Tinta yang Tak Pernah Kering

0
PA DAYAT OK COVER UTAMA

Oleh: Muhammad Risanta

Sore itu, azan Asar baru saja usai berkumandang dari sebuah masjid di kawasan Kayu Tangi, Banjarmasin. Begitu salat  selesai Jamaah perlahan meninggalkan saf. Sebagian pulang, sebagian lagi duduk bersandar di tiang masjid, menikmati semilir angin yang berembus dari arah Sungai Martapura.

Di salah satu sudut masjid, dua wartawan senior terlihat asyik berbincang. Tidak ada mikrofon. Tidak ada kamera. Tidak ada pula rapat redaksi. Hanya dua sahabat lama yang sedang “bakisah” tentang masa lalu.

Mereka adalah Hasan Zainuddin yang akrab disapa Paman Anum dan Gusti Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pa Dayat.

Percakapan mereka terdengar sederhana. Tentang koran, tentang wartawan, tentang tokoh-tokoh pers yang sebagian besar kini tinggal nama.

Namun bagi siapa pun yang memahami sejarah media massa di Kalimantan Selatan, obrolan itu sesungguhnya adalah serpihan sejarah yang tak ternilai.

Saya duduk menyimak dan mendengarkan obrolan dua senior saya yang diposting oleh Paman Anum di sejumlah grup whatsapps wartawan dan komun

Sesekali tersenyum dan tertegun. Dalam video sederhana itu potret seorang wartawan yang telah mengabdikan hidupnya untuk dunia jurnalistik selama lebih dari setengah abad, benar-benar menyentuh.

Pa Dayat memulai karier kewartawanannya pada tahun 1969.

Bayangkan saat itu televisi belum menjadi barang umum. Internet bahkan belum lahir dalam imajinasi masyarakat. Mesin ketik masih menjadi senjata utama wartawan. Berita dikirim melalui telepon atau dibawa langsung ke kantor redaksi.

 

Gusti Hidayatullah dan Hasan Zainuddin (Paman Anum), dua sahabat sekaligus tokoh Pers Banua. (Foto – Risanta).

Di masa itulah seorang pemuda bernama Gusti Hidayatullah memulai langkahnya sebagai wartawan pada Harian Angkatan Bersenjata Edisi Kalimantan Selatan.

Dari sana perjalanan panjang dimulai.Pria sepuh ini pada zamanya meliput berbagai peristiwa. Menemui berbagai tokoh. Menyaksikan pergantian zaman.

Ketika banyak wartawan seusianya telah lama meletakkan pena dan memilih menikmati masa pensiun, Pa Dayat justru masih aktif menulis dan meliput.

Mungkin karena bagi dirinya, menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah jalan hidup.

Obrolan sore itu kemudian mengalir ke sejarah media massa di Banua.Ibarat  sebuah film scene pembuka dengan narasi sederhana penuh wibawa mengalir pelan.

Pa Dayat berkisah tentang masa-masa ketika surat kabar menjadi alat perjuangan.

Tidak banyak generasi sekarang yang mengetahui bahwa sejarah pers Kalimantan Selatan sesungguhnya berakar pada semangat mempertahankan kemerdekaan.

Pada masa revolusi fisik setelah 1945, media massa menjadi senjata yang tidak kalah penting dibandingkan senapan.

Melalui surat kabar dan majalah, semangat nasionalisme ditanamkan. Informasi perjuangan disebarkan. Rakyat diajak menolak berbagai upaya pendudukan kembali oleh NICA.

Di Banua, lahirlah berbagai media perjuangan yang menjadi bagian penting dari sejarah daerah ini.

Dari rahim itulah kemudian muncul Mimbar Mahasiswa.Media ini kelak melahirkan beberapa koran besar yang mewarnai perjalanan jurnalistik Kalimantan Selatan.

Ada Media Masyarakat, Mimbar Masyarakat, Gawi Manuntung, Indonesia Merdeka, Dinamika Berita hingga Banjarmasin Post.

Nama-nama yang bagi generasi lama bukan sekadar koran, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pa Dayat menjadi salah satu pelaku yang menyaksikan langsung perjalanan panjang itu.

Setelah meniti karier di Harian Angkatan Bersenjata, ia kemudian bergabung dengan Dinamika Berita Koran tersebut dipimpin oleh tokoh pers Banua, Jauhar Hamid.

Dalam perjalanan waktu, Dinamika Berita bertransformasi menjadi Kalimantan Post yang masih eksis hingga hari ini.

 

Foto Ilustrasi – Kepala Kantor Perwakilan BEI Kalimantan Selatan, Yuniar, bersama peserta Workshop Wartawan Daerah 2026. (Foto – Humas BEI).

Banyak cerita lahir dari ruang redaksi itu, yang menempa banyak wartawan berkualitas dan berdedikasi. Banyak peristiwa besar Banua dicatat. Dan Pa Dayat berada di dalamnya, menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah.

Ketika berbicara tentang dunia pers, Pa Dayat tidak banyak menggunakan istilah-istilah rumit.

Ia lebih suka bercerita. Tentang bagaimana wartawan dulu harus berjalan jauh demi sebuah berita.Termasuk bagaimana reporter harus sabar menunggu narasumber berjam-jam.Lalu ada cerita bagaimana sebuah berita harus diverifikasi berkali-kali sebelum naik cetak.

Bagi generasi wartawan digital saat ini, cerita-cerita itu mungkin terdengar seperti kisah dari dunia lain.

Hari ini berita bisa dikirim dalam hitungan detik Foto bisa diunggah langsung dari lokasi kejadian. Bahkan siaran langsung dapat dilakukan hanya dengan telepon genggam.

Namun satu hal yang menurut Pa Dayat tidak boleh berubah adalah Kejujuran.

“Teknologi boleh berubah, tapi wartawan tetap harus jujur,” kira-kira begitu pesan yang selalu tersirat dari setiap kisahnya.

Kalimat sederhana. Namun terasa semakin mahal di tengah banjir informasi saat ini.

Yang menjadi memorinya adalah kala itu wartawan tak sebanyak sekarang, hanya bisa dihitung dengan jari. Sehingga mereka mudah akrab dan bergaul dengan penuh kekeluargaan.

“Dulu satu mobil Hardtop cukup membawa wartawan jalan liputan ke mana-mana. Sekarang banyak sekali, zaman sudah berubah,” ucapnya mengenang masa lalu.

Saya kemudian menyadari satu hal. Sosok seperti Gusti Hidayatullah sesungguhnya bukan hanya wartawan senior.Namun pria ini adalah arsip hidup. Living archive.

Perpustakaan berjalan yang menyimpan begitu banyak cerita tentang perjalanan pers Banua. Karena mengenal tokoh-tokoh yang membangun fondasi media massa Kalimantan Selatan.

Satu yang penting adalah Pak Dayat menyaksikan langsung bagaimana koran-koran lokal lahir, berkembang, bersaing, lalu beradaptasi menghadapi era digital.

Dari mesin ketik hingga kecerdasan buatan. Dari koran hitam-putih hingga media sosial. Dari berita yang terbit keesokan hari hingga informasi yang menyebar dalam hitungan detik.

Semua fase itu pernah ia lalui. Dan yang menarik, semangatnya tetap sama, yakni menulis.

Renungan saya pun terhenti begitu video yang dibagikan Paman Anum selesai durasi tayang. Tentunya sebagai salah satu wartawan generasi empat tingkat dibawah beliau, saya memandang sosok Pa Dayat dengan perasaan hormat.

Tidak semua orang diberi kesempatan menjadi saksi perjalanan zaman.

Lebih sedikit lagi yang mampu bertahan melintasi begitu banyak perubahan. Namun Gusti Hidayatullah melakukannya. Selama lebih dari lima dekade, ia menjaga nyala kecil bernama jurnalisme, yang tak pernah padam.

Di tengah dunia yang terus berubah, sosok seperti Pa Dayat mengingatkan kita bahwa inti dari profesi wartawan sesungguhnya sederhana.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Gusti Hidayatullah, saya percaya tinta pers Banua tidak akan pernah benar-benar kering.

Sebab di balik setiap lembar sejarah yang kita baca hari ini, ada wartawan-wartawan yang diam-diam menuliskannya.

Dan salah satu nama yang layak ditulis dengan tinta penghormatan itu adalah Gusti Hidayatullah.

*Penulis Adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!