GAPKI Kalsel Dukung Penguatan Petani Swadaya

0
EDDY GAPKI KALSEL

Harapkan Harga TBS Stabil di Atas Rp3.000 per Kilogram

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Selatan menyambut positif perkembangan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit non mitra yang pada 10 Juni 2026 tercatat mencapai Rp3.270 per kilogram di sejumlah perusahaan perkebunan di Kalimantan Selatan.

Ketua GAPKI Kalimantan Selatan, Eddy S. Binti, mengatakan capaian harga tersebut memberikan harapan baru bagi petani sawit swadaya yang selama ini menjadi salah satu pilar penting dalam industri kelapa sawit nasional.

Menurutnya, GAPKI secara konsisten mendukung program pemerintah dalam memperkuat keberadaan petani swadaya melalui berbagai langkah strategis, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan koperasi, hingga pembukaan akses kemitraan yang lebih luas dengan perusahaan-perusahaan perkebunan anggota GAPKI.

“Petani swadaya memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem perkebunan sawit Indonesia. Karena itu, GAPKI mendukung penuh berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan produktivitas, kesejahteraan, dan daya saing petani sawit mandiri,” ujar Eddy S. BintI kepada Tim Economic Travelling.Com, Kamis (11/06/2026).

Ia menjelaskan petani swadaya merupakan kelompok petani yang mengelola kebun sawit secara mandiri dengan modal sendiri, mengambil keputusan usaha secara independen, serta menjual hasil panennya tanpa terikat kontrak dengan perusahaan tertentu.

Karena itu, fluktuasi harga TBS sangat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan dan keberlanjutan usaha mereka.

GAPKI Kalsel, lanjut Eddy, terus mendorong terciptanya kemitraan langsung antara koperasi petani swadaya dan perusahaan-perusahaan anggota GAPKI.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian pasar, meningkatkan kualitas hasil panen, sekaligus menciptakan sistem tata niaga yang lebih sehat dan berkeadilan.

“Kami berharap semakin banyak koperasi petani swadaya yang dapat bermitra langsung dengan perusahaan. Dengan pola kemitraan yang baik, petani memperoleh kepastian pembeli, sementara perusahaan juga mendapatkan pasokan bahan baku yang berkualitas dan berkelanjutan,” katanya.

Eddy menilai harga TBS yang berhasil menembus angka Rp3.000 per kilogram di sejumlah perusahaan menjadi sinyal positif bagi sektor perkebunan sawit daerah.

Meski demikian, ia berharap tren tersebut dapat terus dipertahankan bahkan meningkat seiring membaiknya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global.

“Kami berharap harga TBS petani dapat stabil di atas Rp3.000 per kilogram. Stabilitas harga sangat penting karena memberikan kepastian usaha bagi petani dan pelaku industri sawit secara keseluruhan,” ujarnya.

Lebih jauh, GAPKI Kalsel juga menginginkan terciptanya hubungan yang harmonis antara petani, koperasi, perusahaan, dan pemerintah.

Sinergi seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Kalimantan Selatan.

Selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, sektor sawit juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan, serta penerimaan negara dari ekspor komoditas strategis tersebut.

“Kami optimistis apabila kemitraan terus diperkuat dan harga TBS tetap kompetitif, maka kesejahteraan petani swadaya akan meningkat dan dunia usaha perkebunan sawit di Kalimantan Selatan dapat tumbuh secara stabil, sehat, dan dinamis,” pungkas Eddy S. Binti.(M.Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!