampaikan apa yang terlihat, tetapi mencoba menjelaskan mengapa sebuah peristiwa penting untuk diperhatikan.
Bagi saya, perjalanan menulis belum selesai. Bukan karena mengejar jumlah karya, melainkan karena masih banyak cerita masyarakat yang perlu dicatat dan banyak perubahan zaman yang perlu dipahami melalui perspektif jurnalistik.

