Masa Depan Sawit Indonesia oleh SDM, Bukan Luas Perkebunan

0
RISANTA JADI PEKEBUN SAWIT

Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Senior Bidang Ekonomi  & Akademisi

Di dunia perkebunan modern, ukuran keberhasilan tidak lagi dihitung dari berapa hektare lahan yang dimiliki.

Yang jauh lebih penting adalah berapa ton produksi yang mampu dihasilkan dari setiap hektare. Pergeseran paradigma inilah yang kini menjadi arah baru pembangunan industri kelapa sawit Indonesia.

Selama bertahun-tahun, peningkatan produksi sawit identik dengan perluasan areal tanam. Kini pendekatan itu mulai ditinggalkan. Selain semakin terbatasnya ketersediaan lahan, tekanan global terhadap isu lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan membuat peningkatan produktivitas menjadi pilihan yang jauh lebih rasional sekaligus strategis.

Saya sendiri sependapat penerapan Good Agricultural Practices (GAP) diperluas lagi.

GAP bukan sekadar istilah teknis dalam dunia perkebunan. Ini merupakan seperangkat praktik budidaya yang mengajarkan petani bagaimana menghasilkan produksi lebih tinggi melalui pengelolaan kebun yang benar, efisien, dan ramah lingkungan.

Bahasa sederhananya adalah dimulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga panen pada tingkat kematangan optimal.

Persoalannya, teknologi tidak akan pernah menghasilkan perubahan apabila tidak diikuti peningkatan kualitas manusianya.

Karena itulah, investasi terbesar sektor perkebunan sesungguhnya bukan pada pupuk, alat berat, maupun bibit semata. Investasi paling bernilai adalah membangun manusia yang mampu memanfaatkan seluruh potensi tersebut secara optimal.

Setidaknya pesan ini juga terekam dalam pesan  kuat di Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan.

Sebanyak 90 pekebun, penyuluh, dan aparatur pemerintah dari Kabupaten Tanah Laut mengikuti program ini bukan sekadar belajar cara menanam sawit, tetapi belajar mengelola kebun sebagai sebuah usaha modern.

Pelatihan tersebut sesungguhnya sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar transfer pengetahuan. Sejatinya itu sedang membangun mentalitas baru petani Indonesia.

 

Foto Ilustrasi – Pekerja Sawit di salah satu perkebunan sawit.

Dari Pekebun Menjadi Manajer Kebun

Di banyak negara produsen pertanian maju, petani tidak lagi diposisikan hanya sebagai pekerja lapangan. Mereka adalah pengambil keputusan, pengelola risiko, sekaligus manajer usaha.

Paradigma yang sama mulai diperkenalkan kepada pekebun sawit Indonesia.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menyampaikanpetani masa depan dituntut memahami lebih dari sekadar teknik budidaya. Mereka harus mampu menyusun perencanaan usaha, melakukan pencatatan biaya produksi, membaca perkembangan teknologi, hingga memahami prinsip keberlanjutan yang kini menjadi syarat utama perdagangan global.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang dilakukan Food and Agriculture Organization (FAO) maupun World Bank. Keduanya menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi petani memberikan dampak jauh lebih besar terhadap kenaikan produktivitas dibanding sekadar bantuan sarana produksi.

Artinya, pembangunan SDM memiliki return on investment yang jauh lebih tinggi dibanding investasi fisik semata.

Kalimantan Selatan sendiri merupakan salah satu daerah penghasil sawit penting di Indonesia.

Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan luas perkebunan sawit telah mencapai lebih dari 509 ribu hektare dengan produksi sekitar 6,3 juta ton tandan buah segar (TBS) setiap tahun.

Angka tersebut memang besar. Namun yang lebih menarik justru potensi peningkatannya.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, drh. Suparmi, melalui penggunaan benih unggul, pemupukan sesuai rekomendasi, serta penerapan budidaya yang baik, produktivitas sawit rakyat masih dapat mencapai lebih dari 20 ton TBS per hektare per tahun.

Artinya, ruang peningkatan produksi masih terbuka lebar tanpa perlu membuka satu hektare pun lahan baru.

Secara ekonomi, pendekatan ini jauh lebih efisien.

Biaya membuka kebun baru sangat besar. Sebaliknya, meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada membutuhkan investasi yang relatif lebih kecil tetapi memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Inilah mengapa hampir seluruh negara produsen sawit saat ini mulai menggeser fokus pembangunan dari ekstensifikasi menuju intensifikasi.

 

Seorang pegawai perkebunan sawit memanen sawit. (Foto – Dok Astra Agro Lestari).

Sawit Indonesia Memerlukan SDM Berkelas Dunia

Saat ini Indonesia menguasai sekitar 58 persen produksi minyak sawit dunia dan menyumbang lebih dari 50 persen ekspor global. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional juga sangat besar.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan industri sawit menopang jutaan lapangan pekerjaan, menjadi sumber devisa terbesar sektor nonmigas, sekaligus menghidupi lebih dari 2,6 juta keluarga pekebun di Indonesia.

Ironisnya, sebagian besar kebun rakyat masih menghadapi persoalan klasik. Produktivitas relatif rendah. Benih belum seluruhnya bersertifikat.Disamping itu pemupukan belum berdasarkan rekomendasi serta pencatatan usaha usaha tani masih minim.

Pelatihan berbasis SDM dan kesejahteraan yang dilakukan ini memiliki arti strategis. Karena yang mereka bangun bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan kapasitas kewirausahaan petani.

Petani diajak memahami bahwa kebun bukan hanya tempat bekerja, tetapi aset produktif yang harus dikelola menggunakan prinsip-prinsip bisnis modern. Lebih dari Sekadar Pelatihan

Sebagai jurnalis yang cukup lama mengikuti dinamika pembangunan ekonomi daerah, saya melihat pelatihan semacam ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada agenda seremonial.

Dalam pandangan saya ini merupakan bagian dari transformasi ekonomi pedesaan.

Indonesia sedang berupaya mengubah petani dari sekadar penerima program menjadi pelaku utama pembangunan.

Perubahan memang tidak selalu terlihat pada hari pertama setelah pelatihan selesai.

Namun, perubahan pola pikir sering kali menjadi investasi paling mahal sekaligus paling menentukan.

Ketika seorang petani mulai menghitung biaya produksi, memilih benih berdasarkan kualitas, memupuk sesuai kebutuhan tanaman, dan mencatat hasil panennya secara sistematis, sesungguhnya ia telah memasuki fase baru sebagai pelaku usaha agribisnis.

Transformasi seperti inilah yang akan menentukan masa depan sawit Indonesia.

Bukan lagi tentang seberapa luas lahan yang dibuka, melainkan seberapa cerdas setiap hektare kebun dikelola.

Intinya saat ini adalah daya saing industri sawit tidak lahir dari banyaknya pohon yang ditanam, tetapi dari kualitas manusia yang merawatnya.

Dan di tengah tantangan perubahan iklim, tuntutan pasar global, serta kompetisi ekonomi yang semakin ketat, investasi terbaik bagi industri sawit Indonesia tetaplah satu, yaitu membangun petani yang profesional, adaptif, dan berdaya saing.

Maka wajah ini kita sebut fondasi agar sawit Indonesia tidak hanya menjadi yang terbesar di dunia, tetapi juga menjadi yang paling produktif, berkelanjutan, dan bernilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!