Menjemput Saudara Serumpun dari Negeri Jiran
Oleh: Muhammad Risanta
Suatu siang, saya bersua dengan seorang teman lama, H. Khuzaimi. Bagi kalangan wartawan, nama ini tentu tidak asing.
Pria yang akrab disapa Pa Jimmy tersebut pernah mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin.
Bagi saya pribadi, Pa Jimmy bukan sekadar mantan birokrat. Ia adalah salah satu ensiklopedia berjalan tentang wisata Banua. Hampir semua sudut pariwisata Kalimantan Selatan ia kuasai.
Menariknya, di balik kapasitas intelektual dan pengalaman panjangnya, Pa Jimmy tetap tampil sebagai sosok yang rendah hati, mudah diajak berdiskusi, dan selalu terbuka kepada media.
Maka tidak heran, ketika siang itu ia bercerita telah membentuk Borneo Travel Malaysia Community, perhatian saya langsung tertuju penuh.
Komunitas ini bergerak di bidang perjalanan wisata yang lebih mandiri dengan segmentasi pasar utama wisatawan Malaysia. Sebuah gagasan yang menurut saya bukan hanya menarik, tetapi juga sangat strategis.
Mengapa Malaysia?
Jawabannya sederhana. Karena Malaysia adalah pasar yang nyata, dekat, dan sangat potensial.

Pariwisata modern sejatinya bukan lagi sekadar menjual pemandangan. Yang dijual adalah pengalaman, kenyamanan, dan kedekatan emosional. Dalam konteks itu, Banjarmasin memiliki modal yang sangat kuat di mata wisatawan Malaysia.
Pertama, ada faktor kedekatan budaya dan religi.
Sebagai sesama rumpun Melayu dengan mayoritas penduduk beragama Islam, wisatawan Malaysia akan merasa seperti berada di rumah sendiri ketika berkunjung ke Banjarmasin.
Mereka tidak kesulitan mencari makanan halal, mudah menemukan masjid, serta merasa dekat dengan tradisi masyarakat Banjar.
Pariwisata sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh rasa nyaman. Dan rasa nyaman itu sudah dimiliki Banjarmasin tanpa perlu dibangun dari nol.
Kedua adalah faktor bahasa.
Kesamaan akar bahasa antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu membuat hambatan komunikasi hampir tidak ada.
Wisatawan Malaysia dapat berinteraksi dengan pedagang, sopir transportasi, pelaku UMKM hingga masyarakat kampung wisata tanpa rasa canggung.
Bagi industri pariwisata, kemudahan komunikasi adalah nilai tambah yang sangat mahal.
Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah keunikan budaya sungai.
Bagi kita orang Banjar, melihat jukung melintas di sungai mungkin sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun bagi wisatawan asing, termasuk Malaysia, itu merupakan pengalaman yang sangat eksotis.
Mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan saat fajar, menyusuri Sungai Martapura, menikmati kehidupan masyarakat bantaran sungai, hingga bersantai di Siring Menara Pandang adalah pengalaman autentik yang tidak mudah ditemukan di negara lain.
Saya selalu memastikan kepada siapa pun inilah letak kekuatan utama pariwisata Banua.
Banjarmasin jangan pernah bermimpi menyaingi Bali dalam wisata pantai atau Bandung dalam wisata belanja. Tetapi Banjarmasin memiliki identitas yang tidak dimiliki daerah lain yakni sebuah peradaban sungai.
Karena itu, pembentukan Borneo Travel Malaysia Community menurut saya adalah langkah cerdas.
Terlebih lagi, saat ini akses menuju Kalimantan Selatan semakin terbuka dengan adanya penerbangan internasional langsung melalui Bandara Internasional Syamsudin Noor menuju Kuala Lumpur.
Dalam teori pariwisata modern, destinasi yang bagus tanpa akses ibarat rumah mewah tanpa jalan masuk. Sebaliknya, akses yang baik akan mempercepat pergerakan wisatawan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun demikian, peluang besar ini tidak boleh hanya berhenti pada euforia. Ada beberapa langkah strategis yang perlu segera dilakukan.
Pertama, membangun paket wisata dua arah (two-way tourism).
Selama ini, hubungan wisata sering kali hanya bersifat satu arah. Padahal peluang yang lebih besar justru terletak pada pertukaran wisatawan.
Agen perjalanan di Banjarmasin perlu menyusun paket inbound bagi wisatawan Malaysia untuk menikmati Pasar Terapung Lok Baintan, wisata susur sungai, Geopark Meratus, Loksado, wisata religi Guru Sekumpul, hingga wisata kuliner khas Banjar.
Sebaliknya, masyarakat Banua juga dapat ditawarkan paket outbound menuju Kuala Lumpur, Genting Highlands, Sabah, maupun Sarawak.
Model bisnis seperti ini jauh lebih berkelanjutan.
Kedua, memperkuat kemitraan bisnis antar pelaku wisata melalui forum Business to Business (B2B) Table Top.
Pelaku industri pariwisata Banua harus mulai aktif menjalin kerja sama langsung dengan asosiasi pariwisata Malaysia seperti MATTA dan berbagai tour operator di negeri jiran.
Hubungan antarlembaga inilah yang nantinya akan menentukan seberapa besar arus wisatawan yang masuk.
Ketiga, memanfaatkan digitalisasi pembayaran.
Kehadiran sistem QRIS lintas negara yang dikembangkan Bank Indonesia merupakan terobosan penting. Wisatawan Malaysia kini dapat bertransaksi lebih mudah, demikian pula masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke Malaysia.
Kemudahan pembayaran akan meningkatkan belanja wisatawan, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap pelaku UMKM.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya paling penting. Pariwisata bukan semata urusan pemerintah, namun sekarang adalah urusan seluruh masyarakat.
Senyum pedagang, keramahan pengemudi, kebersihan sungai, kualitas toilet umum, keamanan lingkungan, hingga kejujuran dalam berdagang, semuanya menentukan apakah wisatawan akan kembali atau justru kapok.
Karena sesungguhnya wisatawan tidak hanya membawa koper ketika datang. Ingat kawan, mereka juga membawa cerita ketika pulang.
Jika cerita yang mereka bawa baik, maka promosi terbaik akan terjadi secara alami dari mulut ke mulut.
Saya optimistis, dengan pengalaman, jejaring, dan kecintaan Pa Jimmy terhadap dunia pariwisata, Borneo Travel Malaysia Community dapat menjadi jembatan persahabatan sekaligus jembatan ekonomi antara Kalimantan Selatan dan Malaysia.
Happy endingnya menurut pandangan sederhana saya adalah pariwisata bukan hanya tentang perjalanan.
Pariwisata adalah tentang mempertemukan manusia, budaya, persaudaraan, dan harapan akan kesejahteraan bersama.
* Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.
