Dari Tutup Botol Menjadi Harapan
Wali Kota Banjarbaru Hj Lisa Halaby menerima karya lukisan berbahan dasar botol plastik dari Yoni Setiawan, penggagas Program MARKISSA. (Foto - Yoni Setiawan).
Oleh: Olpah Sari
Di tangan kebanyakan orang, tutup botol plastik mungkin hanya berakhir di tempat sampah. Benda kecil itu dianggap tak lagi memiliki nilai setelah minuman di dalamnya habis dinikmati.
Namun di sebuah sudut Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru, ratusan bahkan ribuan tutup botol justru berubah menjadi karya seni yang menyimpan cerita tentang kepedulian, gotong royong, dan harapan.
Pagi itu, Gedung Serba Guna RW 007 terlihat lebih ramai dari biasanya. Warga berdatangan membawa semangat yang sama merayakan satu tahun perjalanan MARKISSA, singkatan dari Mari Kita Sedekah Sampah.
Sebuah gerakan sederhana yang lahir dari keresahan terhadap persoalan sampah, namun berkembang menjadi gerakan sosial yang menyentuh banyak kehidupan.
Di tengah acara, perhatian hadirin tertuju pada sebuah karya seni mozaik bergambar ikon Kota Banjarbaru. Dari kejauhan, lukisan itu tampak seperti karya biasa.
Namun ketika didekati, barulah terlihat bahwa gambar tersebut tersusun dari ratusan tutup botol plastik bekas yang disusun satu per satu dengan penuh kesabaran.
Karya itu bukan sekadar pajangan. Ini adalah simbol.
Simbol bahwa sesuatu yang dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sesuatu yang bermakna.
Simbol bahwa perubahan besar sering kali berawal dari hal-hal kecil yang kerap diabaikan.
Dan simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat melahirkan kepedulian terhadap sesama manusia.
Karya tersebut diserahkan langsung kepada Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, yang hadir dalam peringatan hari jadi pertama MARKISSA.
Senyum terlihat di wajah orang nomor satu di Banjarbaru itu ketika menerima lukisan unik hasil kreasi warga dan mahasiswa STIE Pancasetia, Yoni Setiawan.
Mungkin banyak yang melihatnya sebagai sebuah karya seni. Namun bagi Yoni, setiap tutup botol yang menempel pada mozaik itu menyimpan cerita panjang tentang perjuangan membangun kesadaran masyarakat.

Perjalanan MARKISSA memang tidak dimulai dari sesuatu yang besar.
Setahun lalu, hanya segelintir warga yang percaya bahwa sampah bisa menjadi berkah. Ketika sebagian orang sibuk mencari cara membuang sampah, Yoni justru mengajak warga untuk mengumpulkannya.
Ia percaya, sampah yang dipilah dan dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama.
Awalnya tidak mudah.
Volume sampah yang terkumpul hanya sekitar 190 kilogram setiap bulan. Jumlah yang mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan timbunan sampah yang setiap hari dihasilkan sebuah kawasan permukiman.
Namun perubahan memang selalu membutuhkan waktu.
Sedikit demi sedikit warga mulai ikut terlibat. Ada yang menyumbangkan botol plastik. Ada yang mengumpulkan kardus bekas.
Ada yang menyisihkan waktu untuk membantu memilah sampah. Tanpa disadari, gerakan kecil itu tumbuh menjadi kebiasaan bersama.
Sampah yang tadinya dianggap masalah mulai berubah menjadi sumber manfaat.
Hasil penjualannya tidak masuk ke kantong pribadi siapa pun. Uang yang terkumpul dikembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan.Inilah yang membedakan program memilah sampah kebanyakan, karena MARKISSA sejatinya untuk berbagi kepada sesama.
Karena ia Bukan sekadar soal kebersihan lingkungan, demikian pula ia bukan sekadar soal ekonomi.Namun ini adalah tentang kemanusiaan, begitu sebut Yoni Setiawan.
Tentang bagaimana selembar botol-botol bekas plastik bisa berubah menjadi bantuan untuk tetangga yang kesulitan membeli kebutuhan sehari-hari.
Tentang bagaimana botol plastik yang terbuang dapat membantu meringankan beban warga yang membutuhkan.
Selama satu tahun berjalan, dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp8 juta. Angka yang mungkin tidak besar bagi sebagian orang. Namun bagi puluhan warga penerima manfaat, angka itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada nominalnya.
Sedikitnya 50 warga telah merasakan manfaat dari gerakan tersebut.
Pada peringatan ulang tahun pertama MARKISSA, puluhan tabung gas elpiji 3 kilogram kembali dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bagi sebagian keluarga, bantuan itu mungkin hanya cukup untuk beberapa minggu. Tetapi bagi mereka, bantuan itu adalah bukti bahwa masih ada kepedulian yang hidup di tengah masyarakat.
Di tengah derasnya arus individualisme perkotaan, MARKISSA menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat gotong royong belum mati.
Bahkan kini gerakan itu terus berkembang. Tidak hanya mengelola sampah anorganik, warga juga mulai mengolah sampah organik melalui program SUSTER SANTI atau Sumur Komposter Sanitasi.
Sampah dapur yang biasanya menimbulkan bau kini diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan.
Perubahan itu mungkin tidak langsung mengubah dunia. Namun setidaknya telah mengubah cara pandang sebuah lingkungan terhadap sampah.
Dan sering kali, perubahan besar memang selalu dimulai dari lingkaran kecil. Dari sebuah RT dan segelintir warga. Dari seorang mahasiswa yang percaya bahwa sampah bisa menjadi berkah.
Ketika acara berakhir, karya mozaik dari tutup botol itu masih berdiri di depan ruangan. Diam, tanpa suara.
Namun sesungguhnya ia sedang bercerita tentang kepedulian yang tumbuh dari lingkungan sederhana Tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Tentang sampah yang menemukan makna baru. Dan tentang harapan yang lahir dari benda-benda yang selama ini dianggap tak berguna.
Sejatinya kisah yang paling berharga dari MARKISSA bukanlah sampah yang berhasil dikumpulkan.
Melainkan hati manusia yang berhasil digerakkan.

