Melaka Journey di Bulan Juni

0
RISANTA KE MELAKA MALAYSIA 2

Kota Tua yang Mengalir dalam Cahaya dan Kenangan

Oleh : Muhammad Risanta

Melaka di bulan Juni selalu punya cara sendiri untuk tinggal lebih lama di ingatan. Kota ini bukan sekadar titik di peta Malaysia, tetapi sebuah ruang waktu yang berjalan pelan, seolah mengajak setiap orang yang datang untuk tidak terburu-buru.

Di sinilah saya pernah singgah, bukan hanya sebagai peliput, tetapi sebagai seseorang yang diam-diam sedang belajar membaca cerita kota tua yang hidup dalam setiap sudutnya.

Perjalanan itu bermula dari sebuah undangan kegiatan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Saya datang bersama rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum DMDI Kalimantan Selatan, H. Ibnu Sina, bersama istri, Dr Siti Wasilah,Bang Fathurrahman, dan Hesly Junianto.

Ada rasa hangat dalam perjalanan itu, bukan sekadar perjalanan dinas, tetapi perjalanan kebersamaan yang membawa kami hingga ke Istana Negeri Melaka.

 

Presiden DMDI Dunia, Dr. Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam,bersama penulis, saat berkunjung ke Istana Negeri Melaka, Malaysia. (foto – Risanta).

Di sana, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Dunia Melayu Dunia Islam, Tun Seri Setia Mohd Ali bin Mohd Rustam. Sosok yang tidak hanya dikenal sebagai tokoh penting Malaysia, tetapi juga sebagai penjaga jejak sejarah dan budaya Melayu yang terus dirawat lintas negara.

Pertemuan itu singkat, namun meninggalkan kesan yang panjang tentang bagaimana identitas budaya bisa menjadi jembatan yang menyatukan banyak bangsa.

Namun Melaka tidak berhenti pada ruang-ruang formal dan pertemuan resmi. Justru di luar itu, kota ini mulai menunjukkan wajahnya yang paling jujur.

Saat malam turun, Melaka berubah menjadi panggung cahaya yang lembut. Lampu-lampu kota menyentuh bangunan-bangunan tua yang berdiri tenang, seolah tidak pernah benar-benar ditinggalkan waktu. Di tepi Sungai Melaka, saya menyusuri perjalanan Melaka River Cruise.

Perahu kecil itu melaju perlahan, membawa kami melewati dinding-dinding mural, kafe-kafe yang hidup, dan bangunan bersejarah yang berdiri seperti saksi bisu perjalanan panjang kota ini.

Angin malam terasa ringan, dan air sungai memantulkan cahaya seperti kaca yang bergerak. Di saat itulah saya merasa, Melaka bukan hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.

Jonker Walk menjadi persinggahan berikutnya. Pasar malam yang selalu ramai setiap akhir pekan ini seperti denyut nadi kota. Aroma makanan, suara musik jalanan, dan langkah kaki pengunjung bercampur menjadi satu irama yang sulit dilupakan.

Hem Melaka membuat saya menikmati malam di sini .Malam di Melaka terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih hidup.Saya sempat menikmati teh tarik yang menjadi salah satu minuman ikonik.

 

Teh tarik mencerminkan keberagaman Malaysia dalam satu gelas dan telah lama membantu menyatukan bangsa yang beragam itu.

Lalu ada The Shore Sky Tower, tempat saya melihat Melaka dari ketinggian. Dari lantai 43, kota ini tampak seperti hamparan cahaya yang tertata rapi.

Lampu-lampu kecil di bawah sana seperti bintang yang jatuh ke bumi, sementara kaca lantai observasi memberi sensasi seolah kita sedang melayang di atas kota.Mungkin di Banjarmasin seperti Tower Nol Kilometer samping Kantor Gubernuran lama.

Red Square atau The Stadthuys berdiri kokoh dengan warna merahnya yang khas. Di malam hari, bangunan ini bukan hanya objek wisata, tetapi seperti potongan sejarah yang kembali disorot cahaya modern. Ia tidak berubah, tetapi dunia di sekitarnyalah yang terus bergerak.

Dan di ujung perjalanan malam itu, Masjid Selat Melaka menyapa dengan ketenangannya. Berdiri di atas air, masjid ini seperti melayang dalam diam. Pantulan cahaya di permukaan laut menciptakan bayangan yang nyaris sempurnasebuah lukisan alam yang tidak pernah benar-benar selesai digambar.

Melaka bagi saya adalah cerita yang tidak selesai dalam satu kunjungan. Ia adalah kota yang mengalir pelan, tetapi meninggalkan jejak yang dalam.

Karena di dalam ada rentangan dan kisah sejarah, tentang pertemuan, tentang cahaya malam, dan tentang bagaimana sebuah kota tua bisa membuat seseorang ingin kembali lagi, hanya untuk merasakan ulang rasa yang sama tenang, hangat, dan penuh cerita.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia dan Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!