BAMBANG RISANTA DAN HAERUDDIN

Secangkir Kopi, Sepak Bola, dan Perjalanan Kecil Seorang Pekebun yang Kecanduan Menulis

Oleh: Bambang Budiansyah

Kolumnis Economic Travelling.Com.

Pagi itu saya duduk santai sambil menyeruput kopi. Sesekali tangan membetulkan posisi kaki yang masih terasa pegal. Pegal bukan karena mencangkul di kebun dan bukan pula karena perjalanan jauh.

Kaki ini terasa “protes” karena beberapa jam sebelumnya ikut bergerak mengikuti drama pertandingan final Piala Dunia 2026.Hehehe lucu memang.

Saya yang mengaku sebagai penonton netral, ternyata tidak benar-benar bisa diam. Ketika pemain Spanyol dijatuhkan pemain Argentina, suara ikut keluar. Saat pemain Argentina mendapat pelanggaran, saya pun ikut bereaksi.

Padahal kalau dipikir-pikir, saya ini sebenarnya mendukung siapa? Saya sendiri kadang tidak tahu. Melihat tingkah saya, sahabat saya Daeng Khairuddin langsung tertawa.

“Pian tim mana jua, saraba mendukung.” (Kamu ini tim mana sebenarnya, semuanya didukung). Kalimat itu membuat kami tertawa bersama.

Namun begitulah sepak bola. Ia memiliki kemampuan membuat batas antara penonton dan permainan menjadi tipis. Kita memang tidak berada di lapangan, tetapi emosi seolah ikut berlari bersama para pemain.

Sepak Bola Itu Seperti Musik

Bagi saya, sepak bola bukan sekadar melihat siapa mencetak gol lebih banyak. Sepak bola adalah pertunjukan.Di dalamnya ada strategi, drama, emosi, keindahan yang kadang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Saya sering membayangkan sepak bola seperti sebuah pertunjukan orkestra. Seperti karya musik yang dimainkan dengan penuh perasaan oleh Addie MS bersama Twilite Orchestra atau komposisi indah Erwin Gutawa.

 

Dalam sebuah orkestra, tidak semua pemain memegang alat musik yang paling keras suaranya. Tetapi setiap bagian memiliki peran.

Begitu pula sepak bola, kita menyaksikan ada pemain yang menjadi pusat perhatian.Kemudian ada pemain yang bekerja tanpa banyak dipuji. Ada pula yang tiba-tiba muncul dalam satu momen, lalu namanya dikenang sepanjang masa.Dan jujur saja Final Piala Dunia 2026 memberikan contoh sempurna.

Ferran Torres bukan pemain yang paling sering menjadi pembicaraan sebelum pertandingan besar itu. Namun satu sentuhan kakinya mengubah sejarah.

Sepak bola memang sering seperti itu. Ia tidak selalu memilih pemain yang paling ramai dibicarakan. Kadang ia memilih seseorang yang diam-diam menunggu waktunya.

Menonton Final dengan Cara Sederhana

Saya menikmati final Piala Dunia 2026 dengan suasana sederhana. Tidak ada ruang khusus dan tidak ada analisis rumit dengan layar penuh statistik.

Yang ada hanyalah teman-teman, obrolan ringan, secangkir kopi, kacang garing, dan Gumbili Basanga buatan Bunda Olpah Sari, Pimpinan Media Economic Travelling.Com, yang juga istri Bang Muhammad Risanta.

Suasana seperti itu justru menjadi kenangan tersendiri.Karena ada tawa, “Bakuciak” (teriak), serta komentar spontan yang kadang tidak masuk akal.

Tetapi bukankah memang itu bagian paling menarik dari sepak bola? Kadang yang kita ingat bukan hanya skor akhir pertandingan. Melainkan siapa yang duduk di sebelah kita saat menyaksikannya.

Dari Tulisan Pertama yang Penuh Keraguan

Kalau boleh jujur, perjalanan saya menulis tidak dimulai dengan rasa percaya diri. Justru sebaliknya.

Saya pun sempat ragu dan bertanya dalam hati, “Apa iya tulisan saya layak dibaca orang?”

Sebab saya bukan wartawan dan bukan lulusan jurnalistik. Profesi saya hanyalah seorang pekebun yang bekerja di sebuah perusahaan perkebunan.

Dunia saya sehari-hari lebih dekat dengan tanaman, tanah, dan pekerjaan lapangan. Bukan ruang redaksi dan meja wartawan.

Tetapi rupanya menulis memiliki cara sendiri untuk menemukan penggemarnya.

Awalnya saya hanya mencoba menuangkan pendapat sederhana tentang sepak bola. Tidak ada target besar. Tidak ada ambisi menjadi penulis.

Saya hanya ingin berbagi apa yang saya lihat dan rasakan. Namun ternyata satu tulisan melahirkan tulisan berikutnya. Satu ide memancing ide lainnya dan tanpa terasa, saya mulai menikmati prosesnya.

Bahkan lucunya, sekarang seperti ada yang kurang kalau terlalu lama tidak menulis. Dulu menulis membuat saya ragu dan sekarang malah membuat saya ketagihan.Tentu ketagihan yang positif.

 

Belajar dari Seorang Jurnalis Senior

Dalam perjalanan kecil ini, saya beruntung mendapat banyak dorongan dari orang-orang yang lebih dulu memahami dunia tulisan. Salah satunya adalah Bang Muhammad Risanta.

Beliau seorang jurnalis senior Banua dan nasional yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia media. Dari beliau saya belajar bahwa menulis bukan hanya soal merangkai kata agar terlihat indah.

Tulisan harus memiliki jiwa pesan Bang Muhammad Risanta. Tak hanya itu harus ada cerita. Lalu harus ada sudut pandang atau bahasa jurnalistiknya disebut Angle.

Sebuah peristiwa tidak cukup hanya dilaporkan. Ia perlu diberi makna agar pembaca ikut merasakan.

Nasihat dan pengalaman beliau menjadi bekal berharga bagi saya. Saya sadar, menjadi penulis bukan berarti harus selalu sempurna.

Yang terpenting adalah berani memulai. Sebab banyak orang ingin menulis, tetapi berhenti pada kalimat pertama karena terlalu takut salah.Jujur saja saya pun pernah berada di posisi itu.

Piala Dunia Usai, Cerita Belum Selesai

Kini Piala Dunia 2026 telah selesai. Trofi sudah berpindah tangan dari Argentina ke Spanyol.

Sudah para pemain kembali ke klub masing-masing. Lampu stadion perlahan meredup. Namun cerita sepak bola tetap tinggal yang meresap dalam ingatan.

Ingatan itu bisa dalam obrolan bersama teman atau pula dalam foto-foto pertandingan. Hingga bisa saja dalam secangkir kopi yang menemani sebuah tulisan.

Dan bagi saya pribadi, Piala Dunia ini memberikan cerita lain. Bukan hanya tentang Spanyol yang menjadi juara dan Ferran Torres yang menjadi pahlawan.

Tetapi juga tentang perjalanan kecil seorang pekebun yang mencoba menulis, lalu menemukan kebahagiaan baru di dalamnya.

Saya tidak pernah membayangkan sepak bola bisa membawa saya sejauh ini. Dari hanya menjadi penonton, kemudian menjadi seseorang yang mencoba mengabadikan cerita melalui tulisan.

Mungkin tulisan saya masih jauh dari sempurna. Tetapi bukankah semua perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil?

Sama seperti sebuah pertandingan sepak bola. Tidak ada gol tanpa tendangan pertama.

Tidak ada tulisan tanpa keberanian membuka halaman pertama. Tuntas sudah Piala Dunia.

Namun cerita tentang sepak bola, tentang persahabatan, dan tentang perjalanan menulis, rasanya masih akan terus berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!