Tulisan dan Artikel, Merawat Peradaban Dunia Dengan Kata
Oleh: Muhammad Risanta
“Barangkali umur manusia tak sepanjang umur kata-kata.”
Di sebuah perpustakaan tua, lembaran-lembaran buku yang mulai menguning masih setia menyimpan suara penulisnya. Mereka mungkin telah lama berpulang, tetapi pikirannya tetap hidup, menyeberangi waktu, melintasi benua, dan mengetuk pintu hati orang-orang yang tak pernah dikenalnya.
Begitulah tulisan bekerja. Sang tulisan tidak mengenal usia. Tidak mengenal batas negara dan barangkali tidak mengenal kematian.
Setiap kata yang dituliskan dengan hati sesungguhnya sedang mencari rumahnya. Dan rumah terbaik bagi sebuah tulisan bukanlah rak buku atau layar gawai, melainkan ingatan dan hati pembacanya.
Menulis sesungguhnya bukan pekerjaan orang pintar. Menulis adalah pekerjaan orang yang bersedia berpikir lebih dalam, berani merasakan lebih banyak, lalu dengan tulus membagikan apa yang dipahaminya kepada orang lain.
Karena itulah, sejak manusia mengenal huruf, tulisan tak pernah sekadar rangkaian aksara. Ini adalah jejak peradaban. Kadang menjadi saksi sejarah, kadang menjadi pelipur lara, dan tak jarang menjadi api kecil yang mengubah dunia.
Setiap hari kita dikelilingi oleh tulisan. Kita membacanya di layar telepon genggam, di portal berita, di media sosial, pada papan reklame, bahkan pada secarik catatan kecil yang ditempel di pintu lemari es.
Namun, di balik semua itu, tidak semua tulisan lahir dengan tujuan yang sama.
Dalam dunia literasi dan komunikasi, setidaknya ada lima jenis tulisan yang menjadi fondasi hampir seluruh karya yang kita baca setiap hari.
Yang pertama adalah narasi.
Narasi adalah seni bercerita. Narasi itu mengajak pembaca berjalan mengikuti jejak waktu, menyusuri peristiwa demi peristiwa hingga akhirnya tiba di sebuah makna.
Novel, cerpen, biografi, hingga kisah perjalanan merupakan bagian dari narasi. Ketika seseorang menulis, “Pagi itu hujan turun deras saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Kuala Lumpur,” sesungguhnya ia tidak sedang memberi informasi. Ia sedang mengajak pembaca ikut melangkah bersamanya.
Yang kedua adalah deskripsi.
Jika narasi mengajak kita berjalan, maka deskripsi mengajak kita melihat.
Tulisan deskriptif melukiskan sebuah objek dengan begitu hidup hingga pembaca seolah dapat mencium aroma kopi yang baru diseduh, merasakan semilir angin pantai, atau menyaksikan matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala.
Penulis yang baik tidak pernah sekadar mengatakan bahwa suatu tempat itu indah. Ia menghadirkan keindahan itu melalui kata-kata.
Yang ketiga adalah eksposisi.
Inilah wilayah yang paling akrab dengan dunia jurnalistik.
Eksposisi tidak mengejar tepuk tangan. Dan juga tidak mencari sensasi. Tugasnya sederhana, tetapi sangat mulia yakni menjelaskan.
Berita, artikel informatif, buku pelajaran, laporan penelitian, hingga buku panduan lahir dari semangat eksposisi. Di sini fakta menjadi panglima, data menjadi fondasi, dan objektivitas menjadi kehormatan.
Di ruang redaksi, seorang wartawan setiap hari bergulat dengan tulisan jenis ini. Sebab masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak opini. Mereka membutuhkan informasi yang benar.
Yang keempat adalah argumentasi.
Tulisan argumentatif adalah ruang ketika gagasan diuji oleh logika.
Penulis tidak cukup hanya berkata, “Saya setuju” atau “Saya tidak setuju.” Tetapi ia harus menunjukkan alasan, menghadirkan bukti, menyusun fakta, lalu mengajak pembaca berpikir bersama.
Esai kritis, artikel opini, editorial, hingga karya ilmiah hidup dari kekuatan argumentasi.
Sebab tanpa alasan yang kokoh, sebuah pendapat hanya akan menjadi suara yang mudah diterbangkan angin dan tanpa makna.
Dan yang kelima adalah persuasi.
Persuasi bukan sekadar membujuk. Persuasi adalah seni menggerakkan.
Iklan, kampanye kesehatan, ajakan menjaga lingkungan, hingga promosi pariwisata merupakan bentuk tulisan persuasif.
Kalimat sederhana seperti, “Mari kurangi penggunaan plastik demi bumi yang lebih lestari,” mungkin hanya terdiri atas beberapa kata. Namun, jika lahir dari niat baik dan disampaikan dengan tepat, ia mampu mengubah perilaku banyak orang.
Menariknya, dalam praktik sehari-hari, kelima jenis tulisan itu sering kali saling bertemu.
Sebuah feature jurnalistik dapat memadukan narasi yang menyentuh, deskripsi yang hidup, eksposisi yang informatif, argumentasi yang kuat, bahkan persuasi yang halus. Lagi-lagi menulis itu berubah menjadi seni.
Sebab sejatinya, menulis bukan sekadar memilih bentuk tulisan.
Menulis adalah kemampuan meramu kata agar mampu menyampaikan makna.
Ada tulisan yang lahir dari imajinasi. Itulah fiksi.
Ada pula tulisan yang berpijak pada fakta dan kenyataan. Itulah nonfiksi.
Keduanya memiliki tempat terhormat dalam dunia literasi. Fakta membuat manusia memahami realitas, sedangkan imajinasi membuat manusia berani memimpikan masa depan.
Dalam berbagai diskusi dengan sejumlah penggiat literasi, kami menyebut tulisan yang baik bukanlah tulisan yang dipenuhi istilah rumit atau kalimat yang berbelit-belit.
Tulisan yang baik adalah tulisan yang jernih, jujur, mudah dipahami, dan meninggalkan bekas dalam ingatan pembacanya.
Sebab sehebat apa pun seorang penulis, ia sesungguhnya hanya sedang menitipkan pikirannya kepada waktu.
Dan ketika waktu terus berjalan, kata-kata itulah yang akan tetap tinggal.
Ia akan menemukan rumahnya, di hati pembaca.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.
